Pict Source: cnnindonesia.com

Sebelumnya kami ucapkan, Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H semuanya !

Berbicara tentang tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, katanya ketiga hari ini merupakan hari nya makan dan minum. Artinya kita tidak boleh menunaikan ibadah puasa sunnah pada hari tersebut.  Ceritanya pada hari Tasyrik yang bertepatan pada bulan Dzulhijjah ini merupakan hari raya nya orang islam kedua setelah Idul Fitri pada bulan Syawal. Pada hari tersebut umat islam yang menunaikan ibadah haji sedang melakukan lempar jumrah di tiga tempat dan bermalam di Mina. Selain itu pada bulan Dzulhijjah ini umat manusia sangat dianjurkan untuk berdzikir dan bertakbir kepada Allah setelah menunaikan sholat wajib.

Kali ini, seperti biasa aku melakukan kegiatan rutin sebagai pemula untuk belajar membiasakan oret-oret di halaman baru. Harapannya sih biar bisa menjadi motivasi di masa yang akan datang ehe. Belum juga dapat satu paragraf, adzan di mushollah sebelah rumah sudah memanggil. Oke aku tutup sejenak laptopku dan mulai menengok sajadah usang yang terpasang di mushollah. 

Sedikit mellow rasanya pada siang hari ini. Aku melihat Nafis yang masih bersekolah di bangku TK, putra dari salah satu tetanggaku, melantunkan sholawat atau pujian untuk menunggu jamaah datang ke mushollah. Aku bergegas berlari ke arah mushollah karena takut tertinggal di rakaat pertama. Karena biasanya tidak terlampau lama pujian di lantunkan kemudian dengan cepat imam memulai sholat berjamaah. Pada saat itu di shof belakang hanya ada aku, dan di shof paling depan hanya ada Nafis. Rasa bangga tersendiri melihat Nafis, generasi muda yang masih bersemangat untuk menuju mushollah berdebu di siang hari yang sangat terik. 

Rupanya siang ini tidak seperti siang-siang yang telah lalu. Lima belas menit pertama belum juga ada suara jamaah yang menyalakan kran depan mushollah untuk mencuci kakinya . Ditambah lagi dengan kipas yang sedikit rusak membuat semakin gerah isi mushollah. Aku pun masih sibuk memandang sudut kanan belakang dan sedikit membayangkan ada sosok nenek tua yang dirindukan salah satu cucunya. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, ada satu mbah kung yang sudah lumayan sepuh masuk dari gerbang samping mushollah. Gak begitu asing sih karena rupanya mbah tersebut adalah ahli jamaah di desaku. Namun karena aku terlalu lama gak menetap di desa, kebanyakan rantau, jadi kurang mengenal nama-nama penduduk disini, yah kecuali sebalah samping kanan kiri depan belakang rumah dan mushollah aja hehe

"uhuk uhuk" tiba-tiba Nafis terbatuk di tengah-tengah ia pujian. Entah karena ia sedang sakit atau karena terlalu lama sholawat yang ia lantunkan. Sampai ada salah satu tetanggaku datang dan bilang "wis le ojo diterusno pujiane, sampek watuk koyok ngunu.. maringene paling teko imam e" (sudah le, jangan di lanjutkan pujiannya sampai kamu terbatuk gitu, mungkin habis ini imamnya datang). Begitu kira-kira yang diucapkan Budhe Ris kepada Nafis. Aku kira budhe akan ikut jamaah sekalian, namun ternyata dugaanku salah. Budhe hanya ingin berbicara kepada Nafis. Setelah mbah kung menunaikan sholat sunnah dua rakaat, mbah kung tiba-tiba keluar masuk pintu mushollah, mungkin ingin memastikan ada atau enggak nya jamaah yang akan hadir lagi. Namun jarum jam sudah melewati angka 30 menit setelah adzan dikumandangkan. Akhirnya mbah kung memutuskan untuk menjadi imam dengan dua makmum, aku dan Nafis. Dengan sedikit tertatih mbahkung memulai sholat dengan sangat hati-hati. Karena sudah terlalu sepuh sehingga mengurangi kelincahan dalam berdiri dan bersujud. Akhirnya setelah rokaat pertama berlalu, ada dua orang jamaah yang mengisi shof di depan dan di sebelahku. Alhamdulillah.

Setelah sholat jamaah selesai, ada rasa bangga dan sedih dari diri aku pribadi. Rasa bangganya adalah aku masih di beri kesempatan mengumandangkan takbir di hari tasyrik yang ketiga bersama mushollah tempat ternyaman mbah siti sebelum meninggalkan kami. Namun rasa sedihnya, ditengah sepinya lantunan wirid sesudah sholat berjamaah membuat aku termenung dan tiba-tiba ingat sosok nenek tua yang selalu bersandar ditempat yang dari awal sudah nyaman aku pandangi sejak aku memasuki mushollah. Yah itu adalah tempat mbah siti tiap berjamaah. Mbah siti adalah ibu dari buya yang sudah 4 tahun ini meninggalkan kami. Di mushollah ini pun mbah siti mengakhiri hidupnya. Di mushollah ini mbah siti juga di sholatkan untuk yang terakhir kalinya. Tidak hanya itu, di mushollah ini pun aku melihat wajah bersinar dan wajah cantiknya mbah siti sebelum berangkat ke pemakaman. Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa'afiha wa'fuanha. Semoga mbah siti ditempatkan di sayap-sayap syurga yang penuh kasih sayang Allah sepanjang masa. Mbah, aku buya muya dan adek-adekku semua rindu :') Sangat rindu ! Bahkan setelah mbah siti tidak lagi mengikuti jamaah disini, tapi suasana mushollah tetap seperti dulu, tetap seperti masih ada nafas mbah siti yang mendoakan kami.

Kita tidak akan pernah tau disisi mana Allah akan menempatkan kita sebagai hamba yang dapat membawa manfaat kepada sesama, sampai akhirnya kelak hanya nama yang ditinggalkan dan amal yang dibekalkan. Hari ini tepat tiga hari kita meninggalkan tanggal 10 Dzulhijjah. Sebagai orang muslim seharusnya dapat memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Semoga setiap hari menjadi hari bersyukurnya hati dan beramal kebajikan. Tidak ada yang bisa menilai tolak ukur keimanan seseorang, hanya berusaha menjadi lebih baik yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah membiasakan dan memukul pundak kita untuk tetap mengisi baris di mushollah, meskipun usang tapi insyaAllah membawa ketenangan. Seperti ketenangan di siang hari ini, sangat tenang. Mungkin saja hari ini masih banyak yang melakukan ibadah berkurban di tempat kerja masing-masing, sehingga lantai mushollah masih kering tiada jejak bekas air wudhu dari jari-jari kaki.
Sekian- 

Akan menjadi takut saat selalu memaksakan untuk berbunga
Akan menjadi sulit saat selalu memaksa untuk rela
Kemudian dari sisi mana engkau akan tumbuh ?
Sedikit perlahan, mulailah bersahabat dengan hijaunya alam
Mulailah menantang mentari dan menyapa hujan
Mencoba tidak memaksa untuk menghadang badai yang selalu menakutkan
Kita memang tidak akan pernah tahu
Sekuat apa kelak kita mempertahankan
Tapi pelan-pelan kau akan melihat bintang saat kegelapan datang
Kemudian melihat sinar saat fajar tenggelam
Bertemu badai ditengah jalan? sapalah ia dengan kekuatan
Kekuatan lebih besar yang datang dari sang Maha pemberi kasih sayang
Mungkin kita tidak akan bisa setajam hitamnya tinta dalam menyerahkan diri kepada kisah
Tapi kita punya naluri untuk berpasrah sepenuh jiwa
Semoga selamanya rasa kuat dan rela bisa membawa kita menjadi kaffah

Refleksi diri menjelang Yaumun Nahr-


PK-144 Bersama PIC dan tim LPDP

"Kita bertemu untuk dipisahkan, dan kembali membawa kemenangan"
Juli 2019,
Kegiatan yang tidak asing bagi kami, penerima beasiswa LPDP untuk melakukan Persiapan Keberangkatan (PK). Katanya, ini kegiatan paling menyedihkan. Karena kita dipertemukan untuk dipisahkan. Begitu kata mas muklis, MC kondang PK sepanjang abad. Kalo dilihat dari pesan tersirat yang selalu disampaikan oleh perwakilan angkatan kepada kami, PK ini bertujuan agar kita bisa bermain bersama dengan antar awardee, saling sayang dengan tim LPDP, dan juga saling ambil pengalaman dan ilmu dari tokoh-tokoh kelas atas yang hadir pada acara PK kali ini.

Rasa cinta itu tumbuh dengan cepat diantara kami. Kegiatan PK berlangsung dari tanggal 22-29 Juli 2019. Persis dua hari sebelum PK kami bertemu di gedung PBNU Jakarta untuk melakukan segala persiapan menjelang hari yang katanya super kaku dan terjadwal ketat. Istimewanya, aku merasakan kehangatan pada perjumpaan pertama, duh dekk !. Kalian begitu akrab secara cepat. Aku merasakan hal yang beda saat kita bisa berkumpul dan memutuskan untuk melakukannya bersama dengan sepenuh rasa.  Dua hari di gedung PBNU kami manfaatkan untuk latihan, mempersiapkan dekorasi ruangan, dan mempersiapkan penampilan by you for you yang memang dimandatkan kepada kami, peserta PK.

Tepat pada hari Senin, 22 juli 2019 pukul 07.30 WIB kami mulai menyebrang jalanan Jakarta yang lebarnya bisa buat parkir enem kapal pesiar haha. Karena kebetulan lokasi PK kami berada di Hotel Acacia, sebrang jalan dari gedung PBNU Jakarta Pusat. Lumayan ngirit, karena mobilisasi menuju lokasi hanya butuh tukang penyebrang jalan, yang kebetulan pun dari teman-teman kita, ehe.

Hari pertama, lumayan berkeringat dingin, grogi mungkin yah. Karena dari aku pribadi, ini adalah awal aku melangkah di salah satu mimpi terbesar dalam 22 tahun ini. Pagi ini dan sampai selanjutnya, harus kutata niat bersih agar bisa ikhlas dan bahagia dalam menjalani. Karena menjadi penerima beasiswa LPDP Afirmasi Santri 2019 dimulai pada hari ini, kataku pada saat itu. Kami mulai memasuki hotel dengan pakaian rapi dan disambut langsung dengan peraturan-peraturan yang harus kami taati dalam menjalankan kegiatan PK kali ini. 'Berkumpulnya per kelompok yah, nanti ketua nya akan kasih tau beberapa hal penting", kata mas Gilang selaku ketua angkatan kami.

Setelah beberapa keperluan kelompok kecil dibagikan kepada kami, kami mulai memasuki ruangan megah berlampu kristal modern dengan pencahayaan yang mewah. Tidak hanya itu, banyak tim LPDP yang sudah sangat ramah menyambut kedatangan kami. Namun tidak berlangsung lama, lampu-lampu tersebut padam seiring dengan semakin kerasnya suara musik yang mengharuskan kita untuk ikut bernyanyi dan melompat lincah. Deg ! pas tau mikrofon uda ada di depan wajah karena petugas LPDP mengajakku untuk maju kedepan ikut bernyanyi. Aku masih ingat, salah satu lagu yang membuat semua bersorak adalah 'Ku Petik Bintang' yang dibawakan oleh Sheila on 7. Parah, suasananya sangat pecah ! Rasa bahagia dan syukur yang sangat dalam bisa aku lihat dari wajah keluarga baruku, keluarga PK-144. Setelah itu, kami langsung mendengarkan sambutan istimewa dari PIC PK, Bapak Rafi. PIC dan tim LPDP merupakan satu bagian kecil dalam kepengurusan PK LPDP yang setia melakukan pendampingan dan koreksi terhadap persiapan acara kami. Beliau memaparkan susunan acara dan peraturan selama kegiatan PK berlangsung. Salah satu kewajiban peserta yang paling aku suka adalah harus mengnonaktifkan ponsel selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut mengharuskan kami untuk fokus selama acara.

Singkatnya, dalam lima hari kegiatan PK selalu dimulai pada pukul 05.10 WIB dan berakhir pada pukul 22.00 WIB. Belum lagi mengerjakan daily report yang harus selesai sebelum pukul 03.00 WIB keesokan harinya, yang membuat kami lembur sampai menjelang pagi. Selain itu, ada juga hal baru bagi kami untuk melakukan absensi tiap sesi. Tiap peserta wajib menempelkan stiker smiley pada kolom yang disediakan dan tidak boleh diwakilkan. Ketika lagu Classcall bunyi, itu bertanda kami semua harus bersiap untuk memasuki ruangan. Agenda sangat padat. Waktu break hanya untuk sholat dan menyantap snack yang telah tersedia di depan ruangan. Tidak ada waktu untuk leyeh-leyeh di kamar, apalagi tidur siang hihi. Bahkan izin ke toilet aja pake kartu, biar izinnya ga grombolan sih.. antisipasi rumpi di kamar mandi hehe . Terkecuali untuk ibu hamil dan menyusui ada waktu khusus untuk mereka pergi ke kamar mandi.

Sepanjang PK berlangsung, ada banyak pemateri yang didatangkan oleh tim LPDP untuk kami. Diluar ekspektasi ! Pemateri-pematerinya high class semua. Syukur yang sangat dalam kami panjatkan karena kami bisa bertemu, berdiskusi dan mendapatkan ilmu secara langsung dari orang-orang hebat yang mempunyai semangat dalam memberikan kontribusi sangat besar bagi kemajuan segala bidang di Indonesia. Di hari ke empat yang ga kalah seru, kami berangkat ke Bandung. Kece banget ! kami dihadirkan beberapa perahu angin ehe Yay, today is rafting time. Kemudian dilanjutkan mengunjungi salah satu pesantren yang mengaamalkan "tarekat sayuriyah" hehe. Pesantren Al-Ittifaq namanya. Terletak di Ciwidey Bandung yang diasuh oleh KH. Fuad Affandi. Pesantren tersebut memiliki keunggulan dibidang agribisnis. Beberapa hasil kebun pribadinya dapat dipasarkan kedalam supermarket besar di kota Bandung. Banyak dawuhan yang di berikan oleh mang aji, panggilan akrabnya, kepada kami semua. Ringkasan pesan yang disampaikan kepada kami tentunya agar kami dapat mempersiapkan masa depan yang tegas dan percaya diri. Karena santri harus bisa menempatkan diri dimanapun dan kapanpun, dawuh beliau. Terimakasih mang, semoga selalu diberi umur dan rizki yang barokah Amin.

Tak terasa, tanggal 29 Juli sangat cepat menghampiri. Kayaknya baru kemarin perkanalan di gedung PBNU, sekarang uda hari terakhir PK aja. Tepatnya hari Jumat, seperti biasa acara dimulai pada pukul 05.10 WIB. Materi hari pertama masih berjalan seperti biasa. Menjelang pukul 14.00 WIB suasana semakin layu, namun tetap dengan semangat yang sama. Satu dua prosesi penutupan kami lakukan. Diawali dengan pembacaan kategori peserta ter bla bla bla, kemudian pembacaan doa khotmil Quran, dan pemotongan tumpeng oleh PIC dan tim LPDP. Tidak lupa ditutup dengan sambutan dari ketua angkatan PK-144 Mas gilang dan juga PIC PK LPDP Bapak Rafi. Sisa waktu terakhir digunakan untuk saling meminta maaf dan berpelukan menumpahkan kesedihan. Masih sangat ingat betul, bagaimana wajah mereka pertama kali bisa mengambil keseluruhan hatiku untuk ku bagi dengan rata. Sekarang, udah mau pisah aja buat berangkat ke kampus tujuan masing-masing. Rek, aku rindu hari itu !

Tidak akan bisa singkat jika aku harus mengisahkan kehebatan kalian, kasih sayang kalian, dan pelukan-pelukan kalian. Berjalanlah sejauh mungkin, karena di kilo meter berapapun wajah dan lambaian tangan kalian masih aku dapatkan.
Teruslah berjuang demi Indonesia yang kaya dengan warna
Demi Indonesia yang kaya dengan laut
Demi Indonesia yang kaya dengan sawah
Demi Indonesia yang kaya dengan hutan
Demi Indonesia yang kaya dengan budaya
Demi Indonesia yang kaya dengan cinta
Dan demi Indonesia yang menjadi tempat aku, kamu, kalian kembali.

Mbak, Mas, keluarga PK ku semua.. titip doa untuk aku yang hanya bisa jadi embun dikala hujan sudah turun. Salam metamorfosa dariku, adik kandung dari lain ibu dan ayah tapi tetap satu darah.


Cantrikabhinaya Nagarajaya ! Indonesia, Aku pasti mengabdi. 


Sultan Baabullah


OASE

PK-144 Bersama Bpk Rionald Silaban

PK-144 Bersama Habiburrahman El Shirazy dan Gus Prie GS

Kunjungan ke Pondok Pesantren Al-Ittifaq


pict source: Gurusiana.id

Gelap- tapi bisa saling menerangi. 
Baru kali ini aku menemukan satu hal yang baru. Aku berani berkisah, menceritakan seluruhnya kepada wanita yang aku anggap sebagai bidadari sepanjang masa. Tentang kedewasaan, tentang yang tepat pada pendiriannya, tentang yang lincah dalam keakrabanya, tentang yang disiplin dalam tanggung jawabnya, terlebih tentang semangatnya yang selalu membuat aku semakin ingin mencari tau apapun itu. Yah ! I found the new soul in another page. 
Disisi lain, aku takut untuk kembali pulang. Rumah yang dulu pernah membuat aku nyaman. Aku bisa memanggilnya pembelajaran sepanjang masa yang hampir mempunyai mimpi yang sama. Aku merasa abu-abu. Aku berada di satu sisi yang membuat aku takut untuk kembali. Yah, aku hanya butuh lebih mendekatkan diri. Karena aku tak punya kuasa dalam menggerakkan hati. Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikmannashir. Laahaula walaa quwwata illa billah. 

Kemudian, perlahan aku ingin bersikap layaknya kubangan air di padang pasir. Aku memaksakan, tapi aku merasa kehilangan. Mungkin lagi lagi aku sedikit jauh dari sang pemberi harapan. Ya Allah Forgive me--
Di tahun 2019 ini, dan sebelum aku mengakhirinya aku akan berjanji. Aku ceritakan harapan kisah indahku yang akan berlangsung di masa depan, yang akan berkisah di masa yang tidak pernah aku bayangkan. Dengan dia yang selalu membuat aku ingin mendekatkan diri kepada sang Maha Pemberi kejutan. Sebagai wujud syukur karena aku telah didatangkan seseorang yang bisa menopang dan megokohkan akar layu ku di sepertiga malam.

Sedikit pembelajaran untuk hal yang luar biasa tidak pernah tertanam dengan sempurna. Untuk hari esok dan hari-hari selanjutnya. Aku ingin belajar dari rasa. Rasa yang tak pernah ingin ku ulangi lagi, untuk terjebak dalam ketidak adilanku bersama Tuhan. 

Khawatir Pulang

by on Agustus 01, 2019
pict source: Gurusiana.id Gelap- tapi bisa saling menerangi.  Baru kali ini aku menemukan satu hal yang baru. Aku berani berkisa...
Halo Scho Hunter !
Kalo ngomong tentang Beasiswa, pasti udah gak asing denger sertifikat bahasa sebagai syarat utama seleksi administrasi. Dan ceritaku kali ini memutuskan untuk ikut tes TOEFL ITP tidak lain karena aku ingin daftar salah satu beasiswa bergengsi di Indonesia, yah beasiswa LPDP.

Butuh effort yang lebih buat dapetin score yang aku inginkan (karena dulu ngga pernah serius buat belajar bahasa asing, akhirnya sekarang menyesal :( jangan di contoh). Kalo jasa atau penyedia tes TOEFL sebenernya sangat banyak. Tapi pada saat itu aku mencari yang certified ETS, artinya dia dikeluarkan langsung dari Amerika Serikat. Menurutku sih paling aman emang ikut tes TOEFL ITP yang di keluarkan oleh ETS, karena kalian bakal dapat keuntungan yang lebih. Selain itu karena beasiswa LPDP syaratnya pakai sertifikat tersebut. Namun jika kalian mendaftar beasiswa dengan sertifikat bahasa asing yang tidak certified ETS, kalian bisa tes di beberapa lembaga yang menyediakan tes TOEFL jenis Proficiency. Harganya lebih murah, jenis soalnya juga lebih mudah ehehe.

Jika kalian belum tau jadwal penyelenggara tes TOEFL tersebut, kalian bisa klik "jadwal tes TOEFL ITP" di google, terus klik hasil paling atas (website IIEF) atau kalian bisa klik disini. Di halaman tersebut kalian bisa tau nomor telepon penyelenggara dan kapan akan dilaksanakan tes TOEFL ITP terdekat di kota kalian masing-masing.

Kuota tiap tes TOEFL ITP biasanya hanya 20 peserta, jika sudah penuh kalian akan di alihkan ke periode berikutnya. Selain itu score nya bisa keluar kurang lebih 14 hari kerja, jadi bagi kalian yang membutuhkan score cepat, pertimbangkanlah sebelum memilih tanggal tes. Agar score dapat keluar sebelum penutupan pendaftaran beasiswa.

Harga TOEFL ITP bervariasi. biasanya sekitar Rp.450.000-550.000. Persyaratan pendaftaran hanya mengisi formulir, identitas diri (KTP/SIM/Pasport), dan foto 3x4 (optional). Selain itu yang paling penting adalah belajar sebelum perang haha.

TOEFL ITP terdiri dari tiga bagian tes. Ada listening, sructure, dan reading. Mereka merupakan saudara yang tak dapat dipisahkan. Karena jika salah satu bernilai rendah, maka akan berpengaruh besar pada hasil akhir score yang kalian dapatkan :')

Untuk beasiswa LPDP, ada beberapa score minimum yang ditentukan bagi pendaftar:
Beasiswa Reguler Dalam Negeri
Magister : TOEFL ITP 500
Doktoral : TOEFL ITP 530

Beasiswa Afirmasi Dalam Negeri
Magister : TOEFL ITP 400
Doktoral : TOEFL ITP 450

Kuncinya kalian harus sering berlatih, agar tidak gugup dengan macam soal yang diberikan. Karena waktu yang diberikan pada saat tes akan terasa semakin cepat dari biasanya (padahal ya jumah menitnya normal haha grogi mungkin ya). Bahkan tiap pagi setelah sholat subuh aku selalu dengerin audio listening. Entah dari youtube, lagu yang berbahasa asing, bahkan sampai aku download film yang tanpa subtitle. Semua itu sengaja aku tekuni menjelang ikut tes TOEFL ITP.

Kalian harus mempersiapkan dengan matang. Mengikuti beberapa kali les salah satu usahaku sebelum memutuskan untuk mengikuti real test. Selain itu kalian juga bisa membeli buku latihan soal-soal TOEFL, agar kalian terbiasa dengan berbagai macam soal. Pengalaman pribadiku, aku sampai mengikuti tes TOEFL ITP sebanyak 4 kali, karena selalu gagal mendapatkan score yang menjadi target beasiswaku. Tapi jangan kuatir, jika kalian bersungguh-sungguh dan optimis, maka kalian akan mendapatkan score itu dengan mudah.

Tips pada saat pelaksanaan tes:
- Bawa persediaan alat tulis lebih dari satu
- Bawa persyaratan pada saat pendaftaran (identitas dan kuitansi pembayaran)
- Fokus pada saat listening, usahakan duduk di dekat sound agar pendengaran tidak terganggu)
- Manfaatkan waktu pada bagian structure dan reading untuk memaksimalkan jawaban. Karena pada saat itu aku dapat menyelesaikan reading lebih cepat, jadi sisa waktunya aku gunakan untuk melengkapi jawaban structure yang sudah aku beri tanda dan belum aku isi di lembar jawaban.
- Tips mengerjakan reading, baca dulu soalnya baru memahami bacaannya, dari hal kecil tersebut aku dapat menyelesaikan reading lebih cepat dari waktu yang di sediakan.

Sekian dulu pengalamanku sebagai score hunter haha, semoga bermanfaat !



Berbicara tentang santri, ia tidak akan lelah dalam mencari ilmu.

Surabaya, 29 Mei 2019.
Penerima Beasiswa LPDP RI Jalur Afirmasi Santri mendapat kesempatan menjadi bintang tamu dalam acara “Sahur Bareng Abioso & Friends” di studio TV9 Surabaya. Acara tersebut ditayangkan secara live menjelang sahur di Bulan Ramadhan pada pukul 02.00 WIB. 

Diawali dengan hiburan khas berupa lawakan dari Cak Silo, Cak Sarip Abioso dan juga tim, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai beasiswa yang diberikan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kepada seluruh santri, pengajar, dan pengasuh pondok pesantren di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Muammar Khadafi Panggabean, S.T (Awardee Curtin University of Australia) dan juga Royyan Faradis, S.Si (Awardee Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya) memberikan informasi mengenai beasiswa yang mereka peroleh pada Jalur Afirmasi Santri.

Beasiswa tersebut release pada Bulan Desember 2018. Sehingga masih sangat baru bagi masyarakat khususnya bagi para santri ataupun pengurus pesantren dalam mengetahui informasi tentang beasiswa yang menjadi incaran utama para scholarship hunter ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa santri juga termasuk salah satu bagian yang ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan dan mencerdaskan Bangsa Indonesia. Santri harus bisa berada dimanapun dan dalam posisi apapun. Oleh karena itu, LPDP RI memberikan akses kepada para santri, pengajar ataupun pengasuh pondok pesantren dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan juga doktoral. Dengan harapan santri dapat mewujudkan impian Bangsa Indonesia dan menyumbangkan kontribusi nyata yang lebih baik kepada Bangsa Indonesia di masa depan.

Kalian santri ? Tunggu apa lagi. Yuk daftar Beasiswa LPDP !






Pra-Persiapan Keberangkatan LPDP Afirmasi Santri 2019


Bulan Maret 2019, Pengumuman kelolosan tahap substansi sudah nampak. Aku ucapkan selamat bagi kalian yang menerima email kelolosan dan menjadi Penerima Beasiswa Afirmasi Santri yang pertama. Beberapa WhatsApp grup pun terbit, bukan hanya grup besar tapi juga grup regional. Dan aku yakin setelah ini akan ada banyak grup divisi dan kepentingan lainnya. Katanya sih biar saling sayang hehe

Tidak menunggu lama, ada pemberitahuan lewat email bahwa kita akan mendapatkan kegiatan wajib yakni Persiapan Keberangkatan (PK) sebagai pintu awal menjadi calon Awardee LPDP. Tapi entah kapan akan berlangsung--

Eh, pas lagi asik makan roti sama adek bungsu, ada email masuk dari PIC PK. Nah, PIC PK ini sebutan bagi bapak pengasuh (biar khas pesantrennya masih terasa, sebut saja pengasuh) persiapan keberangkatan kita. Beliau bernama bapak Shabahul Arafi. Sekitar tanggal 16 April 2019, PIC menyampaikan bahwa aku dan salah satu anggota lainnya, Bapak Sobari namanya, terpilih menjadi Moderator Milis yang akan mempunyai mandat untuk memasukkan 114 anggota kedalam satu grup dan juga sebagai operator jika ada diskusi di media tersebut. Oke, aku yang awam dengan dunia maya bergengsi itu mulai kepo apa arti dan fungsi milis ke eyang google. Aku yakin teman-teman yang lain juga pada kebingungan dengan penggunaan milis Muehehe. Akhirnya hanya menunggu sehari, aku bisa menyelesaikan mandat pertama, yakni memasukkan 114 email kedalam grup daring tersebut. Hamdalaaaah~

Tidak menunggu lama, kita melakukan beberapa diskusi via milis. Namun, tak lepas juga dengan WhatsApp grup yang selalu bunyi per sekian detik. Karena mereka lebih nyaman menggunakan media WhatsApp dari pada buka milis karena membuat isi inbox email penuh hahaha. Sebenarnya diskusi daring via milis ini sifatnya sakral sih. Karena kita di tuntut untuk bisa aktif dan responsif. Kita harus andil memberi komentar, saran, tanggapan tiap ada topik baru di milis. Karena jika kita pasif, hal tersebut bisa jadi pertimbangan PIC untuk memindahkan kita ke PK selanjutnya, ceunaaah~

Singkat cerita, pemilihan perwakilan angkatan (PA) dan jajarannya, pemilihan nama angkatan, maskot, logo, tema dan yang lainnya sudah berlangsung. Penuuuhh drama, aku masih sangat ingat harus menyelesaikan hampir sampai pukul 02.00 WIB jika harus mengumpulkan berita acara. Kedengarannya biasa, tapi kalo dibarengi sama rasa deg-deg an pasti jadi beda ! Yahkannnn ?

Sementara itu, untuk menumbuhkan bonding yang tidak biasa, kami merapatkan barisan untuk melakukan kegiatan Pra-PK yang sebelumnya sudah di QC kan kepada PIC PK, Bapak Rafi dan tim LPDP. Kegiatan Pra PK kami berupa kopi darat dan juga talkshow antar regional. 

Acara berlangsung sangat cepat. Karena kebetulan Bulan Mei sudah memasuki bulan Ramadhan, jadi mayoritas regional mempercepat menyelesaikan kegiatan tersebut. Katanya sih biar talkshow nya banyak masa hehe kan anak pondok masih belom pulang :)))). Bulan Maret pengumuman, Bulan April masuk milis, Bulan Mei kopi darat dan juga talkshow. Alhamdulillaaah berkah. Regionalku terdiri dari Jawa Timur-Bali-NTB. Kita memutuskan untuk kopi darat pada tanggal 19 Mei 2019 dan lanjut talkshow pada tanggal 26 Mei 2019. Begitupun dengan regional Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Baik talkshow online maupun ofline, mereka menyelesaikan pada bulan Mei semua. Proud of you, rek !

Lokasi talshow regional kami disepakati di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang. Biasanya sih panggilan akrabnya Pondok Gasek ehe. Dua pemateri kegiatan talkshow  adalah mba Lely Tri Wijayanti, M.A. Awardee Lancaster University, UK dan ibu Siti Jubaidah, M.Pd Awardee LPDP di UIN Malang dalam jenjang S2 sampai S3. Kereeeeen !!

Kegiatan ini di hadiri hampir semua anggota penerima beasiswa regional Jawa Timur-Bali-NTB. Peserta yang hadir ialah mahasiswa/i sekitar Malang, Surabaya, bahkan Blitar. Subhanallah Antusias para santri Scholarship Hunter sangat luar biasa. Aku yakin, mereka pun ingin membuktikan bahwa santri juga tidak kalah luar biasanya jika bersaing mendapatkan beasiswa ! 

Setelah acara berlangsung, seluruh panitia melakukan sowan ke ndalemnya KH Marzuki Mustamar yang merupakan pengasuh PonPes Gasek. Sambutan yang sangat romantis, beliau tidak lupa memberikan pesan untuk masa depan kami. Yang paling berbeda, beliau mengajak kami untuk mengaji singkat salah satu kitab yang beliau berikan kepada kami 'secara gratis'. Pesan yang selalu beliau ucapkan kepada santri nya dimanapun berada ialah "Dadio santri sing gak lali Indonesiane" (sedikit ada perubahan redaksi, namun maknanya tetap sama). MasyaAllahhh maturnuwun Yai.. Itulah salah satu hal yang selalu saya rindukan ketika mengunjungi ndalemnya para kekasih Allah. Ketika pulang, selalu ada bekal ilmu yang kami terima. Semoga Allah senantiasa memberikan umur yang panjang serta rizki yang barokah kepada guru-guru kami semua, Amin. 

Pukul 15.00 WIB acara selesai tidak lupa ditutup dengan foto bersama dan sholat ashar berjamaah. Namun tidak semua bertahan, karena beberapa dari kami harus sudah sampai di stasiun Malang kota baru pada pukul 14.45 WIB. Terlihat bahagia dari seluruh wajah teman-temanku. Mungkin karena acara sudah selesai dan berjalan dengan lancar, juga dengan jumlah peserta yang datang lumayan membanggakan Hehe. Tapi aku yakin, diluar dari pada itu mereka bangga telah menemukan keluarga barunya untuk dua tahun bahkan selamanya untuk masa yang akan datang. 

Alhamdulillah, berkah santri, berkah kyai. 
Teruslah berdoa untuk ku, Adik bungsumu. 
Karena kalian semua sudah menjadi sebagian dari cerita bermakna ku, maka dari itu pupuklah jangan sampai layu. Aku akan menemuimu kelak ketika semua subur dan tumbuh, bahkan ketika dahan dan akarku mulai rapuh.. 


Talkshow Regional Jatim-Bali-NTB


Mereka menyebutnya Pra-PK

by on Mei 30, 2019
Pra-Persiapan Keberangkatan LPDP Afirmasi Santri 2019 Bulan Maret 2019, Pengumuman kelolosan tahap substansi sudah nampak. Aku ucapkan se...