Pagi Penuh Inspirasi: Menyelami Leadership dan Entrepreneurship dari Direktur LPDP (PK-270 Part 1)
Selasa, 3 Februari 2026, sesi materi Leadership dan Entrepreneurship menjadi salah satu agenda pembuka dalam kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) penerima beasiswa LPDP angkatan 270 yang diselenggarakan di Hotel Acacia Jakarta. Materi ini disampaikan oleh Ir. Dwi Larso, MSIE., Ph.D., Direktur Beasiswa LPDP sejak tahun 2020.
Beliau dikenal memiliki rekam jejak akademik yang kuat sebagai dosen dan akademisi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pendidikan sarjana beliau tempuh di Teknik Industri, kemudian melanjutkan studi Master of Science in Industrial Engineering (MSIE) serta Ph.D. di Oregon State University, Amerika Serikat. Sebelum menjabat sebagai Direktur Beasiswa LPDP, beliau aktif dalam dunia pendidikan dan manajemen akademik, termasuk pernah memimpin Program MBA SBM ITB. Di bawah kepemimpinannya, LPDP terus memperluas akses beasiswa, memperkuat kualitas seleksi, serta menekankan bahwa awardee tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki komitmen untuk kembali dan berkontribusi bagi Indonesia.
Pada awal sesi, beliau tidak langsung membahas kebijakan atau program LPDP. Sebagai pengantar, beliau menampilkan video aktivitas pribadi seperti bermain sepak bola, berlari, mendaki gunung, hingga kunjungan ke daerah terpencil. Pembukaan ini menegaskan bahwa kepemimpinan dan ketangguhan tidak terbentuk secara instan di ruang formal, melainkan melalui pengalaman hidup yang nyata.
Sejak beliau menjabat, perkembangan LPDP cukup signifikan. Dana abadi yang pada 2019 berada di kisaran Rp51 triliun meningkat menjadi sekitar Rp181 triliun pada 2026. Peningkatan ini menunjukkan pengelolaan dana yang semakin baik sekaligus meningkatnya kepercayaan negara terhadap LPDP sebagai investasi jangka panjang di bidang pendidikan. Jumlah penerima beasiswa pun terus bertambah, baik program degree maupun non-degree, disertai inovasi kebijakan yang menyesuaikan kebutuhan pembangunan nasional.
Dalam paparannya, beliau juga banyak berbagi pengalaman pribadi. Beliau tumbuh di lingkungan sekitar Stasiun Tawang Semarang yang memiliki dinamika sosial cukup keras. Dari situ beliau belajar tentang pentingnya integritas — tetap menjaga nilai dan prinsip meskipun berada dalam kondisi yang tidak ideal. Menurut beliau, integritas justru ditempa ketika seseorang menghadapi tantangan, bukan saat situasi sudah nyaman.
Dari sisi akademik, beliau dikenal konsisten berprestasi sejak sekolah. Saat SMA, beliau sempat diterima di sekolah negeri dan swasta, namun memilih sekolah swasta karena peluang beasiswa lebih besar. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan juga berkaitan dengan kemampuan membaca situasi dan mengambil pilihan rasional. Pada masa itu pula beliau mulai menargetkan kuliah di ITB. Disiplin menjadi kunci, dengan pembagian waktu antara olahraga, belajar, dan ibadah. Beliau menekankan bahwa usaha dan doa perlu berjalan beriringan, serta keyakinan bahwa peluang selalu terbuka jika orang lain bisa mencapainya.
Beliau juga mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan bersifat sementara. Saat berada di puncak, seseorang sebaiknya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberi kontribusi terbaik. Namun ketika fase itu berakhir, tidak perlu larut dalam kekecewaan karena masih banyak ruang lain untuk berkontribusi. Menurut beliau, menikmati proses perjalanan jauh lebih penting daripada sekadar menikmati puncak keberhasilan, termasuk ketika menjadi awardee LPDP.
Beliau menilai kebahagiaan atau kesedihan sering kali ditentukan oleh cara seseorang memaknai situasi. Kita selalu memiliki pilihan untuk bersikap optimis atau pesimis. Selain itu, menjaga relasi dan silaturahmi juga penting. Dalam ilustrasinya, ketika seseorang berada di gunung tanpa sinyal telepon, kekayaan dan jabatan tidak lagi berarti; yang dibutuhkan justru bantuan sesama. Ini menunjukkan pentingnya hubungan sosial dan networking, termasuk dalam dunia kewirausahaan.
Dalam konteks kepemimpinan, beliau menekankan bahwa leadership tidak bisa dilepaskan dari nilai (values). Kepemimpinan perlu dimulai dari pemahaman kondisi aktual, dilanjutkan dengan perumusan visi-misi, rencana konkret, dan aksi nyata yang didukung integritas, kejujuran, serta konsistensi. Kepemimpinan sejati adalah perpaduan antara kompetensi teknis dan kekuatan karakter.
Terkait entrepreneurship, beliau menyebut tiga unsur penting: opportunity, real, dan value. Opportunity berarti kemampuan melihat peluang dari permasalahan yang ada. Real menekankan bahwa ide harus realistis dan dapat dijalankan. Sementara value berarti usaha harus memberi nilai tambah, baik ekonomi maupun sosial. Beliau juga menyinggung entrepreneurial mindset menurut Thornberry (2006), seperti memiliki internal locus of control, toleransi terhadap ketidakpastian, keberanian bekerja dengan orang yang lebih kompeten, serta konsistensi dalam proses. Memimpin dengan semangat entrepreneur berarti siap mengambil risiko terukur, adaptif, dan fokus pada solusi.
Beliau menegaskan bahwa kemajuan Indonesia sangat berkaitan dengan kekuatan industri. Karena itu, pengembangan SDM terutama di bidang STEM menjadi penting, meskipun bidang non-STEM tetap memiliki peran strategis dan perlu bersinergi. Tantangan yang masih dihadapi adalah belum sepenuhnya selarasnya kebijakan pembangunan dengan kesiapan kualitas SDM.
Setiap tahun sekitar 3,5 juta siswa SMA lulus, namun hanya sekitar 1 juta yang melanjutkan kuliah. Sisanya langsung memasuki dunia kerja. Menurut beliau, Indonesia perlu mendorong lebih banyak entrepreneur, baik dari lulusan perguruan tinggi maupun lulusan SMA, agar pertumbuhan industri dan ekonomi nasional lebih cepat.
Dalam kebijakan nasional, LPDP diposisikan sebagai instrumen strategis pembangunan SDM unggul. Hingga 2025, LPDP telah mendukung ratusan ribu penerima beasiswa dan ribuan program kolaborasi lintas sektor. Fokus kebijakan periode 2021–2026 semakin diarahkan pada STEM dan sektor strategis seperti energi, kesehatan, pangan, pertahanan, maritim, digitalisasi, manufaktur maju, serta hilirisasi industri. Dukungan pada bidang sosial-humaniora tetap dijaga melalui skema SHARE agar pembangunan manusia berjalan seimbang.
Paparan tersebut juga menyinggung tantangan menuju Indonesia Emas 2045, khususnya masih rendahnya jumlah lulusan S2 dan S3 dibandingkan negara lain. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang kuat, diperlukan industrialisasi, riset, pendidikan berkualitas, serta penciptaan lapangan kerja berbasis pengetahuan. Dalam hal ini, LPDP dipandang sebagai investasi jangka panjang negara.
Sebagai penutup, beliau menyampaikan refleksi “I am the center of universe”, yang menekankan tanggung jawab individu atas arah hidupnya sendiri. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan hidup melalui olahraga, istirahat cukup, pola makan sehat, serta silaturahmi. Pesan akhirnya sederhana namun kuat: terus mencintai Indonesia dan berkontribusi sesuai peran masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar