Communication, Cross Culture & Adaptability — Bersama Riko Anggara (News Anchor) (PK-270 Part 4)



Selasa, 3 Februari 2026 pukul 19.00–21.00 WIB, sesi “Communication, Cross Culture & Adaptability” menjadi sesi kelima sekaligus penutup hari pertama kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP angkatan 270 yang berlangsung di Hotel Acacia Jakarta. Materi disampaikan oleh Riko Anggara, seorang jurnalis senior sekaligus news anchor yang telah lama berkecimpung dalam dunia media nasional. Dengan pengalaman panjang di bidang komunikasi massa, jurnalisme, serta moderasi berbagai forum strategis, beliau banyak membagikan perspektif praktis tentang komunikasi publik, citra profesional, dan kemampuan adaptasi lintas budaya.


Sejak awal sesi, suasana dibuat cukup interaktif. Beliau menekankan bahwa komunikasi bukan sekadar penyampaian informasi, tetapi juga proses membangun koneksi emosional dengan audiens. Pengelolaan emosi menjadi faktor penting, karena respons emosional seseorang sering kali sudah muncul bahkan sejak awal menerima suatu tugas atau tanggung jawab. Dalam konteks komunikasi profesional, kesan pertama (first impression) menjadi sangat menentukan, sebab tidak selalu ada kesempatan kedua untuk memperbaiki persepsi awal yang kurang baik.


Beliau juga menjelaskan bahwa rasa percaya diri pada dasarnya muncul dari kondisi internal individu yang kemudian tercermin keluar melalui bahasa tubuh, ekspresi, dan cara berbicara. Dalam hal ini dikenal konsep public face dan private face, yaitu sisi profesional yang ditampilkan kepada publik dan sisi personal yang dimiliki secara pribadi. Kemampuan untuk “switch on” saat menjalankan peran profesional dipandang bukan sebagai kepura-puraan, melainkan bentuk adaptasi agar seseorang dapat memberikan performa terbaik dalam situasi apa pun, termasuk ketika harus berkomunikasi di lingkungan yang kurang nyaman.


Salah satu prinsip psikologi komunikasi yang dibahas adalah hukum timbal balik (reciprocity). Sikap sederhana seperti senyum tulus kepada audiens dapat memicu respons positif secara alami. Namun, ketulusan menjadi kunci, karena audiens biasanya mampu merasakan apakah ekspresi pembicara autentik atau tidak. Ketika koneksi emosional terbangun, pembicara justru bisa memperoleh energi tambahan dari audiens sehingga penyampaian materi menjadi lebih hidup.


Untuk memperkuat keterlibatan audiens, beliau menekankan pentingnya kontak mata. Teknik yang disarankan adalah melakukan eye contact dengan individu tertentu hingga terlihat reaksi kecil sebelum beralih ke audiens lain. Hal ini membantu menciptakan kesan kedekatan sekaligus menjaga fokus audiens. Meski sering diajarkan dalam pelatihan public speaking, praktik kontak mata secara konsisten masih menjadi tantangan, terutama bagi pembicara pemula yang cenderung mengalihkan pandangan ketika berpikir.


Dalam membangun otoritas saat berbicara di depan publik, beliau berbagi pengalaman pribadi sebagai individu yang mengaku introvert namun harus beradaptasi dengan tuntutan profesi. Prinsip fake it till you make it disebut sebagai salah satu cara melatih keberanian hingga akhirnya rasa percaya diri terbentuk secara alami. Bahasa tubuh juga berperan besar dalam membangun authority; postur tubuh terbuka menandakan rasa aman dan percaya diri, sementara tubuh yang tertutup sering menunjukkan ketidaknyamanan. Karena itu, penggunaan power poses dianjurkan untuk memperkuat kesan percaya diri di hadapan audiens.


Topik komunikasi lintas budaya juga menjadi bahasan penting. Beliau menjelaskan perbedaan antara budaya komunikasi high context dan low context. Negara seperti Amerika Serikat, Jerman, atau Australia cenderung lebih langsung dan eksplisit dalam menyampaikan pesan, sedangkan negara seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, termasuk Indonesia, biasanya lebih mempertimbangkan norma, konteks sosial, dan cara penyampaian. Dalam menghadapi perbedaan tersebut, teknik mirroring dan matching dapat membantu menciptakan kenyamanan dalam interaksi. Memahami lingkungan baru sebaiknya diawali dengan observasi dan kepekaan terhadap situasi sosial sebelum menentukan strategi komunikasi.


Selain itu, beliau menekankan pentingnya memahami peran tiap individu dalam sebuah tim. Setiap orang memiliki kontribusi berbeda, termasuk mereka yang berperan mencairkan suasana. Menghargai keberagaman peran justru menjadi tanda kedewasaan kepemimpinan dan kemampuan membaca dinamika kelompok, yang sangat dibutuhkan dalam proses adaptasi di lingkungan baru.


Aspek visual dan kualitas penyampaian juga turut dibahas. Meskipun substansi materi tetap utama (content is king), kemasan visual dan penampilan profesional tetap berpengaruh terhadap persepsi audiens. Kualitas vokal pun tidak kalah penting; intonasi, volume, dan artikulasi yang tepat dapat memperkuat pesan yang disampaikan.


Menjelang akhir sesi, beliau menyinggung fenomena yapping dalam public speaking, yaitu kecenderungan berbicara berlebihan tanpa substansi jelas. Untuk menghindarinya, pembicara dianjurkan menggunakan bahasa yang lebih deskriptif, tidak terlalu berpusat pada diri sendiri, serta terus memperkaya kosakata melalui kebiasaan membaca. Kemampuan mendengarkan juga perlu dilatih secara menyeluruh, bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan perhatian penuh terhadap ekspresi dan konteks lawan bicara.


Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa komunikasi yang efektif menuntut keterlibatan hati dan energi yang tidak sedikit. Setiap orang boleh memiliki gaya berbeda dalam berbicara, namun penting untuk tetap berani tampil autentik (be bold and unique). Diharapkan materi ini dapat menjadi bekal bagi para awardee LPDP agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif serta beradaptasi di berbagai lingkungan budaya selama studi maupun setelah kembali berkontribusi bagi Indonesia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar