Upgrade Leadership Mindset: Tantangan Global ala Dewi Nur Aisyah, SKM, MSc, DIC, PhD (PK-270 Part 10)


 Pada sesi ini, Dr. Dewi Nur Aisyah menyampaikan materi inspiratif mengenai kontribusi keilmuan, kepemimpinan transformatif, serta pentingnya membawa dampak nyata bagi Indonesia.


Beliau membuka sesi dengan pesan reflektif, “Hidup sekali, hiduplah yang berarti.” Pesan tersebut menegaskan bahwa setiap individu perlu terus belajar dan berkembang agar dapat memberi kontribusi yang lebih besar. Menurut beliau, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius, seperti kemiskinan, pengangguran, tingginya angka putus sekolah, penyakit menular seperti TBC, serta berbagai persoalan kesehatan dan sosial lainnya. Oleh karena itu, pendidikan tinggi seharusnya tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi harus mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.


Beliau juga menyoroti dinamika perubahan global yang sangat cepat, terutama akibat perkembangan teknologi digital dan media sosial. Fenomena disruptive innovation seperti Uber, Facebook, Alibaba, dan Airbnb menunjukkan bahwa perubahan besar dapat terjadi tanpa kepemilikan aset konvensional. Hal ini menjadi pengingat bahwa generasi muda perlu adaptif, inovatif, serta berani keluar dari zona nyaman untuk menjawab tantangan masa depan.


Riwayat pendidikan Dr. Dewi Nur Aisyah turut menjadi inspirasi. Beliau menyelesaikan studi S1 di Universitas Indonesia dalam waktu 3,5 tahun sebagai mahasiswa berprestasi FKM UI, aktif dalam kompetisi nasional dan internasional serta kegiatan organisasi. Selanjutnya, beliau menempuh S2 di Imperial College London dengan Beasiswa Unggulan DIKTI dan lulus dalam satu tahun. Program doktoralnya diselesaikan di University College London (UCL) dengan beasiswa Presiden Republik Indonesia sebelum usia 30 tahun, dengan riset yang bahkan menjadi rujukan ahli hepatologi di tingkat Eropa.


Dalam perjalanan akademiknya, beliau menekankan pentingnya konsep glocalization, yaitu memiliki wawasan global namun tetap berorientasi pada solusi lokal. Salah satu contoh nyata adalah pengembangan aplikasi Latansa, pengingat minum obat bagi pasien TBC, yang masuk lima besar proposal Design for Development dari ribuan peserta. Selain itu, beliau juga terlibat dalam pengembangan TB DeCare, proyek kolaboratif lintas disiplin yang menekankan bahwa inovasi besar membutuhkan kerja sama berbagai bidang keahlian.


Beliau menegaskan bahwa keberhasilan studi seharusnya tidak berhenti pada gelar akademik, tetapi juga pada manfaat yang dibawa pulang bagi masyarakat. Hal ini tercermin dalam keterlibatan beliau pada berbagai inisiatif kesehatan, termasuk proyek CHIP (Childhood Infection & Pollution) serta kontribusinya dalam pengembangan sistem kesehatan digital nasional seperti program Satu Sehat, digitalisasi pelayanan kesehatan primer, serta kebijakan berbasis data selama pandemi COVID-19. Data yang beliau dan tim kumpulkan bahkan menjadi dasar sejumlah kebijakan nasional seperti PPKM dan strategi pengendalian pandemi.


Dalam aspek kepemimpinan, beliau menekankan pentingnya transformational leadership, yaitu kepemimpinan yang mampu menginspirasi, memotivasi, dan mendorong perubahan nyata. Kepemimpinan sejati, menurutnya, bukan sekadar jabatan, tetapi aksi nyata. Kompetensi penting seorang pemimpin global mencakup kemampuan mengelola perubahan, membangun kepercayaan, mengatasi konflik, menghargai keberagaman, mengelola tekanan, serta terus mengembangkan diri.


Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan kemampuan connecting the dots. Perubahan besar tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan melalui sinergi berbagai pihak. Generasi muda didorong untuk berperan aktif sebagai bagian dari solusi, baik melalui penelitian, inovasi teknologi, kebijakan publik, pendidikan, maupun kontribusi sosial lainnya.


Dalam sesi diskusi, beliau membagikan sejumlah prinsip praktis, antara lain pentingnya membangun rekam jejak untuk memperoleh kepercayaan, kemampuan framing dan pitching agar ide dapat diterima, serta kebiasaan bekerja cepat dan produktif tanpa menunda pekerjaan. Beliau juga menekankan bahwa pengalaman lapangan sama berharganya dengan ilmu akademik, bahkan sering menjadi sumber pembelajaran yang lebih kontekstual.


Sebagai penutup, Dr. Dewi Nur Aisyah menegaskan bahwa perjalanan menuju keberhasilan membutuhkan proses panjang, kerja keras, serta kesiapan menghadapi tantangan. Individu yang berhasil bukan mereka yang selalu berada dalam kenyamanan, melainkan mereka yang mampu bangkit dari berbagai kesulitan dan terus berkontribusi. Generasi muda Indonesia diharapkan tidak hanya mengejar prestasi pribadi, tetapi juga membawa manfaat luas bagi bangsa dan kemanusiaan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar