Tampilkan postingan dengan label Masa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa. Tampilkan semua postingan

Lima belas tahun yang lalu, pertama kita bertemu


Mungkin pada saat itu aku masih memikirkan bagaimana agar tidak canggung berinteraksi denganmu. Logat Tambakboyo Tuban yang sangat khas membuatku dengan mudah mendeteksi suaramu yang yaah agak keras juga sih kalo ngobrol atau bahkan tertawa dari dalam kamar. Ternyata kedekatanku dan kamu pada saat itu tidak hanya sebatas teman sekolah, tetapi lebih jauh dari itu, malah jadi keluarga versi jarak jauh yang dulu mungkin selalu ingin saling tau. 


Dan akhirnya jeda membuat aku dan kamu tidak saling khawatir, karena memang sudah ada keluarga masing-masing. Wajar sih, fase tumbuh dan hidup ala orang dewasa membuat aktifitasku dan kamu menjadi sangat penuh dan tidak ada ruang untuk berbagi seperti dulu. Meskipun kadang aku dan mungkin juga kamu sempatkan untuk intip dan scroll halaman sosial media masing-masing, yang berlanjut dengan balas story dan hanya berubah status menjadi "seen" tanpa ada satu dua kata balasan yang terketik kembali. Yah biasanya emang gitu sih, anak muda jaman sekarang suka ilang-ilangan. 


Mungkin itu hanya sedikit pengantar klise, yang semua orang juga pasti alamin kalo lagi iseng dan mungkin kangen sama siapapun itu.


Yang jelas, setelah aku membaca ulang pesan kita berdua, ternyata dibalik semua itu selalu kita sempatkan untuk mendoakan satu sama lain, meskipun doanya juga itu itu aja sih. 

"Semoga bisa segera ketemu ya mak.. 

"Semoga nanti ketemu ya nyan.. 

"Sehat selalu yaaa..

Ah bosan sekali.


----------------------------------


Mak, hari ini, sekitar jam 10 pagi aku mendengar kabar yang rasanya tidak ingin aku dengarkan. Maaf kalo aku langsung spontan share ke grup dan kontak yang memungkinkan untuk memberi kejelasan. Tanpa aku konfirmasi langsung ke nomor Whatsappmu. Tadinya aku mau langsung pencet tombol tilpun di nomormu, tapi aku takut.. takut kalau kabar itu ternyata memang benar adanya.


Dan satu jam setelahnya, melalui kabar Mas Dhana, ternyata mamak sudah tenang bahagia.


Mak aku pastikan semua yang pernah berinteraksi denganmu meyakini bahwa kebaikan dan ketulusanmu akan menjadi jalan terbaikmu. 


Mak, aku kehilangan.. benar-benar kehilangan 


Sudah, aku tak sanggup melanjutkan bercerita, tadinya mau mengenang semua jejak cerita kita berdua yang mungkin tidak begitu menarik ya mak. Tapi ternyata aku lebih memilih untuk mendoakanmu dalam diam dan menyimpan semua kisah bersama dalam keabadian.

Bertemu lagi nanti di Surga ya Mak.. 

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ


Nur Indriyani Dhita Hapsari, 

Wafat di Tuban, 14 Mei 2024




Sampai kapanpun aku tidak akan meyakinkan pada diri bahwa berjauhan adalah hal yang menyenangkan.

Tapi ternyata jarak adalah guru terbaikku beberapa tahun terakhir ini. 

Mempersiapkan diri untuk menjadi ibu, serta memilih dan memilah keputusan yang sejatinya tidak bisa disimpulkan dengan mudah. 

Terimakasih ruang dan waktu, yang memberiku banyak list to do di tahun ini, yang mungkin tidak semua bisa terealisasi dengan sempurna. Tapi setidaknya aku selalu bangkit, tumbuh, dan tangguh dengan penuh syukur untuk menghadapi semuanya. Tentu dg tangan dan rangkulan pasangan hidupku yang hanya raganya yang jauh tapi jiwa dan doanya selalu disampingku. 

Spasi kehidupan

by on November 12, 2023
Sampai kapanpun aku tidak akan meyakinkan pada diri bahwa berjauhan adalah hal yang menyenangkan. Tapi ternyata jarak adalah guru terbaikku ...
Pict source: pinterest

Genap satu bulan usia pernikahanku, tidak terlalu terlambat untuk menitipkan pesan bahwa yang disana akan baik-baik saja.

 

Menikah, bukan hanya persoalan aku dan dia. Tapi kami dan kita semua. Memiliki dua arti, bahwa sesungguhnya mencintai dan dicintai adalah satu dua hal yang saling terpaut. Menjelang hari pernikahan aku benar-benar menaruh hatiku sedalam-dalamnya pada saat melihat perempuan penyangga nyawaku kuat dan selalu merasa bahagia. Tidak dapat dipungkiri, pikiran kacau dan punggung lelah tidak akan dapat dirasakan demi melihat anak gadisnya merasakan kebahagiaan.

 

Ibu, mengapa kau benar-benar menjadi malaikat seutuhnya?

 

Semakin aku melangkah dewasa, semakin aku melihat betapa engkau semakin kuat. Meskipun sebenarnya perasaan itu sudah aku rasakan sejak 23 tahun yang lalu, dan semakin bertambah seiring berjalannya waktu.

 

Langkahku yang tak seberapa, ucapku yang tak begitu indah, bahkan apa yang aku berikan belum menjadi apa-apa.. tapi dengan sigap kau sambut hati rapuhnya aku, kau peluk dan kau pupuk sampai rasa-rasanya elok dan kokoh kembali. Luar biasa... tidak ada manusia se sempurna Ibu, terutama Ibuku.

 

Keluargaku saling mencintai. Mencintai dengan mencari cara sepanjang masa. Mencintai tanpa ada lelah. Mencintai dengan cara yang paling sempurna. Menerima tanpa drama adalah hal yang jelas kongkrit ditanamkan di masing-masing pribadi kami. Entah bagaimana cara Ayahku meminumkan segala teori tentang mencintai dan menumbuhkan rasa saling percaya, yang jelas aku sudah memiliki semua tentang hal itu, bahkan lebih.

 

Kadang kalau sudah terlanjur jauh begini, rasa rindu mana yang tidak ingin disampaikan.. bau hujan depan halaman rumah pun selalu terbawa kemana aku akan singgah.


Mungkin karena aku sudah benar-benar memiliki keluarga yang tak lagi sama. Namun tetap dengan kadar cinta yang seutuhnya. Bangun tidur yang biasanya masakan sudah dihidangkan, sekarang harus mencari melijo­ agar cepat-cepat mematangkan sarapan. Pagi hari biasanya rumah sudah bersih dan wangi, sekarang harus dengan gesit membersihkan debu-debu di lantai setiap hari. Akhir pekan biasanya cucian sudah rapi, sekarang dua hari sekali harus mencuci dan merapikan baju-baju di almari. Duh rasanya sangat kurang kalo harus dirinci secara teliti. Yang jelas semua ini karena Ibu. Ibu yang mengajarkanku untuk belajar menjadi perempuan seutuhnya. Perempuan yang tanpa pamrih untuk ikhlas memberikan semua kemampuannya.


Kadang sempat berfikir, apa aku bisa menjadi Ibu seperti Ibu?

Yang tanpa rasa yang tidak bahagia dalam membina rumah tangga

Yang tanpa rasa lelah menata dan merapikan bukan hanya isi rumah tapi juga isi hati dan ego kita

Yang tanpa pamrih memberikan seluruh jiwa dan raganya untuk mencintai dan menyayangi kita

Bahkan, tidak akan merasa puas dan lega jika tanpa kalimat amin dari Ibu di setiap aku meminta doa

Aaaaahh rasanya aku baru kemarin mengucapkan “ibu aku ingin beli es dan permen disana..”

Sampai sekarang sudah saatnya aku memberikan rasa cintaku, rasa sayangku, kemampuanku, seluruh jiwa ragaku untuk keluarga kecilku. Seperti Ibu memberikan semua itu untuk aku dan semua saudaraku.

 

Doakan aku Bu, langkahku tidak akan bisa jauh tanpa beribu kata amin mu. Doakan aku dapat menjadi pasangan dan calon Ibu sepertimu. Meskipun aku menyadari tidak akan bisa sempurna jika aku ingin menjadi sepertimu. Tapi dari semua inspirasi dan ruang yang Ibu berikan aku untuk terus belajar, aku yakin aku akan sampai pada satu-satunya tujuan akhir hidupku. Ibu dan Allah ridhoi segala jalan takdirku.

 

When I need some support, you’re there

When I need some guidance, you come

When I need sone happiness, you never fail. I Love You Ibu

Surabaya, 25 Maret 2021



Pict Source: Pinterest


Satu nyawa dua raga 
perempuan satu-satunya yang menyimpan banyak nyawa 
untuk ayah dan untuk semua anak-anaknya 

Istimewa, satu kata yang tidak dapat dijelaskan maknanya 
perempuan dengan tangan halus dan hati tulus 
menyediakan jiwa dan raganya sampai lanjut usia 

Rindang, bagaikan rumput dan dedaunan yang diharapkan tumbuh di padang savana
Begitu nampaknya rasa ingin memiliki dan mencintai seutuhnya, selalu menggebu-nggebu

Ah, sudah terlalu keriput jika masih berbicara tentang asa
Biarkan nadiku berlanjut usia dengan seluruh nafas darinya 
Rasanya.. aku tidak akan bisa hidup seribu tahun lagi jika tanpa cinta dan kasih sayang darinya

Punggungmu kaku, kakimu rapuh 
Tapi dengan eloknya kerutan bibir manismu membuat ragaku tetap dusta untuk mengatakan "tidak, tidak seperti itu.. semua akan baik-baik saja. 

Sungguh, ini berat 
Untuk aku mengatakan takut jauh darimu. 
Bagaimana tidak, karena kau mengajarkanku bagaimana arti kuat sesungguhnya
Rasanya malu jika aku ketakutan untuk berjalan sendirian 

Sudah, tak cukup kata untuk menuliskan banyak kekuatan-kekuatan terbesar dari seorang Ibu
Sedikit mendung namun belum juga turun hujan membuatku lebih tegar melewati Hari Ibu tanpa kau disisiku. 

Selamat Hari Ibu, Muya dan calon Ibuku tahun depan :") 
Semoga langkah kakimu tetap dikuatkan sampai rasa lelahku tak dapat kurasakan. 

 


ada lirik yang tiba-tiba acuh, tidak dapat terjawab oleh angin ataupun hujan

kufikir itu sebuah ketegaran, ternyata pelan-pelan aku hampir terjatuh seolah semua akan hilang

mimpiku terenggut perlahan

kisahku tertutup kelam

yang dulu sudah tertuliskan dalam satu halaman penuh disetiap malam 

tidak pernah akan menjadi besar

rasanya, sebelum berkali-kali lipat cerita indah dikemudian hari

lebih baik kita usai untuk lebih bijaksana 

bijaksana kapan harus mengakhiri 

dan memulai untuk yang lebih berarti


Usai

by on Oktober 01, 2020
ada lirik yang tiba-tiba acuh, tidak dapat terjawab oleh angin ataupun hujan kufikir itu sebuah ketegaran, ternyata pelan-pelan aku hampir t...
Pict Source: Wattpad 

Hai larik, 
aku ingin mengajakmu ke suatu tempat
barangkali kamu bisa melukis disitu..

ohya.. kamu harus tau, 
di sisi kiri sana terdapat pohon yang rindang
dan sebelah kanannya kebetulan ada bukit yang hijau
belakang bukit juga terdapat sungai yang jernih
bahkan, tau ngga 
disana aku tidak pernah sedikitpun melihat daun gugur kelaparan
ataupun sungai mengering kehausan
indah bukan ?
sekarang bayangkan apapun yang ada dipikiranmu tergenggam ditanganku 

ada apa ?
ikan ? 

"yah benar ditanganmu ada ikan"

kenapa kamu memilih ikan yang berada dipikiranmu dan ditanganku ?

"karena sejak aku kecil, ayahku selalu mengajakku menangkap ikan dan melepaskannya kembali disini"

oke, sekarang bayangkan ikan ini akan membawamu mengikuti arusnya sungai sampai kamu benar-benar lelah untuk melihat keindahan disekitarmu !
kuharap kali ini imajinasiku bisa memberimu ruang untuk sekedar berteduh

tau gak sih, kadang aku harus berfikir bahwa masuk didunia lukisanmu adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan
ini benar-benar hal baru bagiku
dulu yang kutau hanya warna hitam, putih dan abu
namun setelah kamu mengizinkan aku untuk menyelinap masuk didunia lukismu, aku mengenal banyak macam keindahan warna di kuasmu

bahkan aku tercengang saat setiap kamu izinkan dan ajak aku untuk ikut mendaki,  menyelam dan berkebun di semua canva putihmu
Its really awesome !
sangat indah,
luar biasa indah..
tepatnya semua hal itu mampu membuatku perlahan mengerti 
bahwa kita tidak akan mampu menemukan ketenangan dan kebahagiaan tanpa kita memandang ruang di sekitar kita yang jauh lebih luar biasa 

*Tania, 23 y.o 

Tania

by on Agustus 31, 2020
Pict Source: Wattpad  Hai larik,  aku ingin mengajakmu ke suatu tempat barangkali kamu bisa melukis disitu.. ohya.. kamu haru...

source: pinterest.com

Berada di ruang dan posisi ini, mungkin sudah menjadi takdirmu.
Tapi jendela mana yang ingin kamu lihat, itu pilihanmu.

Dunia terlalu luas untuk kamu penuhi dengan dahaga dan keresahanmu,
Pilih dengan segera siapa yang mau kamu bahagiakan.

Tuhan begitu elok,
Ia mampu mengingatkan manusia dari berbagai celah. Termasuk mengingatkanmu..
Coba kamu diam, perhatikan, dan dengar.
Mungkin ada pesan yang ingin Tuhan sampaikan perlahan

eaeyopia

by on Desember 19, 2019
source: pinterest.com Berada di ruang dan posisi ini, mungkin sudah menjadi takdirmu. Tapi jendela mana yang ingin kamu lihat, itu pi...

pernah nggak kamu bercerita ?
tentang bunga yang mekar di halaman sebelah
tentang rumput yang hijau di seberang rumah
tentang tanah yang subur di luar jendela
kadang mereka tampak baik-baik saja
ya kan ?

aku iri, dengan mereka
dengan mereka yang merasa baik-baik saja
dengan mereka yang tumbuh mekar dengan indah
dengan mereka yang menghijau dengan mudah
dengan mereka yang subur gembur dengan sempurna
sedangkan kotakku belum tertutup sempurna
merajut menutup dengan sangat pelan sampai aku tak bisa lupa

rindang, aku rindu dengan kerindangan
aku rindu dengan kesejukan
aku rindu dengan wewangian
aku rindu dengan kenyamanan

aku rindu yang sebenarnya hilang..
satu kotak tentang siapa dan dimana aku telah berjuang
Pict Source: Pinterest

Setiap pagi selalu ada teh diatas meja, menyapa mentari yang sinarnya tak pernah terlihat lelah.
Tali sepatu yang sangat usang, selalu menemani melangkah. Mencari tujuan masa depan yang entah berada di sudut mana. Sapaan dan ucapan selamat pagi selalu nampak ketika membuka pintu menuju halaman rumah. Hal tersebut sentak tiba-tiba menjadi hening, ketika beberapa piring terjatuh ke lantai. Nampaknya suara piring pecah berasal dari dapur rumah. Ditengoknya kebelakang, ternyata hanyalah bayangan suara yang tidak nyata.

Ia seolah terlihat jelas sebagai tanda, bahwa pagi akan berubah. Tanpa ucapan selamat pagi seperti dahulu kala. Kau, yang tegar berdiri tegak seolah menjadi maya ketika merasakan bayangan perasaan. Kau, yang siap melangkah maju seketika menjadi layu ketika udara pagi menyapa sembilu.

Tidak ada pilihan nyata ketika keadaan berubah tidak seperti biasa. Hanya rasa pasrah dalam melangkah. Rindangnya lantunan dan untaian permohonan selalu menjadi kado di setiap malam menutup dirinya. Tetap dengan harapan yang sama. Yakin langkah yang akan terlihat cerah selalu menjadi cara ketika bayangan berusaha hadir di pelupuk mata. Letakkan rasa lillah agar kau mudah bangkit menggapai asa. Tidak ada daya dan upaya selain rangkulan yang maha kuasa.

Doaku pagi ini, semoga cerita kau dan semesta dapat menjadi doa dan pelajaran yang sangat berharga.

Menjadi Maya

by on Oktober 23, 2019
Pict Source: Pinterest Setiap pagi selalu ada teh diatas meja, menyapa mentari yang sinarnya tak pernah terlihat lelah. Tali sepatu ya...

Disana, 
Rindang dedaunan dan bising perkotaan
Kadang membuat lupa dengan yang alam berikan 
Daun yang mulai lelah 
Ranting yang mulai payah 
Akar yang mulai menua
Seakan terasa bahwa angin telah bosan menyapa 
Jangan lupa, 
Bahwa mereka selalu nyata 
Bahwa hujan selalu setia 
Bahwa kemarau selalu tiba
Yang kita ingat hanya tertawa dan tamasya 
Menghilang dari kondisi yang sebenarnya
Kata ibu, jangan seperti itu
Jika kau lelah dan lengah
Kembalilah kerumah
Jangan kau malah hilang entah kemana
Kumpulkan sisa cerita yang bisa kau bawa ke kota
Agar pagimu tidak sepi 
Dan malammu tidak berhembus lirih

Surabaya, Oktober 2019

Kembali setelah Lupa

by on Oktober 13, 2019
Disana,  Rindang dedaunan dan bising perkotaan Kadang membuat lupa dengan yang alam berikan  Daun yang mulai lelah  Ranting yang ...

Suatu malam, sedikit sunyi
Rindang dalam angan
Sayup dalam harapan
Memupuk agar tetap seimbang
Merawat agar tetap dapat dikenang
Kita tidak akan pernah bisa tau
Bagian kisah mana yang akan dituju
Bahkan bagian kisah mana yang akan berakhir pilu
Tapi kita bisa bercerita tentang sendu

Kita pernah melewati hal yang sama
Saling bercerita dan melepas lelah
Saling berharap bahwa masa depan mereka akan indah
Dengan tiap dekapan yang nyata
Bahwa buah hati akan baik-baik saja
Selalu ikhlas dalam tawa

Tapi sekali lagi,
Kita tidak bisa menerka
Di titik mana garis hidup dan gemuruh nafas akan berhenti

Semua harapan yang kemarin kita ceritakan
Kita doakan agar terwujud perlahan
Meskipun nantinya kita tidak akan menyaksikan

Yang terpenting,
Semoga sedikit kehangatan yang tertanam
Dapat memeluk cahaya harapan
Agar dapat bersinar secara tenang
Sampai waktu yang ditentukan

*Remake2015, Paiton Probolinggo
Linda Dewi Purwanti, Alfaatiha 😔
Pict Source : Compasiana.com 

"Rupanya liburan semester ini akan aku habiskan untuk bertemu dengan rekan-rekan ku di Jakarta aja deh, dari pada dirumah harus kena omel setiap aku main hp depan TV. Padahal aku lagi rapat online loh, kak". Begitu kiranya Andin berbicara di siang hari dengan saudara lelakinya, Dino. 

"Loh, kamu kan harus bantu jaga tokonya Ibu, Ndin?" sambil mengangkat salah satu karung yang berisi gula lima kilogram ke dalam toko. Rupanya si Andin mendapat satu jabatan baru dikampusnya. Ia sudah jarang melihat-lihat isi toko dan menanyakan stok yang tersisa kepada ibu atau saudaranya. Ia lebih sering pulang malam karena ada rapat dengan teman organisasinya dan akhir-akhir ini ia lebih cepat menggerakkan jemarinya dalam membalas pesan daring lewat hape bututnya itu. 

Kebetulan Andin adalah mahasiswa semester dua kampus ternama di kota Surabaya. Sebelum masa libur panjangnya tiba, ia mendapatkan undangan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampusnya untuk mengikuti diklat tahunan di kota dingin kaki Gunung Welirang, Mojokerto. Diklat tersebut hanya dihadiri oleh mahasiswa pilihan yang sudah direkomendasikan oleh tiap fakultas dari beberapa kampus besar se-Jawa, Bali dan NTB. Andin pun tak berfikir panjang untuk meng-iyakan isi dari undangan tersebut. Setelah menerima daftar nama yang akan hadir, ia rupanya tidak mengenal siapa pun kecuali tiga nama yang sudah tak asing dengannya. Ternyata mereka adalah teman Andin yang berasal dari Surabaya. Andin mengenalnya pada saat mengikuti acara seminar di kota pahlawan yang kebetulan satu meja dengan Icyan, Roni dan Lisa. Meskipun hanya sedikit yang Andin kenal, hal tersebut tidak menjadikan ia khawatir. Karena Andin tipikal mahasiswa yang mudah dalam beradaptasi dimanapun ia tinggal. Ia selalu merasa tertantang jika harus berkenalan dengan banyak orang di tempat barunya. Karena dia yakin bahwa pasti ada pelajaran yang berharga jika kita dapat memaknai suatu pertemuan dengan hati yang riang. 

***
Mulailah Andin berangkat ke lokasi dengan menaiki kereta dari Kota Surabaya. Kali ini ia berangkat sendiri karena teman yang lain sudah berada dilokasi sejak kemarin pagi. Di hari pertama, Andin merasa sedikit canggung namun ia merasa senang. Andin berdialog dan saling sapa dengan teman-teman barunya. Karena mereka dari ruang lingkup keilmuan yang berbeda-beda. Kehangatan di hari pertama sangatlah terasa. Sampai kami tak sadar jika sudah waktunya mendengarkan beberapa materi tentang kemandirian dalam bersikap dari salah satu dosen dari kampus UIN Jakarta. 

Kegiatan kami berjalan selama lima hari empat malam. Bisa dibayangkan betapa melekatnya kisah kami kelak ketika acara sudah berakhir. Karena dalam waktu hampir satu minggu kami di hadapkan dengan beberapa tugas dan materi yang harus kami selesaikan dan kami simpan rapat-rapat dalam memori yang tidak terlalu luas ini ehe. Diklat berisikan materi dari tokoh-tokoh penting di Jawa Timur. Beberapa materi berisi tentang menyiapkan generasi muda di masa depan menuju Indonesia gemilang. Singkat cerita, karena terlalu banyak rangkaian acara dan banyaknya teman yang harus kami sapa, Andin sampai lupa untuk menanyakan kabar ke-tiga teman yang ia kenal lebih dulu. Yah, mereka adalah teman-teman Andin yang berasal dari Surabaya.  

Di hari terakhir Andin melakukan farewell party yang sudah sangat lumrah dilakukan jika akan berpisah. Sikap Andin masih seperti biasanya, ia selalu jadi tempat bullying oleh beberapa kawannya. Karena kebetulan Andin adalah salah satu mahasiswa yang mendapatkan kategori terheboh dalam kelima hari rangkaian acara tersebut. Bahkan ia telah melupakan segala beban pikirannya pada saat acara berlangsung. Hanya karena ia ingin memberikan rasa bahagia tanpa terganggu oleh apapun di saat-saat terakhir mereka bertemu. Karena setelah ini mereka akan menjalani libur semester genap yang jaraknya cukup panjang. Ketika masuk kuliah pun mereka sudah harus menuju fakultas masing-masing dan bisa bertemu jika hanya ada acara tahunan yang diadakan oleh BEM di salah satu kampus mereka. 

Tidak berselang lama, karena sudah mendekati waktu untuk berpamitan, Andin merasa kurang puas jika belum bertemu ketiga temannya itu. Andin sempat merasa kehilangan, namun ia tetap mencoba untuk tidak memikirkan hal itu dalam-dalam. Akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya. Sepuluh menit pertama ia sudah berhasil menemukan dua temannya, Roni dan Lisa. Namun belum lega karena masih ada satu temannya lagi yang belum ia temui yaitu Icyan. Ketika Andin merasa lelah dan memutuskan untuk tidak memaksakan bertemu, si Icyan dengan gaya yang khas berada di ujung pintu yang akan Andin lewati. Spontan Andin berlari dan menemuinya.

"Hey, kamu lupa sama aku? kemana aja seminggu ini wkwkw yok minta maaf kan bentar lagi uda kelar acaranya" kata Andin dengan gaya lincahnya. 

"Ho iya kamu, aku di sini aja kali. Ya sama-sama. Sudah ambil coffee break, Ndin?" Jawab Icyan dengan gaya dinginnya. Begitu selesai saling bertegur sapa, Andin dan Icyan berpisah untuk kembali ke tempat masing-masing. Yah namanya teman, sekedar sapa gitu aja uda cukup heheh

***
Waktu menuju sore hari, dan penutupan acara telah usai. Kami, seluruh peserta sudah saling bersiap untuk kembali ke masing-masing kota asalnya. Lagi-lagi Andin harus berangkat pulang sendirian karena setelah penutupan diklat tersebut seluruh Mahasiswa akan menjalani masa libur semester genap. Hal tersebut yang membuat Andin memesan tiket pulang ke Surabaya. Tentunya dengan membawa kisah yang tak dapat ia lupakan. Beberapa kenangan membuat Andin sempat merenung sejenak di kereta. Mungkin Andin merasa bersyukur telah di berikan kesempatan mengikuti diklat yang tidak biasa dan di rekomendasikan langsung oleh fakultas tempat Andin menimba ilmu untuk sisa waktu tiga tahun kedepan. Dipikir-pikir, tidak ada yang se melow Andin pada saat berpisah. Yang masih mengganjal di benak Andin sebenarnya ia masih menyimpan rasa penasaran kepada Icyan, salah satu temannya yang pertama ia temui di kota pahlawan dulu. Tapi tidak terlalu larut Andin memikirkan, sesekali ia memaksa memejamkan mata karena perjalanan masih tiga jam setengah lagi sampai kota tujuan. 

Setelah sampai di Kota Surabaya, sesekali Andin mengecek hape bututnya. Bukan untuk melihat berapa persen batre nya, tapi untuk memastikan apakah ada pesan masuk baru yang belum terbaca olehnya. Karena ia sempat kehabisan batre pada saat perjalanan. 

Ping, Hape Andin berbunyi tepat dua menit setelah ia tancapkan di tempat charge.

"Ndin, sudah sampai Surabaya?" pesan yang pertama masuk di hape Andin. Ia hanya membaca dari kejauhan, tapi ia sudah tahu kalau itu pesan dari salah satu temannya yang susah ia temukan pada saat acara diklat. Yah pesan dari Icyan. Pinginnya tidak dibuka langsung, apalagi dibalas dengan cepat. Tapi kenapa tangan Andin memaksa untuk sesegera mungkin mengambil hape nya dan langsung mengetik balasan. Entahlah, terlalu rumit jika hal sesederhana itu difikirkan hehe  

Sehari dua hari ada pesan baru lagi dari Icyan untuk Andin via aplikasi daring yang hanya Andin punya. Hanya percakapan sepele, tapi terasa hangat. Entah kenapa, percakapan ringan mereka masih berlangsung sampai liburan kampus berjalan hampir tiga minggu. Tidak ada pesan khusus yang mereka bicarakan. Mereka hanya membahas hal-hal sepele yang mungkin tidak asing bagi teman biasa. 

Sesekali Andin yang memulai percakapan singkat di pagi hari. Namun juga tidak jarang bagi Icyan untuk mulai menyapa dengan gaya khasnya. Icyan merupakan mahasiswa yang aktif dengan susunan kalimat di setiap harinya. Ia sangat senang mempelajari tentang hal-hal yang menunjukkan bahwa Indonesia ini berwarna-warni dengan budaya dan peninggalan-peninggalanya, termasuk lembaran-lembaran yang menurutnya sangat unik untuk dipelajari. Sedangkan Andin adalah mahasiswa penuh dengan teori darwin dan mineral-mineral dalam bumi. Kadang ada beberapa hal yang membuat mereka tertarik untuk berdiskusi ringan karena perbedaan keilmuan yang mereka tekuni. Hal tersebut juga baru diketahui Andin setelah dua minggu mereka berinteraksi via daring. Syukurlah pertemanan kali ini sedikit banyak memberikan dampak positif kepada Andin, ia yang selalu penasaran dan semakin ingin tahu akan ilmu yang ditekuni temannya, Icyan. 

Sampai pada suatu malam, Andin gelisah. Tidak hanya sekali dua kali ia melihat hape bututnya. Tidak ada satupun pesan yang masuk. Entah pesan dari siapa yang Andin tunggu. Tidak biasanya Andin seperti itu. Setelah ia letakkan hapennya diatas meja sampai pukul 21.00 WIB, ada pesan dari Icyan teman dunia mayanya. Hanya sapaan singkat, tapi lagi-lagi Andin merasa buru-buru untuk membuka dan membalasnya. Setelah membalasnya Andin merasa bingung namun sedikit tenang dari sebelumnya.  

Apa mungkin pesan tersebut yang ditunggu Andin sejak pagi tadi ? Sehingga membuat Andin untuk melihat ponselnya berulang kali. 

Pesan yang hanya berisikan sapaan ringan namun dapat merubah suasana malamnya seakan-akan cepat berubah menjadi pagi. Mungkin dengan pagi ia dapat merasakan hangatnya sinar mentari yang memeluk harapan-harapan masa depan Andin dengan indah. Sebenarnya ada apa dengan Andin, kenapa dengan adanya pesan masuk dari Icyan, dirinya menjadi bersemangat dalam menyambut pagi hari ?

Andin

by on Agustus 16, 2019
Pict Source : Compasiana.com  " Rupanya liburan semester ini akan aku habiskan untuk bertemu dengan rekan-rekan ku di Jakarta aja...

Akan menjadi takut saat selalu memaksakan untuk berbunga
Akan menjadi sulit saat selalu memaksa untuk rela
Kemudian dari sisi mana engkau akan tumbuh ?
Sedikit perlahan, mulailah bersahabat dengan hijaunya alam
Mulailah menantang mentari dan menyapa hujan
Mencoba tidak memaksa untuk menghadang badai yang selalu menakutkan
Kita memang tidak akan pernah tahu
Sekuat apa kelak kita mempertahankan
Tapi pelan-pelan kau akan melihat bintang saat kegelapan datang
Kemudian melihat sinar saat fajar tenggelam
Bertemu badai ditengah jalan? sapalah ia dengan kekuatan
Kekuatan lebih besar yang datang dari sang Maha pemberi kasih sayang
Mungkin kita tidak akan bisa setajam hitamnya tinta dalam menyerahkan diri kepada kisah
Tapi kita punya naluri untuk berpasrah sepenuh jiwa
Semoga selamanya rasa kuat dan rela bisa membawa kita menjadi kaffah

Refleksi diri menjelang Yaumun Nahr-


pict source: Gurusiana.id

Gelap- tapi bisa saling menerangi. 
Baru kali ini aku menemukan satu hal yang baru. Aku berani berkisah, menceritakan seluruhnya kepada wanita yang aku anggap sebagai bidadari sepanjang masa. Tentang kedewasaan, tentang yang tepat pada pendiriannya, tentang yang lincah dalam keakrabanya, tentang yang disiplin dalam tanggung jawabnya, terlebih tentang semangatnya yang selalu membuat aku semakin ingin mencari tau apapun itu. Yah ! I found the new soul in another page. 
Disisi lain, aku takut untuk kembali pulang. Rumah yang dulu pernah membuat aku nyaman. Aku bisa memanggilnya pembelajaran sepanjang masa yang hampir mempunyai mimpi yang sama. Aku merasa abu-abu. Aku berada di satu sisi yang membuat aku takut untuk kembali. Yah, aku hanya butuh lebih mendekatkan diri. Karena aku tak punya kuasa dalam menggerakkan hati. Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikmannashir. Laahaula walaa quwwata illa billah. 

Kemudian, perlahan aku ingin bersikap layaknya kubangan air di padang pasir. Aku memaksakan, tapi aku merasa kehilangan. Mungkin lagi lagi aku sedikit jauh dari sang pemberi harapan. Ya Allah Forgive me--
Di tahun 2019 ini, dan sebelum aku mengakhirinya aku akan berjanji. Aku ceritakan harapan kisah indahku yang akan berlangsung di masa depan, yang akan berkisah di masa yang tidak pernah aku bayangkan. Dengan dia yang selalu membuat aku ingin mendekatkan diri kepada sang Maha Pemberi kejutan. Sebagai wujud syukur karena aku telah didatangkan seseorang yang bisa menopang dan megokohkan akar layu ku di sepertiga malam.

Sedikit pembelajaran untuk hal yang luar biasa tidak pernah tertanam dengan sempurna. Untuk hari esok dan hari-hari selanjutnya. Aku ingin belajar dari rasa. Rasa yang tak pernah ingin ku ulangi lagi, untuk terjebak dalam ketidak adilanku bersama Tuhan. 

Khawatir Pulang

by on Agustus 01, 2019
pict source: Gurusiana.id Gelap- tapi bisa saling menerangi.  Baru kali ini aku menemukan satu hal yang baru. Aku berani berkisa...