Refleksi Merah Putih: Aku Pergi untuk Kembali — Insight dari Fauzan Adziman, PhD (Technopreneur Manufaktur Aditif) (PK-270 Part 11)


 Kamis, 5 Februari 2026 pukul 10.30–12.30 WIB menjadi waktu pelaksanaan sesi “Refleksi Merah Putih: Aku Pergi untuk Kembali” dalam rangkaian kegiatan Persiapan Keberangkatan penerima beasiswa LPDP Angkatan 270 yang diselenggarakan di Hotel Acacia Jakarta. Sesi ini menghadirkan Fauzan Adziman, PhD, seorang teknopreneur di bidang manufaktur aditif sekaligus akademisi dan pengambil kebijakan riset nasional.


Fauzan Adziman merupakan lulusan Sarjana ITB (2003) dengan dukungan beberapa beasiswa prestasi. Ia kemudian melanjutkan studi magister di Tokyo Institute of Technology melalui beasiswa MEXT dan memperoleh Miura Award sebagai lulusan terbaik dari The Japan Society of Mechanical Engineers. Gelar doktor dalam Computational Engineering diraih dari Swansea University pada 2014 melalui Zienkiewicz PhD Scholarship, dilanjutkan riset postdoctoral di University of Oxford dengan sponsor EPSRC dan memperoleh University of Oxford’s Excellence Award (2017). Selain kiprah akademik, beliau juga menjadi co-founder Alloyed Ltd., perusahaan spin-out University of Oxford di bidang manufaktur digital, serta aktif dalam pengembangan kolaborasi riset global. Saat ini beliau menjabat sebagai Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.


Dalam sesi refleksi, beliau menekankan bahwa pengalaman belajar dan bekerja di luar negeri seharusnya bermuara pada kontribusi nyata bagi Indonesia. Pengalaman berbisnis dan berkolaborasi internasional mengajarkan pentingnya membangun kepercayaan investor, kualitas talenta, serta kebijakan perusahaan yang mendukung keberlanjutan inovasi. Beliau juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, termasuk standar remunerasi yang kompetitif agar talenta nasional tidak kehilangan daya saing global.


Menurut beliau, percepatan perkembangan sains dan teknologi global menuntut generasi muda untuk adaptif dan inovatif. Indonesia memiliki potensi besar menuju visi Indonesia 2045, antara lain melalui revolusi industri nikel, ekonomi digital, dan kemandirian semikonduktor. Untuk mewujudkannya, diperlukan talenta riset yang kuat, peningkatan investasi penelitian, serta kolaborasi lintas sektor. Alumni LPDP yang jumlahnya puluhan ribu dipandang sebagai kekuatan strategis yang dapat menjadi motor perubahan jika terorganisasi dengan baik.


Beliau juga menekankan pentingnya transformasi konsep brain drain menjadi brain gain melalui penguatan jaringan diaspora, program fellowship internasional, serta kemitraan global dalam pengembangan keterampilan. Selain itu, program riset strategis berbasis tantangan nasional (challenge-based research) seperti ketahanan pangan, kesehatan, energi terbarukan, dan semikonduktor menjadi fokus penting untuk menjawab kebutuhan Indonesia.


Sebagai panduan praktis, beliau memperkenalkan lima rumusan pengembangan diri yang disingkat menjadi STORY. Pertama, Step-by-step, yaitu memahami bahwa proses pengembangan diri berlangsung bertahap dan saling berkaitan. Kedua, Target-oriented, yakni menetapkan target tinggi namun realistis agar arah pengembangan jelas. Ketiga, Open-minded, yaitu keterbukaan terhadap peluang, ide, dan kolaborasi baru. Keempat, Realistic yet unthinkable, yakni berpikir realistis namun tetap berani membayangkan terobosan besar. Kelima, You, yang menekankan bahwa kualitas individu, kemampuan adaptasi, literasi teknologi, kreativitas, dan komunikasi, menjadi faktor penentu utama.


Pada akhirnya, beliau menegaskan bahwa kemampuan bernarasi atau membangun story juga penting bagi awardee LPDP, bukan hanya untuk menyampaikan ide, tetapi juga untuk menggerakkan perubahan. Harapannya, pengalaman studi di luar negeri tidak sekadar menghasilkan pencapaian akademik pribadi, melainkan menjadi bekal kontribusi nyata untuk kemajuan Indonesia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar