Tampilkan postingan dengan label Chemistry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chemistry. Tampilkan semua postingan

Dalam dunia Kimia Material, khususnya bidang katalis, Layer Double Hydroxide (LDH) menjadi salah satu jenis material yang sangat menarik perhatian. LDH merupakan material anorganik berlapis dengan struktur yang khas dan karakteristik yang unik seperti jarak antarlayer, jenis, dan rasio logam yang dapat disesuaikan (Rohmatullaili et al., 2024). 


Secara umum LDH tersusun atas kation logam divalen (M2+) dan trivalen (M3+) yang terdistribusi merata dalam lapisan hidroksida, dengan rumus [M²⁺(1-x) M3+x(OH)2]x+(A-)x/m·nH2O, dimana A- merupakan anion yang terinterkalasi diantara lapisan (Bansal et al., 2025). 


LDH membentuk struktur yang menyerupai lapisan tipis 2 dimensi yang menyediakan situs aktif terbuka yang terdistribusi secara merata, sehingga memungkinkan efek memori struktural dan anion yang dapat dipertukarkan antar lapisan. Hal tersebut membuat kinerja katalitik LDH menjadi sangat baik. Tentu ini menjadi hal yang disukai oleh para peneliti.

Yuk mari kita pahami LDH secara gamblang dengan pemahaman sangat sederhana:

Bayangkan saja, LDH itu seperti sandwich yang sangat tipis, lapisannya terbuat dari logam seperti Magnesium (Mg) dan Aluminium (Al). Kemudian di antara roti-roti itu, ada isi berupa air dan partikel yang bermuatan negatif/anion.


Nah, yang membuat "sandwich kimia" ini menarik adalah:

1. Lapisan roti itu bisa dibuka-tutup, seperti puzzle, sehingga dapat dimasukkan bahan lain diantaranya (seperti ekstrak bahan organik, seperti bunga dll)

2. Kita dapat mengatur isiannya sesuai kebutuhan, dapat diganti, ditambah, atau dikurangi

3. Karena bentuknya tipis dan terbuka, zat-zat lain dapat dengan mudah menempel di permukaan sandwich ini, itulah sebabnya LDH dapat bekerja dengan baik sebagai katalis (zat yang membantu reaksi kimia)

Namun, ternyata LDH murni memiliki kelemahan. Ia dapat dengan mudah menempel satu sama lain, jadi menggumpal atau membentuk agregat. Selain itu LDH sulit dipisahkan kembali dari media air setelah digunakan. 

Untuk mengatasi hal itu, para peneliti memodifikasi LDH, contohnya mengisi isian antar lapisan dengan bahan lain (disebut interkalasi), atau membuat campuran LDH dengan bahan lain (komposit) (Ahmad et al., 2023). 

Modifikasi ini membuat LDH menjadi lebih kuat, dapat digunakan berulang kali, dan mendukung kinerja katalis lebih baik. Berikut merupakan ilustrasi sederhana LDH: 

Referensi

M. Bansal, B. Pal, Synergy of adsorption and visible light-induced photocatalytic degradation of doxycycline by cellulose modified Cu[sbnd]Al layered double hydroxide binary composite, Int J Biol Macromol 285 (2025). https://doi.org/10.1016/j.ijbiomac.2024.138329


R. Rohmatullaili, N. Ahmad, D. Erviana, Z. Zultriana, D. Savira, R. Mohadi, et al., Enhancing the performance of modified ZnAl LDH as hybrid catalyst-adsorbent on tetracycline removal under solar light irradiation, Inorg. Chem. Commun. (2024). 112101, https://doi.org/10.1016/j.inoche.2024.112101. 


N. Ahmad, F. Suryani Arsyad, I. Royani, P. Mega Syah Bahar Nur Siregar, T. Taher, A. Lesbani, High regeneration of ZnAl/NiAl-Magnetite humic acid for adsorption of Congo red from aqueous solution, Inorg. Chem. Commun. 150 (2023) 110517, https://doi.org/10.1016/j.inoche.2023.110517. 


#LDHbased-catalyst






Mendeley menjadi alat untuk membantu dan memudahkan para peneliti dan penulis dalam melakukan sitasi dan penulisan referensi dalam artikel. Terlebih jika penulis membutuhkan gaya penulisan sitasi dan referensi tertentu di sebuah jurnal yang ingin dipublikasikan. Nah bagaimana jika gaya sitasi yang disediakan oleh Mendeley di halaman Microsoft Word tidak sesuai dengan ketentuan jurnal yang tersedia ?

Aplikasi Mendeley tentu sudah memberikan solusi untuk permasalahan tersebut, namun tidak semua penulis sudah memahami dan mengetahui bagaimana membentuk pola yang diinginkan. 


Website Mendeley memberikan kebebasan bagi penulis untuk mengubah gaya penulisan sitasi dan referensi sesuai dengan jurnal yang akan dituju. Melalui website tersebut penulis dapat mencari pola penulisan terdekat dan memiliki kemiripan terbesar dengan style yang diinginkan, kemudian dapat dilakukan pengeditan pola penulisan. 


Berikut link yang dapat di akses untuk mencari style sitasi Mendeley https://csl.mendeley.com/about/

Tahapan membuat Custom Style Mendeley Cite :

1. Penulis dapat mencari style berdasarkan nama dan contoh pola sitasi dan referensi, kemudian jika sudah ditemukan yang paling cocok dapat di klik style tersebut. 

2. Klik edit style

3. Jika sudah silahkan klik menu style di pojok kiri atas, pilih menu save as style

4. Kemudian copy link yang muncul, dan paste di halaman referensi pada Microsoft Word 

5. Cari menu Add Custom Style --> paste link --> update citation style

6. Klik menu Insert Bibliography pada halaman referensi di Microsoft Word

7. Cek dan atur gaya penulisan (jenis dan ukuran font, spasi, dll)

Penulisan rumus senyawa kimia harus sesuai dengan tata nama IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry). Bagi pelajar atau mahasiswa bidang IPA tentu sudah tidak asing dengan subskrip atau superskrip dalam penulisan rumus senyawa kimia tersebut. Subskrip dan superskrip adalah karakter penulisan pada masing-masing senyawa yang diatur sedikit ke bawah atau ke atas dari garis normal tulisan, yang biasanya ditampilkan lebih kecil dari pada teks normal. Angka atau huruf yang terletak di bawah garis normal tulisan disebut subskrip, sedangkan yang terletak di atas garis normal tulisan disebut superskrip. 


Menuliskan rumus senyawa kimia di halaman Ms.Word tentu sangat mudah karena sudah tersedia fitur untuk mensubskrip atau superskrip, seperti pada gambar di bawah ini:


Namun penulisan rumus senyawa kimia sedikit berbeda jika menggunakan aplikasi untuk mensitasi sumber artikel, khususnya pada penyusunan daftar pustaka. Salah satu aplikasi yang sangat familiar bagi para penulis atau peneliti adalah Mendeley. Aplikasi tersebut dapat membantu dan mempermudah mengelola sitasi artikel penelitian dan penyusunan daftar pustaka. Aplikasi Mendeley hanya dapat memahami teks bukan konteks. Sehingga masih terdapat penulisan rumus senyawa kimia yang harus diperbaiki.

Berikut adalah contoh susunan daftar pustaka dari aplikasi Mendeley yang mengandung penulisan rumus senyawa kimia (highlight warna kuning):


Menurut tata nama IUPAC, penulisan tersebut kurang sesuai dikarenakan angka yang terdapat pada unsur atau senyawa kimia masih memiliki ukuran yang sama dan letak penulisan yang sejajar dengan teks normal. Maka untuk membenarkannya penulis harus kembali ke halaman sumber artikel pada aplikasi Mendeley, kemudian menambahkan kode agar angka dalam rumus senyawa kimia dapat ter-subskrip atau superskrip, seperti di bawah ini:

Pada halaman artikel di aplikasi Mendeley (kotak merah) ditambahkan kode pada sebelum dan sesudah angka yang akan di-subskrip seperti berikut: <sub>angka</sub>. Sedangkan untuk superskrip menggunakan kode <sup>angka</sup>. 

Kemudian klik menu Sync pada icon Tab aplikasi Mendeley untuk sinkronisasi hasil pengeditan dan menghasilkan penulisan rumus senyawa kimia yang sesuai dengan aturan IUPAC:


Tahap terakhir yang dilakukan adalah me-refresh semua bibliografi yang sudah disitasi dan menghasilkan susunan daftar pustaka dengan penulisan rumus senyawa kimia yang benar sebagai berikut: 








 

Link youtube VSS 2022

Department of Chemistry Education, Faculty of Mathematics and Science Education Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Green-Sustainable Chemistry for A Better Future 

Day 1

https://www.youtube.com/watch?v=fo9rJY6Tme0&t=408s 


Day 2

https://www.youtube.com/watch?v=gtOhQVXwxHk&t=1036s 


Day 3

https://www.youtube.com/watch?v=S2lK43YWj_c 


Day 4

https://www.youtube.com/watch?v=PolXCs9i1kA 


Day 5 

https://www.youtube.com/watch?v=uzaYyELz02A 


Day 6 

https://www.youtube.com/watch?v=sX8gDa6u2Pw 



pict source: https://id.pinterest.com/pin/775745104538560702/

 Alat:

  1. Hand refractometer
  2. Spatula
  3. Lampu
  4. Botol Semprot

Bahan: 

  1. Sampel liquid
  2. Aquades

Tahap analisa:

  • Siapkan hand refractometer
  • bersihkan permukaan kaca dengan aquades
  • keringkan dengan tisu sampai bersih
  • lakukan proses kalibrasi

Semprotkan aquades ke atas permukaan kaca prisma hand refractometer, kemudian tutup. Nyalakan lampu duduk dan arahkan hand refractometer ke arah lampu. Lihatlah angka yang terbaca (nilai 0). Kalibrasi selesai. 

  • keringkan permukaan kaca prisma dengan tisu bersih
  • letakkan sampel cair di atas permukaan kaca
  • tutup kaca 
  • atur range skala pengukurannya:

no 1. skala brix 0-42%

no 2. skala brix 42-71%

no 3. skala brix 71-90%

  • nyalakan lampu duduk dan arahkan hand refractometer di atasnya
  • lakukan pembacaan angka pada sampel 

pict source: pexels

Analisa kadar garam biasa dilakukan ke dalam sampel yang mengandung garam/ NaCl. Analisa ini bertujuan untuk mengetahu kadar kandungan garam pada suatu produk. Beberapa contoh kegiatan analisa ini dilakukan di industri makanan ringan dan ikan asin. 

Berikut merupakan alat, bahan dan tahap analisa kadar garam :

Alat: 

  1. Neraca analitik
  2. Spatula
  3. Kaca arloji
  4. Corong
  5. Labu ukur 200 mL
  6. erlenmeyer 100 mL
  7. Pipet volume 10 mL
  8. Pipet mikro 5 dan 10 mL
  9. Gelas beker 100 mL
  10. Botol Semprot 

Bahan: 

  1. Sampel (yang mengandung garam)
  2. Reagen AgNO3 0,1 N
  3. Indikator K2CrO4 4%
  4. Aquades

Tahap analisa:

  • timbang sampel ke gelas arloji 
2 g untuk sampel kadar garam <5%
1 g untuk sampel >5 sd 25%
0,5 g untuk sampel >25%

  • larutkan sampel dengan aquades ke dalam labu ukur 200 mL, tambahkan sampai garis miniskus
  • dikocok hingga larut sempurna
  • diambil larutan tersebut sebanyak 10 mL dengan pipet volume 
  • dimasukkan ke dalam erlenmeyer
  • ditambahkan dengan 2 tetes indikator K2CrO4 4%
  • dititrasi dengan larutan AgNO3 0,1 N sampai mencapai titik ekuivalen
  • dicatat volume larutan AgNO3 yang digunakan pada saat titrasi
  • dihitung kadar garam dengan rumus:
Kadar garam = ((Vol AgNO3 x N AgNO3 x BM NaCl x FP)/(berat sampel x 1000)) x 100%

note :

BM NaCl = 58,5

FP = Faktor pengenceran

Analisa Kadar Garam

by on Juli 06, 2022
pict source: pexels Analisa kadar garam biasa dilakukan ke dalam sampel yang mengandung garam/ NaCl. Analisa ini bertujuan untuk mengetahu k...

pict source: pexel

Tepung terigu memiliki kandungan protein yang tidak dapat larut dalam air yang disebut sebagai wheat gluten. Kadar tersebut dapat digunakan untuk menentukan kualitas tepung terigu yang digunakan.

 

Kadar gluten penting untuk dianalisis dalam beberapa produksi makanan yang menggunakan bahan dasar tepung terigu. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan mutu yang dihasilkan dalam setiap produk. Dengan adanya analisis kadar gluten maka dapat diketahui apakah tepung terigu yang digunakan sudah sesuai dengan standar yang telah ditentukan atau tidak. Pengawasan mutu pada tepung terigu dapat dilakukan dengan berbagai metode analisa, baik dengan analisa kimia, fisika dan juga organoleptik yang terdiri dari cek kondisi warna, bentuk, bau serta terdapat serangga atau kotoran lainnya. 

 

Proses pengujian kadar gluten sebagai berikut :


Alat : 


1. Spatula

2. Mangkok melamin

3. Neraca analitik

4. Botol semprot

5. Kertas whatman 40 mm

6. Oven

7. Desikator

8. Penjepit dan serbet


Bahan :


1. Tepung terigu

2. Aquades/air

3. NaCl 0,1 N


Tahap analisa :

  • ditimbang sampel sebanyak 10 g di dalam mangkuk melamin
  • ditambahkan sedikit demi sedikit larutan NaCl 0,1 N sampai menjadi adonan (adonan dianggap selesai bila sudah kalis)
  • direndam adonan ke dalam air selama ± 2 jam
  • dibersihkan dan dicuci dengan air mengalir adonan tersebut dari sisa patinya sampai diperoleh gluten yang bersih (untuk mengetahui gluten sudah bersih dapat memeras gluten di dalam air bersih. Bila air bilasan masih keruh berarti gluten masih mengandung sisa-sisa pati)
  • siapkan kertas saring whatman dan ditimbang
  • keringkan gluten yang sudah bersih dengan serbet kering agar kadar airnya berkurang
  • letakkan gluten dan kertas saring yang sudah ditimbang beratnya di atas neraca analitik
  • catat berat gluten
  • dimasukkan sampel tersebut ke dalam oven selama 30 menit pada suhu 170°C
  • dikeluarkan sampel dari oven
  • dimasukkan ke dalam desikator
  • ditimbang sampel yang telah dikeringkan dan didinginkan pada suhu ruang
  • dihitung kadar dry dan wet gluten dengan rumus:  

% dry gluten = ((Berat kertas saring + gluten hasil oven) - (Berat kertas saring)/Berat sampel tepung) x 100%
% wet gluten = (Berat gluten basah/berat sampel tepung) x 100%

nb : berat dalam satuan gram

 

pict source: pinterest
Analisa kadar asam lemak bebas atau free fatty acid (FFA) biasanya digunakan di laboratorium kimia, bilogi, pangan dan masih banyak lagi. Kadar asam lemak bebas biasanya berpengaruh terhadap mutu dari suatu material atau produk yang dihasilkan. 

Berikut merupakan alat, bahan yang digunakan dan prosedur yang dilakukan: 

Alat : 

1. Buret mikro 10 mL

2. Erlenmeyer 250 dan 500 mL

3. Gelas ukur 50 mL

4. Ball pipet

5. Pipet ukur 10 mL

6. Gelas beker 100 mL

7. Hotplate

8. Neraca analitik

Bahan :

1. Sampel (berupa minyak goreng)

2. Larutan NaOH 0,1N

3. Indikator PP 1%

4. Alkohol 96%


Tahap analisa :

A. Pembuatan alkohol netral

- masukkan alkohol 96% ke dalam erlenmeyer

- tambahkan 2 tetes indikator pp

- di titrasi dengan NaOH 0,1N sampai larutan berwarna merah muda segar

- diletakkan diatas hotplate dan dipanaskan selama 15 menit pada suhu 90°C

B. Analisis asam lemak bebas 

- masukkan sampel ke dalam erlenmeyer (56,4 ± 0,1 g)

- tambahkan 50 mL alkohol netral

- tambahkan 2 mL indikator pp 1%

- dititrasi dengan NaOH 0,1N (sampai membentuk warna merah muda)

- dicatat volume NaOH yang digunakan selama proses titrasi

- hitung kadar FFA dengan rumus :

% FFA = ((Vol NaOH x N NaOH x BM)/(berat sampel x 1000)) x 100%

BM : berat molekul


BM FFA : 

Asam palmitat = 256 g/mol

Asam laurat = 200 g/mol

Asam oleat = 282 g/mol


 


Image-J merupakan salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk analisis gambar dari hasil karakterisasi dengan SEM atau PSA. Jenis analisis ini biasa digunakan dalam bidang kimia, biologi, fisika dan kesehatan. Cara mendapatkan dan menggunakan software Image-J secara umum dapat dilihat pada tulisan saya disini. 
Salah satu kegunaan software Image-J yang menjadi menarik adalah penentuan distribusi ukuran partikel atau persebaran rata-rata ukuran partikel yang diperoleh. Pada penentuan kali ini menggunakan dua software yakni Image-J untuk menentukan data ukuran partikel dan Origin untuk mengolah data dari Image-J menjadi sebuah grafik. 

Cara penentuan distribusi partikel dengan aplikasi Image-J sebagai berikut: 
1. Buka software Image-J
2. Siapkan gambar hasil karakterisasi dengan SEM atau PSA (JPEG), dengan cara klik File > Open > pilih gambar > Ok
3. Klik icon line/garis pada tool bar, tarik garis lurus sepanjang skala pada gambar 
4. Atur skala yang dipilih 
- klik analyze > set scale > klik to remove scale
- isilah kolom known distance dengan skala yang sesuai pada gambar 
- isilah unit of length dengan satuan skala yang sesuai pada gambar
- klik ok 
5. Klik icon line/garis 
6. Pilih salah satu partikel, boleh vertikal atau horizontal
7. Tarik garis sesuai dengan ukuran partikel yang dipilih 
8. Klik analyze > measure 
ulangi tahap yang sama sebanyak 30-40 partikel yang berbeda
9. Copy keseluruhan data length yang muncul pada tabel result untuk di olah dengan software Origin
Cara penentuan distribusi ukuran partikel dengan software Origin sebagai berikut: 
1. Buka software Origin 
2. Paste data yang sudah di copy dari software Image-J ke dalam tabel sumbu Y Origin
3. Klik plot > histogram distribution 
Contoh grafik distribusi ukuran partikel :

Untuk mengetahui rata-rata ukuran dari 30 partikel yang berbeda :
1. Klik kanan pada sumbu Y Origin
2. Klik static on column > open dialog > ok
3. Hasil rata-rata distribusi ukuran partikel dapat dilihat pada tabel "mean"

Berikut aplikasi online yang dapat digunakan sebagai solusi praktikum online berbasis Sains, khususnya mata pelajaran Kimia, Biologi, dan Fisika. 

1. PheT  https://phet.colorado.edu/

2. IrYdium Chemistry Lab
(Pastikan pc/laptop sudah terinstall Java, jika belum silahkan download dan install terlebih dahulu)
http://chemcollective.org/vlab_download

Versi web : http://chemcollective.org/activities/vlab/1


Untuk merekam aktivitas siswa juga dapat dilakukan dengan aplikasi screen capture dibawah ini: 

Screen Recorder 

Screenpresso

Snipping Tools

Source pict: Library of Congress


Kenapa pada saat memotong bawang merah dapat membuat kamu menangis?

Sepertinya sudah sangat sering dialami oleh siapapun yang berinovasi dalam dapur. Bawang merah yang disakiti, kenapa kamu yang menangis? entahlahh, sulit dipahami.  


Ada yang menarik saat membaca halaman Library of Congress, Fun Science Facts from the Library. Semua yang rumit bisa kita temui dengan sangat ringan. Termasuk salah satu misteri "menangis karena bawang merah, atau karena dia?" uhuk. 

---------

Seperti bumbu dapur yang lain, bawang merah atau biasa disebut orang Jawa Timur sebagai brambang, tumbuh di dalam tanah dengan tangkai tandan bunga yang panjang. Tentunya, didalam tubuh bawang merah mengandung banyak sekali senyawa aktif yang sangat kaya akan manfaat baik dibidang kesehatan ataupun sebagai penyedap rasa pada makanan. Senyawa yang terkandung di dalam bawang merah sebagai agen efektif melawan pertumbuhan jamur dan bakteri; melindungi dari penyakit kanker perut, usus, dan kulit; memiliki kemampuan antiinflamasi, antidiabetik dan antialergenik. 


Salah satu kandungan bawang merah adalah asam amino sulfoksida. Senyawa asam tersebut sebagian besar terbentuk dari penyerapan asam sulfat di dalam tanah oleh bawang merah. Pada saat bawang merah terkupas, terpotong dan hancur, ia akan melepaskan enzim lychrymatory-factor-synthase dan bercampur dengan asam amino sulfoksida yang akan membentuk asam sulfenat. Namun secara kimiawi, senyawa tersebut tidak stabil dan akan melakukan penataan ulang dirinya untuk membentuk syn-propanethial-S-oxide, senyawa kimia yang memicu air mata. Rumus molekul senyawa tersebut ditentukan oleh W. Niegisch dan WH Stahl pada Tahun 1956. 


Nahh, senyawa syn-propanethial-S-oxide dapat berada di udara yang nantinya akan bersentuhan dengan mata kita dan merangsang kelenjar lakrimal (kelenjar air mata) untuk mencoba mengeluarkan senyawa kimia tersebut. Refleks yang terjadi merupakan salah satu upaya mata dalam menangkis senyawa kimia yang masuk dan mengakibatkan mata kita berair. Tidak hanya itu, senyawa kimia tersebut juga dapat mengembun dan membentuk tiosulfinat yang berbau tajam, seolah-olah bau itulah yang menyebabkan mata menangis. Hanya tuduhan palsu-


So, jika ingin tetap nyaman dalam memasak, bawang merah dapat dipanaskan terlebih dahulu sebelum dipotong untuk mengubah sifat enzim didalamnya, atau bahkan dapat memotong bawang merah di teras rumah yang berangin. Namun jangan salah, kenikmatan indrawi dan efek yang menyehatkan yang berasal dari aroma bawang merah adalah kenikmatan yang sangat luar biasa.. 


Meskipun bawang merah sering membuat kecewa, tentunya dia tidak akan tergantikan jika diiris tipis dan digoreng dengan minyak panas yang dapat digunakan sebagai penyedap rasa pada sup, bubur ayam dan soto, misalnyaa~ hehe


Jadi, kesimpulannya adalah unstable chemicals pada bawang merah lah yang menyebabkan mata kita menangis pada saat memotong dan menghancurkannya. Yah, sesuatu yang tidak stabil pasti akan mencari kestabilan agar dia bisa hidup tenang. Percayalah..

 


Image J merupakan salah satu program analisis gambar yang biasa digunakan untuk mengolah data Scanning Electron Microscope (SEM). Image J dapat mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif yang dapat ditampilkan dengan grafik. Aplikasi Image J dapat di download melalui https://imagej.nih.gov/ij/download.html. 


Program ini sangat familiar terhadap peneliti sains yang mempelajari morfologi pada suatu sampel. dengan aplikasi Image J, gambar hasil analisis SEM dapat dikalibrasi ukuran pixel pada gambar dengan ukuran acuan pada hasil analisis yang berupa garis dengan skala untuk menunjukkan tingkat perbesaran yang dilakukan.


Cara penggunaan aplikasi Image J untuk analisis hasil SEM sebagai berikut:

1. Download aplikasi melalui link yang tersedia di atas 

2. Instal Aplikasi Image J 

3. Buka dan siapkan gambar hasil SEM yang akan dianalisis (JPEG)

4. Pilih icon garis pada tool bar, gambar garis lurus sepanjang ukuran acuan pada gambar

5. Atur skala yang dipilih 

    Klik analyze -> set scale 

6. Masukkan nilai ukuran acuan yang diinginkan dalam kolom yang disediakan

7. Ceklis global untuk menggunakan pengaturan kalibrasi yang dibuat, sampai Image J di tutup. 


Hasil analisis morfologi sampel dengan SEM dapat dicontohkan pada gambar berikut ini : 

Hasil SEM

Hasil analisis Image J


Seperti halnya dengan manusia, tumbuhan juga membutuhkan kombinasi beberapa komponen seperti air, sinar matahari, CO2, dan juga nutrisi seperti nitrogen dan fosfor agar tetap tumbuh, berkembang, dan bereproduksi. Nutrisi merupakan salah satu komponen yang penting pada proses hidup tumbuhan. Nutrisi tersebut diserap oleh tumbuhan dari dalam tanah melalui akar-akarnya. Sehingga kondisi tanah sangat berpengaruh terhadap kandungan nutrisi yang akan diserap oleh tumbuhan tersebut.


Kandungan nutrisi yang terdapat pada tanah pun sangat beragam. Kondisi tanah yang buruk seperti mengalami pengikisan lapisan tanah/erosi, drainase tanah yang kurang baik dan juga terapat penguapan unsur-unsur hara didalamnya merupakan kondisi yang tidak diinginkan. Hal tersebut dapat mengurangi tingkat kesuburan tanah pada lahan pertanian. Oleh karena itu sebagian besar para petani memberikan perlakuan agar dapat memperkaya nutrisi pada tanah salah satunya dengan cara pemberian pupuk.


Namun, beberapa petani tidak mengetahui seberapa banyak tanah dapat menyerap pupuk yang diberikan. Akibatnya tidak sedikit para petani memberikan pupuk secara berlebihan atau dalam jumlah yang banyak dengan harapan tanah yang akan ditanami oleh tumbuhan dapat menjadi sangat subur. Padahal sebagian nutrisi dan zat hara pada tumbuhan maupun tanah akan ikut terbawa oleh hujan atau saluran irigasi ke badan air dan akan bermuara di kolam, waduk, danau, bahkan laut.  


Pupuk memang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan, akan tetapi semakin banyak pupuk yang diberikan pada tanah, maka akan semakin banyak nutrisi yang terlarut dalam perairan. Begitu juga kandungan nutrisi dan zat hara memang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan fitoplankton yang merupakan makanan bagi ikan dan udang. Namun jumlah nutrisi dan zat hara yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan fitoplankton dan juga alga. Pertumbuhan tersebut sangatlah cepat bahkan tidak terkendali. Permukaan perairan akan dipenuhi oleh lapisan alga, berwarna hijau kekuningan dan disertai dengan bau tak sedap. Bahkan alga jenis blue-green atau cyanobacteria diketahui mengandung toksin yang berbahaya dan mengganggu kesehatan manusia dan hewan maupun produktivitas biota perairan.


Kondisi perairan tersebut dinamakan proses eutrofikasi. Proses eutrofikasi dapat mengakibatkan terhalangnya sinar matahari yang masuk di perairan. Sehingga akan mengganggu ekosistem yang terdapat pada dasar perairan baik tumbuhan ataupun ikan. Tanpa adanya cahaya matahari yang masuk, tumbuhan didasar perairan tidak dapat melakukan fotosintesis. Hal tersebut menyebabkan nutrisi yang dimiliki tumbuhan atau ikan akan habis untuk bertahan hidup dan lingkungan perairannya tidak dapat memberikan support untuk mempertahankan kehidupannya kemudian secara perlahan tumbuhan dan ikan akan mati tenggelam didasar perairan.


Tidak cukup sampai disitu, tumbuhan dan ikan yang mati tenggelam akan diuraikan oleh bakteri dan dekomposer pada dasar perairan. Proses dekomposisi tersebut juga memerlukan kandungan oksigen yang tidak sedikit. Sehingga kandungan oksigen terlarut dalam badan air juga akan berkurang dan sangat mengganggu ekosistem perairannya.


Oleh karena itu, agar ekosistem tetap terjaga maka perlu dilakukan pencegahan eutrofikasi dengan cara mengurangi penggunaan pupuk yang berlebihan pada tanah dan tumbuhan, mengurangi pembuangan limbah baik dari rumah tangga maupun perusahaan ke badan air, dan juga tidak menggunakan bahan peledak atau racun pada ekosistem perairan. Selain menyebabkan tumbuhan dan ikan mati, kondisi eutrofikasi pada permukaan air juga menyebabkan menurunnya nilai konservasi, estetika dan juga pariwisata lingkungan perairan. Sehingga dibutuhkan biaya operasional yang besar untuk mengatasinya.

 

(Pict source: Andrew Lambert)

Prosedur kerja sintesis kristal garam rangkap
Besi (II)-amonium sulfat
  • Timbang  4 gram serbuk besi, kemudian cuci dengan aseton, jika perlu dicuci dengan detergen untuk melepaskan minyak atau oli yang menempel sampai bebas lemak. Larutkan dengan asam sulfat pekat yang telah dicampur dengan akuades 10ml. Larutan dipanaskan pada suhu  100°C sampai jenuh hingga terdapat kekeruhan yang menempel pada dinding gelas atau permukaan larutan.
  • Larutan disaring dalam keadaan panas. Residu serbuk besi yang tidak terlarut di keringkan kemudian ditimbang.
  • (A). Sementara itu siapkan larutan ammonium sulfat dengan jumlah yang ekivalen dengan banyaknya besi yang terlarut. Netralkan larutan tersebut dengan menambahkan asam sulfat atau larutan NH4OH. Kemudian panaskan sampai jenuh.(B). Sementara itu campurkan larutan NH4OH pekat sebanyak 10ml dengan larutan H2SO4 pekat sebanyak 3,5ml. Netralkan larutan yang terbentuk.
  • Lalu campurkan kedua larutan dalam keadaan panas. Jika perlu panaskan larutan campuran sampai volume berkurang ½ dari volume awal. Biarkan larutan sampai teramati tumbuhnya kristal besi (II)-amonium sulfat yang berwarna hijau muda. Kristal yang diperoleh disaring dan ditimbang untuk mengetahui massa yang terbentuk.
- Good Luck ! Semoga berhasil -

Metal Organic Framework (MOF)
Metal Organic Framework (MOF) merupakan suatu golongan material hibrida organic-anorganik yang dibangun dari klister logam yang saling berhubungan melalui suatu ligan rantai organic (Choi dkk., 2008). Secara umum MOF merupakan jaringan koordinasi dengan ligan organic yang membentuk suatu rongga. MOF terdiri atas ion logam dan molekul organic yang dapat disebut sebagai lingker. Lingker dapat berupa ligan mono-, di-, tri-, atau tetravalent (Batten dkk., 2013).
Beberapa jenis kelompok MOF yang telah dipelajari antara lain Metal Organic Frameworks (MOF), Zeolitic Imidazolate Frameworks (ZIF), Hongkong University of Science and Technology (HKUST) dan Zirconium Metal Organic Frameworks (UiO) (Kuppler dkk., 2009). Macam-macam bentuk dari MOF ditampilkan pada gambar berikut ini (Tan dkk., 2015 dan Zhuang dkk., 2016): 


MOF banyak diaplikasikan sebagai material penyimpan gas, adsorpsi gas, pemisahan, sensor kimia, dan juga katalis (Lin dkk., 2013  dan Nandasiri dkk., 2015). MOF banyak dikembangkan karena sifatnya yang unik seperti porositasnya yang besar (50-90% volumenya berongga),luas permukaan yang tinggi, dan derajat kristalinitas yang tinggi. Namun MOF juga mempunyai kekurangan seperti stabilitas termal yang rendah karena beberapa jenis MOF sensitif terhadap air, pelarut organik, atau senyawa asam-basa (Xiao dan Thomas., 2005). Kerusakan gugus aktif katalis MOF dapat menyebabkan aktivitas katalitiknya menurun. Akan tetapi pemilihan precursor dan penambahan material lainnya dalam proses sintesis MOF dapat mengubah sifat-sifat MOF sehingga dapat diperoleh katalis yang diinginkan (Zhang dkk., 2015).  

Metal Organic Framework (MOF)

by on Juli 23, 2020
Metal Organic Framework (MOF) Metal Organic Framework (MOF) merupakan suatu golongan material hibrida organic-anorganik yang dibangun dar...

Tabel d3 Microstate


-1 1/2
-1/2
+1/2
+11/2
+5
-
2+ 2- 1-
2+  2- 1+
-
+4
-
2+ 2- 0-
2+ 2- 0+
-

2- 1- 1+
2+ 1+ 1-

+3
2- 1- 0-
2+ 1- 0-
2+ 1- 0+
2+ 1+ 0+

2- 1+ 0-
2­- 1+ 0+


2- 1- 0+
2+ 2- -1+


2- 2+ -1-
2+ 1+ 0-

+2
2- 1- -1-
2+ 1- -1-
2+ 2- -2+
2+ 1+ -1+

2- 1- -1+
2- 1+ -1+


2- 1+ -1-
2+ 1- -1+


2+ 2- -2-
2+ 1+ -1-


1+ 1- 0-
2+ 0- 0+


2- 0+ 0-
1-1+ 0+

+1
2- 1- -2-
2- 1- -2+
2- 1+ -2+
2+ 1+ -2+
2- 0- -1-
2- 1+ -2+
2+ 1- -2+
2+ 0+ -1+

2- 0- -1+
2+ 0- -1+


2- 0+ -1-
1+1- -1+


2+ 1- -2-
2-0+ -1+


2+ 0- -1-
2+ 1+ -2-


1+ 1- -1-
2+ 0+ -1-


1-0+ 0-
1+0+0-

0
2- 0- -2-
2+ 0- -2-
2+ 0+ -2-
2+ 0+ -2+
1- 0- -1-
2- 0+ -2-
2+ 0- -2+
1+ 0- -1+

1+ 1- -2-
2- 0+ -2+


2- 0- -2+
1+1- -2+


2- -1+ -1-
2+ -1+ -1-


1+ 0- -1-
1+ 0+ -1-


1-0+ -1-
1+ 0- -1+


1-0- -1-
1-0+ -1+

-1
1- 0- -2-
0+ 0- -1-
0+ 0- -1+
1+ 0+-2+
2--1--2-
2- -1- -2+
2- -1+ -2+
2+-1+-2+

2+ -1- -2-
2+ -1+ -2-


1- 0- -2+
2+ -1- -2+


1- -1+ -1-
1+ 0+ -2-


2- -1+ -2-
1- 0+ -2+


1- 0+ -2-
1+ 0- -2+


1+ 0- -2-
1+ -1+ -1-

-2
1- -1- -2-
1+ -1- -2-
1+ -1+ -2-
1+-1+-2+

1- -1- -2+
1+ -1- -2+


1- -1+ -2-
1- -1+ -2+


2- -2+ -2-
2+ -2+ -2-


0- -1+ -1-
0+ -1+ -1-


0+ 0- -2-
0+ 0- -2+

-3
0- -1- -2-
0+ -1- -2-
0+ -1+ -2-
0+-1+-2+

0- -1- -2+
0- -1+ -2+


0- -1+ -2-
0+ -1- -2+


1- -2+ -2-
1+ -2+ -2-

-4
-
0- -2+ -2-
0+ -2+ -2-
-

-1+ -1- -2-
-1+ -1- -2+

-5
-
-1- -2+ -2-
-1+ -2+ -2-
-

Term Symbol untuk Konfigurasi d3
ML/MS
-1 1/2
-1/2
+1/2
+11/2
+5

x
x

+4

x x
x x

+3
x
x x x x
x x x x
x
+2
x
x x x x x x
x x x x x x
x
+1
x x
x x x x x x x x
x x x x x x x x
x x
0
x x
x x x x x x x x
x x x x x x x x
x x
-1
x x
x x x x x x x x
x x x x x x x x
x x
-2
x
x x x x x x
x x x x x x
x
-3
x
x x x x
x x x x
x
-4

x x
x x

-5

x
x


Term Symbol :
4F, 4P, 2H, 2G, 2F, 2D, 2D, 2P
Ground State : 4F
Karena 4F memiliki nilai multiplisitas terbesar. Selain itu jika dibandingkan dengan nilai multiplisitas tertinggi lainnya (4P), 4F memiliki nilai L yang lebih besar.
Ground state diperoleh pada nilai multiplisitas dan nilai L yang terbesar. Sehingga Ground State pada konfigurasi d3 adalah 4F