Tampilkan postingan dengan label NU Scholarship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU Scholarship. Tampilkan semua postingan


Jakarta, 13/07

On a bright and promising morning in March 2024, the recipients of the NU Scholarship gathered with great enthusiasm at Kebun Raya Bogor. This field trip was not merely a recreational outing but a vital component of our Writing Project program, designed to enrich our understanding of linguistic landscapes in public spaces. As part of our academic exploration, we were tasked with observing, documenting, and analyzing the use of language displayed in various signs, inscriptions, and information boards scattered across five key locations within the garden: Museum Zoology, Makam Belanda, the memorial of Ratu Galuh Mangku Alam Prabu Siliwangi, Rumah Kaca Anggrek, and Taman Akuatik.


Our journey began at the Museum Zoology, an iconic destination at Kebun Raya Bogor. As we walked through the entrance, we were immediately greeted by bilingual signage in both Indonesian and English, providing clear navigation and informative descriptions of the exhibits. The museum’s linguistic landscape emphasized accessibility for international visitors, with scientific terminology carefully translated, making the space both educational and inclusive. We noted how the formal language used in the explanatory panels reflected a scientific register, while certain labels employed more approachable terms to engage younger audiences.


The next stop was Makam Belanda, a quiet and historical resting place of Dutch colonial figures. Here, the linguistic landscape shifted significantly. The epitaphs and plaques on the tombstones were predominantly in Dutch, with weathered inscriptions that told silent stories of the past. Some signs provided translations in Indonesian, although not consistently. This mixture of languages gave us an opportunity to reflect on the layered history of the site and how language plays a role in preserving or obscuring historical narratives.


Our third destination was the sacred site dedicated to Ratu Galuh Mangku Alam Prabu Siliwangi. Unlike the previous sites, this area was rich with traditional and spiritual nuances. The signage, written predominantly in Indonesian with traces of Sundanese, conveyed messages of respect and local wisdom. Phrases such as "Dilarang Berbuat Tidak Sopan di Area Ini" (Do Not Behave Improperly in This Area) were common, reflecting both the sacredness of the space and the community's cultural norms. We discussed how language here served as a bridge between cultural reverence and public instruction.


After a brief rest, we continued to Rumah Kaca Anggrek, the greenhouse showcasing various species of orchids. The linguistic landscape here was more botanical, filled with Latin nomenclature and detailed descriptions in Indonesian. The signage aimed at educating visitors about plant conservation while promoting national pride in Indonesia’s biodiversity. We observed that while scientific language was dominant, occasional poetic expressions were used to capture the beauty of the orchids, such as "Sang Primadona Tropis" (The Tropical Prima Donna).


Our final stop was Taman Akuatik, a beautifully designed aquatic garden. The signs here were minimalistic yet informative, with instructions in Indonesian reminding visitors to respect the environment—“Jangan Membuang Sampah Sembarangan”—and descriptions of aquatic plants written in both Indonesian and English. We analyzed how the language choice catered to both local and international audiences, subtly promoting environmental stewardship through concise messaging.


Throughout the field trip, we engaged in active discussions about the role of linguistic landscapes in shaping visitors' experiences and understanding of public spaces. This journey was not just an exploration of language, but also a deeper reflection on how history, culture, and science are communicated through signs and symbols.


As NU Scholarship 2024 awardees, this field trip provided us with invaluable insights for our Writing Project. Each location offered unique linguistic data that we will analyze further in our essays. Beyond the academic exercise, the experience fostered a sense of community among us, inspiring collaboration and shared learning.


By the end of the day, as we gathered for a group reflection beneath the towering trees of Kebun Raya Bogor, we realized that this field trip had expanded not only our academic horizons but also our appreciation for the rich tapestry of language and culture that surrounds us every day.

#NUScholarship2024


Jakarta, 29/06

Sore ini kami para penerima beasiswa NU Scholarship bersama menghadiri materi tentang Diaspora NU oleh Kyai Dede Permana. Sedikit mengenal beliau, Kyai Dede berkesempatan belajar di Luar Negeri dengan beasiswa 5000 doktor angkatan pertama pada tahun 2012-2017. Beliau belajar di Universitas Tunisia yang merupakan negara Arab yang sangat Liberal. Bahkan seandainya beliau tidak mendengar suara Adzan maka tidak akan menyangka jika hidup di negara mayoritas muslim. 


Sebelumnya, beliau berkesempatan belajar di Mesir pada tahun 2001-2005. Dan saat ini Kyai Dede menjadi Dosen di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, juga sebagai Kepala Pusat Moderasi Beragama disana. 


Pengasuh pondok pesantren Darul Iman tersebut mengatakan bahwa belajar di luar negeri memang bukan jaminan lebih baik dari di Indonesia, namun itu merupakan kesempatan emas. Fasilitas memadai, akses referensi, atmosfer belajar multi budaya, dan juga memiliki kesempatan berinteraksi dengan warga lokal. Beliau juga menyampaikan bahwa yang menjadi kunci dimanapun keberadaan proses belajar kita nanti, jangan pernah lupa dengan identitas ke NU an kita. 


Sebagai kader NU yang berhasil menempuh pendidikan luar negeri, beliau berbagi kepada kami tentang Diaspora NU. Benih Diaspora NU di luar negeri berawal dari para mahasiswa NU yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU). Pada saat Gus Dur menjadi Presiden (1999-2001), terdapat sekelompok Islam garis keras yang sering membuly beliau di Yahoogroup. Kemudian hal tersebut mendorong para mahasiswa NU di luar negeri untuk mendirikan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU). Mereka yang kuliah di Belanda membentuk PCINU Belanda, begitupun yang Jerman, Inggris dan negara lainnya. Sampai saat ini sudah terdapat 33 PCI, dan Inggris Raya adalah PCI pertama yang ber SK di tahun 2001.


Selanjutnya seperti tradisi NU pada umumnya, disanapun mahasiswa yang merupakan kader NU tetap mengadakan rutinan seperti yasinan, tahlilan, maulid atau berzanji. Kemudian didukung oleh suara PKB di Saudi yang sangat tinggi pada proses Pemilu 1999, Pak Fuad pun mengatakan jika itu adalah salah satu potensi NU. 


Saat ini peran Diaspora NU sangat beragam jika dibandingkan dengan masa lalu. Dulu anak muda NU umumnya hanya belajar ilmu keagamaan ke Timur Tengah, namun belakangan ini banyak yang juga mempelajari Sains dan Teknologi di negara wilayah Eropa dan Amerika. Hal tersebut dikarenakan persoalan umat saat ini bukan hanya tentang fikih, akidah, halal-haram, dan lainnya. Tetapi lebih dari hal itu, termasuk permasalahan dalam hal pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.


Kader-kader NU yang tersebar di luar negeri dapat diperankan sebagai duta besarnya NU. Baik secara akademik hingga politik, ekonomi, sosial dan budaya. Relasi Diaspora NU juga sangat luwes, cair, tidak kaku. Sejumlah kader cerdas NU juga mulai bermunculan sejak dulu di luar negeri, seperti Ainun Najib yang merupakan praktisi IT yang saat ini bekerja di IBM Singapura, Taufik Wijanarko di Inggris, Miftahul Huda di Jepang yang menjadi ketua PCINU disana, dan masih banyak lagi. Anak-anak muda tersebut sangat terbuka dan senang dalam berdiskusi dan berbagi dengan para kader-kader NU yang ingin melanjutkan pendidikan lebih jauh di luar negeri. Dan sejauh ini, wajah Islam ala Indonesia dapat diterima dengan baik di luar negeri karena dikenal kompatibel dengan budaya lokal. 


#NUScholarship2024




Fauziah Fakhrunnisa Rochman berkesempatan belajar di Amerika-Kanada. Beliau melanjutkan studi S2 di Amerika dan S3 di Kanada dengan fokus penelitian Ilmu Lingkungan. Sebagai pengurus Wakil Ketua di PCINU Amerika Serikat beliau sangat senang berbagi pengalaman kepada para penerima beasiswa NU Scholarship dari Lakpesdam PBNU yang saat ini menjalankan karantina bersama.

 

Berawal sejak pertama kali pindah ke Indonesia, Fauziah sedikit kaget dengan kondisi sampah dan polusi yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Dari hal itu Ia merasa terpanggil untuk ikut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan nyaman. 


"Alam telah memberikan banyak pelajaran kepada saya, sehingga saya sangat menyukai isu-isu yang timbul dari alam dan lingkungan yang langsung bersinggungan dengan kita sebagai makhluk hidup", ungkapnya. 


Keterbatasan teknologi pada saat itu di Indonesia serta keinginan tinggi saya dalam mengetahui bagaimana kondisi lingkungan dan pengolahan limbah yang efektif di luar negeri, Fauziah mencoba dengan gigih mendaftar beasiswa dari kampus yang ingin dituju, yakni Yale University, Amerika untuk tingkat magister dan University of Calgary, Kanada untuk doktoral. Pada tahun 2008, tahun pertama mendaftar beasiswa S2, penggunaan internet belum se-masif saat ini. Sehingga Ia cukup struggle dalam memperjuangan studi lanjut yang akan dijalani. 


Karena ketagihan dengan fasilitas dan teknologi yang bagus dan cukup berbeda dengan Indonesia, beliau melanjutkan studi doktoral dan penelitian di bidang sains dan lingkungan khususnya mikrobiologi dengan beasiswa. 


"Belajarnya gratis, malah saya bisa jalan-jalan dan mencari pengalaman di negara terbersih di dunia no. 3 dan dibiayai, kenapa tidak?", sambungnya. 


Fauziah sangat bersyukur dapat menikmati proses belajar yang memiliki banyak manfaat. Selain dapat belajar dengan gratis, Ia juga dapat bergabung dengan banyak komunitas dan organisasi di Amerika-Kanada yang menjadi salah satu peluang emas dalam berjejaring. 


Lingkungan di zona Amerika-Kanada sangat nyaman bagi Fauziah, sampai Ia dan keluarganya hidup selama 13 tahun disana. Bahkan dulu pada saat menikah, dengan keterbatasan jarak, Ia memilih untuk melangsungkan secara online. Suami dan keluarga besarnya berada di Jepara, sedangkan Fauziah berada di Amerika. 


Kesadaran dalam mengolah sampah di lingkungan sekitar, bahkan di kota sekalipun, sangat menarik. Beliau menayangkan beberapa video dan foto lokasi beberapa tempat umum disana. Banyak yang menarik perhatian kami, salah satunya adalah tempat sampah. Bentuk dan ukuran tempat sampah di Kanada sangat unik dan modern. Pemetaan jenis sampah sangat diperhatikan, seperti organik, plastik, kertas, dan yang tidak bisa diolah kembali yang nantinya akan langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Bahkan ada semacam layar untuk mengscan sampah yang akan dibuang, dengan bantuan AI selanjutnya akan muncul tanda yang akan mengarahkan jenis sampah apa dan harus dibuang disebelah mana. 


Hal-hal sederhana seperti itulah yang membuat Fauziah bangga mendapatkan kesempatan belajar tentang di lingkungan disana. Dapat dibayangkan bagaimana teknologi membantu dalam pengolahan lingkungan pada isu-isu yang lebih besar dari pada sampah sehari-hari.   

#NUScholarship2024

Jakarta, 27/06

Dr. Renny Nurhasana, MA- Ketua klaster Riset Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, membersamai materi pada sesi siang hari ini. Beliau menjelaskan bahwa cara utama agar dikenal oleh supervisor dengan memberikan CV atau proposal penelitian. Tugas kita adalah bagaimana menjadi berkesan, dikenal dan menarik untuk dipahami oleh reviewer. 


Langkah awalnya adalah memulai menulis draft penelitian, mencari literatur review, dan memfokuskan bidang minat riset yang akan ditekuni. 


Hal pertama yang harus dilakukan yakni menganalisis Metodologi Penelitian. Syahru&salim (2012) menyebutkan jika Metodologi adalah sebuah ilmu untuk mempelajari langkah-langkah dalam sebuah penelitian. 


Kenapa kita butuh riset ? karena riset merupakan jembatan antara teori dan kenyataan. Yang dilakukan dalam riset adalah menambah pengetahuan sedikit demi sedikit yang nantinya akan melengkapi sesuatu yang belum mengetahui jawabannya, meskipun sudah ada hipotesisnya.

 

Kemudian dibutuhkan Desain Penelitian agar kajian kita tidak akan menyebar kemana-mana. Harus ada batasan dan acuan rencana sistematis yang digunakan dalam mempelajari masalah ilmiah. 


Dalam Desain Penelitian mencakup metode dan prosedur yang digunakan untuk melakukan penelitian. Semakin detail desain penelitian maka semakin menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh peneliti. 

_______________________________________________________________

Jenis penelitian :

  • Kuantitatif : paradigma ilmiah/scientific paradigm. Sebagian besar jenis ini digunakan oleh peneliti eksakta dengan variabel dan jumlah data yang banyak, ratusan hingga ribuan. 
  • Kualitatif : inkuiri alamiah/naturalistic inquiry. Berisi data dengan tipe non numerik. Biasanya dalam memperoleh data primer dilakukan dengan proses wawancara atau observasi.
  • Campuran : mixed method. Mampu menjawab pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh metodology yang lain dan memberikan proses pengambilan simpulan yang baik dan akurat.
High chance to be Accepted Reputable Journal in Social Science Area :
  • Pilih yang fresh idea dan bermanfaat
  • Contribution to literature in Indonesia
  • Hot issue
Tips and Tricks of Writing Publishable Article :
  • Fresh: temukan novelty pada penelitian dan kontribusi
  • Clear: jelaskan ide yang sistematik dengan pendahuluan yang kuat --> make a chart
  • Simple: jangan berfikir rumit, gunakan grafik simpel atau model teori yang dapat meyakinkan orang lain --> well understanding on theory
Fresh, clear, dan simple: probability to be accepted at a big journal but not in a conventional journal
Not Fresh tapi clear dan simple: probability to be rejected in a big journal but not in a lower level journal
Fresh, clear, dan not simple: probability to be accepted with revision
Fresh tapi unclear dan not simple: probability to be highly rejected
Fresh, unclear dan simple: probability to be rejected by reviewer
Not fresh, unclear dan not simple: rejected by editor

Pentingnya etika penelitian
Etika penelitian penting bagi integritas ilmiah, hak asasi manusia dan martabat, serta kolaborasi antara sains dan masyarakat. 

Prinsip etika penelitian
1. Mendapat izin dan persetujuan
2. Data responden dirahasiakan
3. Hindari manipulasi data dan transparasi: peneliti boleh salah tapi tidak boleh bohong
4. Kompensasi responden: uang dan non uang
5. Penggunaan data dengan etika: tidak memperjualbelikan data
6. Perlindungan anak dan rentan: persetujuan dari orang tua/wali


#NUScholarship2024



Dr. Desi Hasbiyah 

Sejauh apapun kalian melangkah, pulanglah kedalam negeri karena mencintai negeri adalah bagian dari iman. Hubbul wathon minal iman

#NUScholarship2024





Mempersiapkan diri secara baik dapat berupa pembuatan jejak dan informasi perjalanan diri dalam bentuk curriculum vittae (CV). Prof Khoirul, guru besar Universitas Trunojoyo, memberikan materi tentang bagaimana cara menulis CV yang efektif melalui ruang zoom. 

Beliau menjelaskan bahwa untuk menjadi efektif maka penulis harus memahami bagaimana struktur dan format yang baik dan jelas. 

Isi dalam CV : 

1. Informasi pribadi : nama, alamat, akun profesional (linkedin dst)

2. Pendidikan : daftar pendiidkan mulain dari yang terbaru, nama institusi, gelar, tahun lulus, prestasi akademik

3. Pengalaman kerja ; daftar pengalaman kerja mulai dari yang terbaru. nama perusahaan, jabatan, periode kerja, tugas dan tanggung jawab utama, prestasi dan kontribusi yang signifikan

4. Keterampilan ; teknis dan lunak (bahasa, pemrograman, komunikasi), sertifikasi dan pelatihan yang relevan

5. Prestasi dan penghargaan 

6. Kegiatan ekstrakulikuler dan volunteer ; kegiatan organisasi, relawan dan proyek sosial

7. Referensi ; nama dan kontak dari orang yang dapat memberikan rekomendasi profesional (optional)


Tips menulis CV :

1. Konsisten dalam menuliskan format : menggunakan format yang rapi dan konsisten, font yang mudah dibaca (Arial atau Times New Roman, ukuran 10-12), menggunakan bullet point untuk memudahkan pembaca

2. Gunakan kata kunci : sesuaikan CV dengan kata kunci yang diminta oleh pemberi beasiswa (misalnya)

3. Fokus pada pencapaian : soroti pencapaian degan angka atau data konkrit

4. Singkat dan relevan : pastikan tidak lebih dari 2 halaman, fokus hanya pada informasi yang nyambung/relevan


#NUScholarship2024



Jakarta, 26/06

Dr. Subur Wijaya, M.Pd.I, Ketua Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran Depok, menyampaikan prinsip dan nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Tidak lain tujuan dan upaya hari ini secara lahiriyah dan bathiniyah akan menghasilkan generasi yang Ulul Albab. 


Ahlussunnah wal jamaah:

  1. Ummatan wasthon/ummat yang moderat (al baqarah:143)

  2. Firqah Najiyah/Golongan selamat 

  3. Sawad A’dham/kelompok mayoritas

Keyakinan


Sembrono

Moderat

Berlebihan

Perbuatan manusia

Qadariyah: meyakini manusia punya kendali penuh, dan Allah tidak ada peran apapun

Ahlussunnah: memiliki usaha atas tindakannya, dan Allah punya peran sebagai bayang-bayang kehendak-Nya

Jabariyah: manusia tidak punya daya, semua sudah diatur Tuhan

Sifat Allah

Jahmiyah: Allah tidak memiliki nama dan sifat karena hal itu menyerupai makhluk

Ahlussunnah: Sifat dan nama Allah sebagaimana di Alquran namun hal tersebut tetap dibedakan dengan makhluk

Mujassimah: meyakini Allah memiliki Jisim atau bentuk fisik dan sifat Allah seperti makhluknya

Iman dan Amal

Jahmiyah: Iman tidak memiliki keterkaitan denagn amalnya

Iman dan amal saling terkait, yang melakukan dosa besar imannya berkurang namun tidak sampai kafir

Haruriyah: pelaku dosa besar kafir


Liberalisme: Apa saja boleh dilakukan asalkan merupakan kebaikan

Substansi islam adalah melakukan apa yang dilakukan nabi sesuai kemampuan dan meninggalkan yang dilarang nabi sekuat tenaga.

Puritanisme:
Islam sudah sempurna maka apa saja yang dilakukan rasul adalah boleh


Madzhab dalam Nahdlatul Ulama : 

Hanafiyah - mengikuti Imam Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit (80-148 M)
Malikiyah - mengikuti Imam Malik bin Anas (714-800 M)
Syafi'iyah - mengikuti Imam Muhammad bin Idris al-Syafi'i (767-819 M)
Hanabilah - mengikuti Imam Ahmad bin Hambal (781-855 M)

Madzhab tersebut dipilih disebabkan karena adanya penisbatan pada pendirinya dapat dipertanggungjawabkan dan pemikiran dan idenya terkodifikasian dengan baik. 
_____________________________________

FIKRAH AN NAHDLIYAH

  1. Moderasi: Tawasuth

  2. Proporsional: Tawazun

  3. Toleransi: Tasamuh

  4. Konsistensi: I’tidal

  5. Amar maruf nahi munkar


dalam hal ini Fikrah An Nahdliyah ini dapat diimplementasikan dalam berbagai hal; berbangsa, berpolitik, berbudaya, dalam hal ukhwah bayna al adyan (ukhwah antara umat beragama)

FIKRAH AN NAHDLIYAH PERSPEKTIF KH.AHMAD HASYIM MUZADI

  1. Tawasuth

  2. Tasamuh

  3. Tawazun

  4. I’tidal

  5. Kontekstualisasi dalam berdakwah


#NUScholarship2024


Jakarta, 26/06


M. Najih Arromadloni, biasa disebut Gus Najih, berbagi dengan para penerima beasiswa NU Scholarship (NUS) dari Lakpesdam PBNU tentang bagaimana hidup sebagai kaum minoritas di Negara lain.


Berawal dari belajar di Damaskus, kota terbesar di Syuriyah, yang kemudian berjalan beberapa tahun hingga beliau bertemu dengan kondisi perang disana. Sehingga menjadikan hal tersebut sebagai titik awal konsern beliau dalam mempelajari dan meneliti tentang kaum minoritas dan ekstrimisme.


Wawasan beliau tentang negara minoritas sangat luas. Dan setelah pulang ke Indonesia pun beliau masih tetap sama mengunjungi Poso, Sulawesi. Tempat tersebut berada di ujung Sulawesi yang masih banyak pembunuhan, mutilasi dsb. Sehingga hati beliau tergerak untuk membantu atau berkontribusi dengan keilmuan yang telah dimilikinya untuk mengurangi hal-hal ekstrim disana. Beliau juga membangun kantor berbasis NU dan bahkan Pondok Pesantren NU disana. 


Ekstrimisme merupakan isu masyarakat gelobal di banyak negara, dan bukan tentang Islam tetapi di semua agama. Kaum esktrimisme ini melakukan kejahatan dengan tanpa rasa bersalah, bahkan merasa bangga dengan apa yang telah dikerjakan.


Beliau menceritakan berbagai contoh terorisme atau ekstrimisme di berbagai negara, seperti yang sedang dunia ketahui di Palestina, Thailand Selatan, India, Jepang, dan beberapa negara yang lain. 


Meskipun secara konstitusional banyak negara menjamin kebebasan setiap warga yang berada di negara yang ditempati untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Namun tidak sedikit juga negara yang masih mengakarkan rasisme yang membedakan cara pandang dan perlakuan kepada warga yang berbeda dengan mayoritas agama disana. 


Sebagai intelektual, harusnya kita mengkaji ekstrimisme sampai kepada kajian geolistik. bahwa terorisme dan sebagainya itu bukan hanya berdiri dari negara yang berbasis agama saja, tetapi juga ada campur tangan negara barat. 


Bahkan di Indonesia banyak kelompok besar terorisme yang masih merajalela. Diantaranya adalah Jamaah Islamiyah (JI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Mereka masih menggebu-nggebu mendirikan Negara Islam di Asia Tenggara. Sebagian besar mereka menggunakan landasan Jihad. Sangat disayangkan, padahal makna Jihad sebenarnya sangat baik, yakni bekerja keras. Jadi Jihad sebenarnya dapat dimaknai pada berbagai bidang, tidak hanya isu tentang perang. 


Gus Najih menyebutkan salah satu kisah pada zaman Nabi Muhammad SAW. Terdapat seseorang yang hendak mengikuti perang pada zaman itu, kemudian Ia meminta izin kepada Nabi, dan beliau bertanya "apakah kamu memiliki orang tua yang harus dirawat?", pemuda tersebut menjawab "ya, saya memiliki orang tua yang setiap hari saya rawat". Maka Rosul menjawab "menjaga kedua orang tuamu merupakan salah satu bentuk jihad, jadi kamu sudah tidak perlu ikut berperang"


Artinya banyak faktor yang dapat dimaknai sebagai jihad.


Hidup dan belajar di negara lain tentu tidak akan jauh dan terlepas dari hal-hal minoritas. Jika tidak dibekali dengan ideologis dan landasan yang kuat, maka akan sangat rawan jika nanti tidak dapat menyelesaikan pendidikan, atau bahkan tidak dapat kembali ke Tanah Air Indonesia. 


Jika banyak kisah bahwa hidup di tempat minortas nanti akan menemukan beberapa kesulitan, termasuk beribadah, bersosial dan lain sebagainya. Dari hal tersebut, Gus Najih mengatakan bahwa kita sebagai kader NU dan juga santri harus dapat memposisikan dan menyesuaikan diri dimana kita berada. Tentu budaya, tradisi dan aturan hukum setempat harus tetap dihargai. 


Teringat dawuh Gus Ulil dalam beberapa kesempatan yang lalu, bahwa jika kita menemukan kesulitan yang sedikit tidak sesuai dengan apa yang menjadi kebiasaan kita, kemudian dapat berlaku kaidah fiqhiyyah: al-'aadatu muhakkamatun, bahwa tradisi yang berlaku dapat dijadikan ketentuan hukum dalam bersosial dan menjalankan kehidupan dengan nyaman. Artinya, agar tidak selalu kaku dan saklek dengan kotak pemikiran-pemikiran yang berbeda, maka harus berfikir secara luwes dan rendah diri tapi tetap dalam spektrum atau bingkai aturan yang benar sesuai dengan yang pendahulu-pendahulu jamiyyah Nahdlatul Ulama rumuskan dan tetapkan. 


#NUScholarship2024


Jakarta, 26/06

Hari kedua karantina NU Scholarship diisi dengan materi tentang bagaimana membuat CV dan Essay yang diperlukan untuk pendaftar beasiswa dan kampus tujuan. 


Di ruang perpustakaan Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Ir. Drs. Abdul Rahman Ma'mun, MIP membuka kelas siang dengan pemahaman apa arti dari CV dan Essay. Beliau menyampaikan bahwa CV atau curriculum vitae merupakan perjalanan penting kehidupan penulis. Sehingga sangat penting memahami bagaimana cara membuat cerita perjalanan kita menjadi sangat menarik. 


"Nama kita adalah suara paling merdu dari suara apapun"


Kalimat pembuka yang paling kami ingat pada saat itu. Mas Aman, nama yang familiar beliau, mengibaratkan pada saat perjalanan di dalam bandara, stasiun atau tempat umum. Ketika saat itu kami fokus dengan ponsel masing-masing sembari menunggu jadwal keberangkatan atau penjemputan, semua informasi yang muncul dari mikrofon informan pasti tidak akan terdengar. Tetapi jika nama kita disebut atau dipanggil, secara otomatis kita akan spontan merasa terpanggil dan mencari sumber suara tersebut. 


Sehingga sebenarnya menulis CV itu penting, karena bagaimana kita akan menceritakan siapa kita dengan segala pengalaman di masa lalu. 

CV sebaiknya berisi tentang latar belakang akademis, pengalaman kerja, keterampilan, dan prestasi. Sedangkan konteks dari CV sendiri itu adalah melihat kualifikasi dan potensi akademisi. Jika itu membuat CV dengan tujuan akademisi. 

Sedangkan essay sebagian berisi tentang inspirasi, aspirasi dan mungkin tentang cita-cita tentang apa yang ingin kita lakukan di dunia yang sebagian besar untuk masa depan. 


Isi dari essay biasanya berupa sejarah masa depan. Mas Aman menyampaikan bahwa Essay diciptakan untuk menunjukkan motivasi, tujuan karier, dan program studi yang dipilih yang akan membantu mereka mencapai tujuan tersebut. 


"Essay yang baik adalah essay yang mampu menghubungkan latar belakang pelamar dengan tujuan masa depan mereka, serta menunjukkan komitmen dan kesiapan untuk berkontribusi di bidang studi yang dipilih", sambung beliau. 


Jadi pembuatan CV dan essay ini merupakan bagian dari persiapan diri untuk tujuan jangka panjang di masa depan. Sehingga beliau berkali-kali menyampaikan agar kita selalu fokus dan serius dalam menuangkan segala prestasi dan hal yang dapat menjual nama kita dalam masing-masing tujuan yang ingin dicapai. 


#NUScholarship2024


 


Jakarta, 24 Juni 2024

Berlokasi di Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, sebanyak 20 penerima beasiswa NU Scholarship (NUS) menghadiri pembukaan karantina yang diadakan oleh Lakpesdam PBNU. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda besar dari serangkaian kegiatan yang diberikan oleh Lakpesdam kepada penerima beasiswa setelah menjalani proses persiapan Bahasa Inggris selama 3-4 bulan. 


Dihadiri oleh Dr. Syauqillah, M.Si selaku Direktur NUS dan Prof. Dr. KH. Arif Zamhari, M.Ag., Ph.D selaku Ketua Yayasan Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, serta seluruh tim internal dan panitia ikut serta pada kegiatan pada pagi hari itu. Acara ini mendapat apresiasi penuh dari Prof. Arif karena menjadi momentum bagi para penerima beasiswa untuk mempersiapkan studi di luar negeri yang sebagian besar difokuskan pada bidang Sains, Technology, Engineering dan Mathematics (STEM). Karena pada dasarnya saat ini kader NU sebagian besar telah tersebar di luar negeri dengan bidang Islamic Studies. Beliau merasa bangga menjadi bagian yang ikut andil dalam menyukseskan kegiatan karantina tersebut. 


Prof. Arif juga berkesempatan menceritakan pengalaman belajar di Zona Australia dan menjadi Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand (ANZ) pertama pada tahun 80-an. Dimana pada saat itu beliau merasa jika ternyata banyak kader-kader NU yang tersebar di banyak penjuru dunia, tetapi belum ada data yang mendokumentasikan hal itu secara baik. Dengan adanya PCINU-ANZ ini sangat diharapkan dapat mengumpulkan keluarga NU disana, sehingga meskipun jauh dari keluarga tetapi para mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri tetap menemukan rumah untuk berbagi dan kembali. 


Sebagai pembuka sesi pada pagi hari itu, beliau sangat bersemangat berbagi pengalaman dalam mencari ilmu di luar negeri, termasuk cross culture, adaptasi dengan lingkungan yang baru, dan menghadapi segala kesulitan disana. 


Di kesempatan yang sama, Direktur NUS juga menyampaikan bahwa memang benar jika para kader-kader NU yang berada di luar negeri harus memiliki wadah seperti PCINU tersebut. Sehingga melalui NU Scholarship ini akan mempersiapkan banyak kader yang kemudian dikirim ke segala penjuru dunia. Saat ini NUS menjadi platform besar yang mengakomodir beberapa segmentasi beasiswa yang ada di PBNU, seperti beasiswa santri RMI NU, LP Ma'arif, peradaban, vokasi dan pendampingan S2-S3 Luar Negeri. Harapannya semua data pendaftar beasiswa dari kader NU akan terdokumentasi dengan baik di dalam website NUS. 


Setelah kegiatan dibuka oleh pak Direktur, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan pemaparan terkait agenda dan ketentuan yang akan dilakukan selama satu bulan karantina. Seluruh rangkaian kegiatan ini memiliki harapan kepada para penerima beasiswa NUS untuk terus fokus pada persiapan mendaftar beasiswa dan kampus tujuan. Sehingga setelah kegiatan selesai dilaksanakan semua peserta dapat melengkapi persyaratan administrasi dan mulai mendaftar pada kampus bahkan supervisor masing-masing. 


#NUScholarship2024

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU) menghadirkan satu program baru untuk para kader muda Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri dengan jalur beasiswa. 


Melalui NU Scholarship (NUS), diharapkan dapat membersamai seluruh kader muda NU dalam mempersiapkan segala syarat administrasi dalam mendaftar beasiswa studi ke luar negeri, baik jenjang magister (S2) ataupun doktoral (S3). Bpk. H. Ulil Abshar Abdalla, MA (Gus Ulil) selaku ketua PBNU bidang pendidikan menyampaikan bahwa program tersebut merupakan langkah pionir yang diinisiasi oleh Lakpesdam PBNU dalam mengupayakan kebangkitan abad kedua NU dalam hal pengembangan sumber daya manusia khususnya kader muda NU yang dapat bersaing dan unggul. 


Hasanuddin Ali, Ketua Lakpesdam PBNU, juga menyampaikan bahwa program pendampingan ini memberi prioritas pada bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM), meskipun tidak menutup kemungkinan sangat terbuka bagi kader muda NU yang memiliki bidang minat studi selain itu. 


Proses pendaftaran program NUS ini tidak singkat, diawali dengan serial webinar dari para pengurus NU yang sedang menempuh pendidikan tinggi dengan skema beasiswa, yang tersebar pada beberapa zona yakni Amerika-Eropa, Asia, dan Australia-New Zealand. Kemudian dilanjutkan dengan seleksi administrasi dan seleksi wawancara. 


Program NUS ini akan memberikan beberapa keuntungan kepada penerimanya, diantaranya adalah mentoring pengajuan beasiswa, pemantapan bahasa inggris secara intensif, official test IELTS, dan coaching clinic dengan mentor yang profesional dan ahli pada bidangnya. Tentu dengan berbagai agenda dan kurikulum yang telah disesuaikan dengan kebutuhan para calon penerima beasiswa luar negeri. 


Hari Selasa, 07 November 2023, telah dilakukan technical meeting secara online kepada seluruh penerima beasiswa NUS kali ini. Dihadiri oleh Gus Ulil selaku ketua PBNU bidang pendidikan, Pak Hasanuddin Ali selaku ketua Lakpesdam PBNU, Gus Muhammad Syauqillah selaku direktur program NUS, serta seluruh tim dan panitia penyelenggara beasiswa NUS, memberikan pengarahan dan penjelasan secara detail terkait program beasiswa tersebut. Terdapat 20 penerima beasiswa NUS yang diperoleh dari hasil seleksi. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Grand Opening dan peluncuran NU Scholarship pada hari Senin, 20 November 2023, di gedung PBNU lt.8 Jakarta Pusat yang dihadiri oleh Ketua Umum PBNU Dr. KH. Yahya Cholil Staquf. 


Tentu ini merupakan program yang sangat berharga bagi kami, para kader muda NU. Kami sangat berharap melalui beasiswa NUS ini dapat meningkatkan kualitas diri dalam mempersiapkan kompetensi untuk memenuhi kriteria sebagai kandidat penerima beasiswa baik S2 atau S3 di luar negeri. Sehingga kader muda NU dapat menjadi generasi intelektual yang berkualitas dan menjadi sumber daya manusia unggul yang dapat berkontribusi bagi pembangunan peradaban global di Indonesia bahkan dunia. 

Technical meeting (Zoom)


Peluncuran NU Scholarship