Materi mengenai Ketahanan Ideologi Era Digital disampaikan oleh Dr. Muhammad Syauqillah dengan menyoroti tantangan ideologis bangsa Indonesia di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Sebagai akademisi yang mendalami kajian terorisme, beliau menekankan bahwa ruang digital kini telah menjadi arena strategis penyebaran ideologi, termasuk ideologi ekstrem dan radikal, sehingga membutuhkan kewaspadaan kolektif serta penguatan literasi ideologi dan digital.


Pembahasan diawali dengan fenomena penyebaran konten terorisme di media digital. Konten ekstrem diketahui memiliki karakter mudah direplikasi, cepat menyebar, dan mampu menjangkau kelompok rentan seperti anak-anak dan remaja. Platform digital tidak hanya digunakan untuk propaganda, tetapi juga untuk rekrutmen, glorifikasi kekerasan, dan pembentukan jejaring ideologis lintas negara. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan ideologi saat ini tidak lagi terbatas pada ruang fisik, melainkan telah bergeser ke ruang virtual yang lebih dinamis dan sulit dikendalikan.


Dalam perspektif historis, disampaikan bahwa cendekia Indonesia sejak masa lalu telah memainkan peran penting dalam menjaga orientasi ideologis bangsa. Para pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri, khususnya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, tidak larut dalam ideologi asing, melainkan memanfaatkan pengetahuan sebagai alat perjuangan kemerdekaan dan pembentukan identitas nasional. Mereka berperan sebagai penghubung pemikiran global dengan konteks lokal, agen transformasi kesadaran kebangsaan, serta penjaga moral perjuangan bangsa.


Namun demikian, perkembangan kontemporer menunjukkan adanya anomali ideologis, yakni masuknya ideologi-ideologi transnasional yang tidak sepenuhnya selaras dengan konteks sosial dan budaya Indonesia. Ideologi tersebut, baik yang bersifat ekstrem kiri, ekstrem kanan, maupun liberalisme yang terlalu absolut, lahir dari latar historis dan sosial berbeda sehingga seringkali tidak kompatibel dengan realitas Indonesia yang plural dan berlandaskan Pancasila. Kondisi ini berpotensi menimbulkan disorientasi ideologis apabila tidak diimbangi dengan penguatan nilai kebangsaan.


Fenomena ekstremisme modern juga mengalami transformasi pola. Radikalisasi tidak lagi selalu melalui organisasi formal, tetapi sering berkembang melalui imitasi perilaku yang tersebar lewat konten digital. Kekerasan berbasis ideologi, termasuk yang melibatkan anak muda, kerap dipicu oleh kombinasi ideologi ekstrem, nihilisme, serta pencarian makna hidup yang tidak terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan ekstremisme tidak semata isu keamanan, melainkan juga persoalan psikologis, sosial, dan ideologis.


Dalam konteks ideologi negara, ditegaskan bahwa ekstremisme cenderung berkembang ketika nilai kebangsaan hanya hadir secara simbolik dan tidak dirasakan secara substantif dalam kehidupan masyarakat. Ketika negara gagal memberikan rasa keadilan, kesejahteraan, dan makna kolektif, ruang kosong tersebut berpotensi diisi oleh ideologi alternatif yang ekstrem. Oleh karena itu, penguatan ideologi negara harus dilakukan secara nyata melalui kebijakan publik yang adil, pendidikan karakter, serta penguatan literasi ideologi di masyarakat.


Sebagai penutup, Pancasila ditegaskan kembali sebagai ideologi yang memiliki kapasitas untuk meredam ekstremisme, mengelola perbedaan secara damai, serta membangun orientasi moral kebangsaan yang inklusif. Di era digital, ketahanan ideologi tidak hanya bergantung pada negara, tetapi juga pada peran aktif masyarakat, akademisi, dan generasi muda dalam menjaga ruang publik digital agar tetap sehat, kritis, dan konstruktif.







Rabu, 4 Februari 2026 rangkaian kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP Angkatan 270 di Hotel Acacia Jakarta juga diisi dengan sesi kebangsaan bertajuk “Filsafat Dasar Pancasila dan Pilar-Pilar Kebangsaan” yang disampaikan oleh Agung Bhakti Pratomo, M.Sos. Materi ini menekankan pentingnya pemahaman Pancasila sebagai landasan filosofis sekaligus orientasi nilai bagi generasi intelektual Indonesia, khususnya penerima beasiswa LPDP yang diproyeksikan menjadi agen perubahan di berbagai bidang.


Agung Bhakti Pratomo menjelaskan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol ideologi negara, melainkan hasil kristalisasi pengalaman sejarah, refleksi intelektual, serta dialog kebudayaan bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila lahir dari interaksi panjang masyarakat Nusantara yang plural dan dialogis. Posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan turut membentuk identitas kebangsaan yang terbuka terhadap perbedaan, sehingga Pancasila berfungsi sebagai nilai pemersatu yang memungkinkan keberagaman hidup harmonis dalam satu komunitas politik.


Secara filosofis, Pancasila memiliki tiga dimensi utama. Dimensi ontologis menempatkan manusia Indonesia sebagai makhluk sosial, religius, dan hidup dalam relasi kebersamaan di tengah kemajemukan. Dimensi epistemologis menunjukkan bahwa Pancasila lahir dari refleksi pengalaman sejarah bangsa, bukan dogma statis, sehingga tetap relevan selama mampu menjawab persoalan sosial nyata. Dimensi aksiologis menegaskan Pancasila sebagai pedoman nilai yang harus diwujudkan dalam kebijakan, institusi, dan praktik kehidupan sehari-hari agar tetap hidup dan operasional.


Pembahasan juga menyinggung proses lahirnya kebangsaan Indonesia yang dipandang sebagai lompatan kesadaran kolektif. Bangsa Indonesia terbentuk bukan karena kesamaan etnis atau asal-usul, melainkan karena komitmen moral untuk hidup bersama. Bahasa Indonesia berperan sebagai katalis identitas kebangsaan, sementara perumusan Pancasila oleh para pendiri bangsa menjadi dasar filosofis negara yang inklusif serta menolak ideologi totaliter.


Dari perspektif sosiologi pengetahuan, kebangsaan Indonesia mengalami pergeseran dari identitas berbasis asal-usul menuju identitas berbasis kapasitas intelektual dan moral. Konsep “bangsawan pikiran” menegaskan bahwa kontribusi intelektual dan etika publik lebih menentukan dalam membangun bangsa dibanding faktor genealogis. Perbedaan pandangan dalam masyarakat dipandang bukan ancaman, melainkan sumber kebijaksanaan dalam menemukan titik temu kebangsaan.


Sebagai penutup, cinta tanah air dipahami bukan sekadar perasaan emosional, tetapi sebagai praksis etis dalam mengelola keberagaman bangsa. Nasionalisme Indonesia diarahkan pada civic nationalism, yaitu solidaritas kewargaan yang menekankan tanggung jawab bersama, penghormatan terhadap martabat manusia, serta komitmen pada persatuan di tengah perbedaan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi penerima LPDP agar tetap berakar pada identitas kebangsaan sekaligus mampu berkiprah secara global.





Rabu, 4 Februari 2026 menjadi hari kedua rangkaian kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP Angkatan 270 yang diselenggarakan di Hotel Acacia Jakarta. Pada hari ini peserta memperoleh pembekalan akademik melalui sesi bertajuk “Menjadi Seorang Intelektual yang Memiliki Integritas, Tanggung Jawab, Kaidah Penelitian, dan Penulisan Ilmiah” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Drs. Terry Mart, guru besar fisika nuklir dan partikel dari FMIPA Universitas Indonesia.

Dalam pemaparannya, Prof. Terry menegaskan bahwa inti pendidikan pascasarjana adalah riset yang bertujuan mencari kebenaran ilmiah. Kebenaran tersebut tidak dapat dicapai melalui cara yang tidak benar, sehingga integritas, kejujuran, dan tanggung jawab moral menjadi bagian tak terpisahkan dari proses penelitian. Riset dipandang bukan sekadar aktivitas teknis untuk menghasilkan publikasi, melainkan proses intelektual sekaligus moral yang membentuk karakter peneliti.

Beliau menjelaskan bahwa proses riset umumnya berlangsung melalui tiga tahap utama, yaitu proposing (penyusunan proposal), performing (pelaksanaan riset), dan reporting (pelaporan atau publikasi). Pada setiap tahap tersebut potensi pelanggaran etika selalu ada, sehingga peneliti harus menjaga kejujuran sejak perumusan ide hingga penyampaian hasil. Kepatuhan terhadap etika penelitian, termasuk klirens etik, transparansi data, serta tanggung jawab dalam publikasi, menjadi landasan penting dalam menjaga kredibilitas ilmiah.

Makna integritas dalam publikasi ilmiah juga diilustrasikan melalui kisah matematikawan Grigori Perelman, yang menolak berbagai penghargaan bergengsi meskipun berhasil membuktikan persoalan matematika besar dunia. Kisah tersebut menegaskan bahwa nilai tertinggi riset bukan pada popularitas atau imbalan material, melainkan pada kebenaran ilmiah dan integritas akademik.

Dalam konteks penulisan ilmiah, Prof. Terry menekankan pentingnya menghindari research misconduct seperti fabrikasi data dan plagiarisme. Peneliti harus menulis karya sendiri, mencantumkan sitasi secara benar, serta jujur dalam menyampaikan keterbatasan penelitian. Publikasi ilmiah tidak seharusnya berorientasi pada kuantitas, tetapi pada kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Selain itu, peserta juga diingatkan untuk cermat memilih jurnal publikasi. Jurnal bereputasi umumnya terindeks pada basis data kredibel seperti Web of Science, Scopus, SINTA, atau Google Scholar, serta memiliki proses telaah sejawat yang ketat. Sebaliknya, jurnal predator perlu dihindari karena mengabaikan standar ilmiah demi keuntungan finansial, yang dapat merusak reputasi peneliti dan ekosistem sains.

Prof. Terry juga menyoroti dampak serius pelanggaran integritas akademik, mulai dari rusaknya kepercayaan publik terhadap sains, hancurnya karier peneliti, hingga pemborosan sumber daya ilmiah. Integritas akademik dipahami secara luas, mencakup kejujuran dalam kepengarangan, penghindaran konflik kepentingan, serta larangan praktik duplicate submission.

Dalam perkembangan publikasi modern, platform seperti arXiv diperkenalkan sebagai repositori pracetak yang memungkinkan peneliti memperoleh masukan sebelum publikasi formal. Selain itu, penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam riset dinilai sah selama digunakan secara transparan, etis, dan tetap menempatkan tanggung jawab ilmiah pada peneliti manusia.

Sebagai penutup, materi dirangkum melalui refleksi Herman’s Law, yang mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus selalu disertai kesadaran etika. Tanpa integritas dan tanggung jawab moral, perkembangan teknologi dan ilmu justru berpotensi menjauhkan manusia dari tujuan utama ilmu pengetahuan itu sendiri.






Selasa, 3 Februari 2026 pukul 19.00–21.00 WIB, sesi “Communication, Cross Culture & Adaptability” menjadi sesi kelima sekaligus penutup hari pertama kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP angkatan 270 yang berlangsung di Hotel Acacia Jakarta. Materi disampaikan oleh Riko Anggara, seorang jurnalis senior sekaligus news anchor yang telah lama berkecimpung dalam dunia media nasional. Dengan pengalaman panjang di bidang komunikasi massa, jurnalisme, serta moderasi berbagai forum strategis, beliau banyak membagikan perspektif praktis tentang komunikasi publik, citra profesional, dan kemampuan adaptasi lintas budaya.


Sejak awal sesi, suasana dibuat cukup interaktif. Beliau menekankan bahwa komunikasi bukan sekadar penyampaian informasi, tetapi juga proses membangun koneksi emosional dengan audiens. Pengelolaan emosi menjadi faktor penting, karena respons emosional seseorang sering kali sudah muncul bahkan sejak awal menerima suatu tugas atau tanggung jawab. Dalam konteks komunikasi profesional, kesan pertama (first impression) menjadi sangat menentukan, sebab tidak selalu ada kesempatan kedua untuk memperbaiki persepsi awal yang kurang baik.


Beliau juga menjelaskan bahwa rasa percaya diri pada dasarnya muncul dari kondisi internal individu yang kemudian tercermin keluar melalui bahasa tubuh, ekspresi, dan cara berbicara. Dalam hal ini dikenal konsep public face dan private face, yaitu sisi profesional yang ditampilkan kepada publik dan sisi personal yang dimiliki secara pribadi. Kemampuan untuk “switch on” saat menjalankan peran profesional dipandang bukan sebagai kepura-puraan, melainkan bentuk adaptasi agar seseorang dapat memberikan performa terbaik dalam situasi apa pun, termasuk ketika harus berkomunikasi di lingkungan yang kurang nyaman.


Salah satu prinsip psikologi komunikasi yang dibahas adalah hukum timbal balik (reciprocity). Sikap sederhana seperti senyum tulus kepada audiens dapat memicu respons positif secara alami. Namun, ketulusan menjadi kunci, karena audiens biasanya mampu merasakan apakah ekspresi pembicara autentik atau tidak. Ketika koneksi emosional terbangun, pembicara justru bisa memperoleh energi tambahan dari audiens sehingga penyampaian materi menjadi lebih hidup.


Untuk memperkuat keterlibatan audiens, beliau menekankan pentingnya kontak mata. Teknik yang disarankan adalah melakukan eye contact dengan individu tertentu hingga terlihat reaksi kecil sebelum beralih ke audiens lain. Hal ini membantu menciptakan kesan kedekatan sekaligus menjaga fokus audiens. Meski sering diajarkan dalam pelatihan public speaking, praktik kontak mata secara konsisten masih menjadi tantangan, terutama bagi pembicara pemula yang cenderung mengalihkan pandangan ketika berpikir.


Dalam membangun otoritas saat berbicara di depan publik, beliau berbagi pengalaman pribadi sebagai individu yang mengaku introvert namun harus beradaptasi dengan tuntutan profesi. Prinsip fake it till you make it disebut sebagai salah satu cara melatih keberanian hingga akhirnya rasa percaya diri terbentuk secara alami. Bahasa tubuh juga berperan besar dalam membangun authority; postur tubuh terbuka menandakan rasa aman dan percaya diri, sementara tubuh yang tertutup sering menunjukkan ketidaknyamanan. Karena itu, penggunaan power poses dianjurkan untuk memperkuat kesan percaya diri di hadapan audiens.


Topik komunikasi lintas budaya juga menjadi bahasan penting. Beliau menjelaskan perbedaan antara budaya komunikasi high context dan low context. Negara seperti Amerika Serikat, Jerman, atau Australia cenderung lebih langsung dan eksplisit dalam menyampaikan pesan, sedangkan negara seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, termasuk Indonesia, biasanya lebih mempertimbangkan norma, konteks sosial, dan cara penyampaian. Dalam menghadapi perbedaan tersebut, teknik mirroring dan matching dapat membantu menciptakan kenyamanan dalam interaksi. Memahami lingkungan baru sebaiknya diawali dengan observasi dan kepekaan terhadap situasi sosial sebelum menentukan strategi komunikasi.


Selain itu, beliau menekankan pentingnya memahami peran tiap individu dalam sebuah tim. Setiap orang memiliki kontribusi berbeda, termasuk mereka yang berperan mencairkan suasana. Menghargai keberagaman peran justru menjadi tanda kedewasaan kepemimpinan dan kemampuan membaca dinamika kelompok, yang sangat dibutuhkan dalam proses adaptasi di lingkungan baru.


Aspek visual dan kualitas penyampaian juga turut dibahas. Meskipun substansi materi tetap utama (content is king), kemasan visual dan penampilan profesional tetap berpengaruh terhadap persepsi audiens. Kualitas vokal pun tidak kalah penting; intonasi, volume, dan artikulasi yang tepat dapat memperkuat pesan yang disampaikan.


Menjelang akhir sesi, beliau menyinggung fenomena yapping dalam public speaking, yaitu kecenderungan berbicara berlebihan tanpa substansi jelas. Untuk menghindarinya, pembicara dianjurkan menggunakan bahasa yang lebih deskriptif, tidak terlalu berpusat pada diri sendiri, serta terus memperkaya kosakata melalui kebiasaan membaca. Kemampuan mendengarkan juga perlu dilatih secara menyeluruh, bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan perhatian penuh terhadap ekspresi dan konteks lawan bicara.


Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa komunikasi yang efektif menuntut keterlibatan hati dan energi yang tidak sedikit. Setiap orang boleh memiliki gaya berbeda dalam berbicara, namun penting untuk tetap berani tampil autentik (be bold and unique). Diharapkan materi ini dapat menjadi bekal bagi para awardee LPDP agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif serta beradaptasi di berbagai lingkungan budaya selama studi maupun setelah kembali berkontribusi bagi Indonesia.







Selasa, 3 Februari 2026 pukul 16.00–18.00 WIB, sesi “Isu-isu Strategis, Permasalahan Sosial, serta Tanggung Jawab Keilmuan” menjadi materi sore pada hari pertama rangkaian Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP angkatan 270 yang diselenggarakan di Hotel Acacia Jakarta. Materi ini disampaikan oleh Dr. Tri Mumpuni Wiyatno, anggota Dewan Pengarah BRIN, yang dikenal luas atas kiprahnya dalam pengembangan energi berbasis masyarakat.


Ibu Tri Mumpuni merupakan insinyur pertanian yang telah lebih dari tiga dekade berkecimpung di bidang kelistrikan pedesaan. Ia kerap dijuluki electric woman karena konsistensinya mengembangkan energi terbarukan, khususnya melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di berbagai wilayah terpencil. Upaya tersebut menjadi alternatif terhadap penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang relatif mahal dan berpolusi. Pendekatan yang beliau gunakan berbasis komunitas, dengan memanfaatkan potensi air lokal sehingga masyarakat dapat memperoleh akses energi yang lebih bersih, terjangkau, sekaligus mandiri.


Dalam paparannya, beliau menyoroti beberapa isu utama, antara lain kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia saat ini, tantangan global yang berdampak pada kondisi domestik, tanggung jawab intelektual muda dalam mendorong perubahan sosial, serta refleksi perjalanan kariernya. Beliau menekankan bahwa persoalan sosial selalu berdampingan dengan kehidupan sehari-hari, dan sering kali kerusakan lingkungan berjalan seiring dengan meningkatnya kemiskinan masyarakat.


Beliau juga menyinggung pentingnya peran intelektual muda dalam menjaga kedaulatan bangsa serta memaknai kemerdekaan secara bermartabat. Data yang disampaikan menunjukkan bahwa persentase penduduk Indonesia dengan pendidikan di atas SMA masih relatif kecil, sekitar 6,51%. Di sisi lain, distribusi pemanfaatan sumber daya nasional juga belum merata, sehingga ketimpangan kesejahteraan masih menjadi tantangan besar.


Mengacu pada teori tahapan pembangunan Rostow, beliau menyoroti fase take-off atau lepas landas sebagai tahap krusial. Menurutnya, sistem pendidikan saat ini banyak menekankan cara mencapai pertumbuhan, tetapi belum cukup membekali bagaimana mengelola dampak pertumbuhan tersebut. Padahal, proses pembangunan sering kali berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam yang berisiko menimbulkan ketimpangan sosial apabila tidak dikelola secara adil. Karena itu, sistem dan kebijakan yang mendukung keadilan sosial menjadi sangat penting.


Beliau juga mengkritisi pendekatan pendidikan formal melalui analogi “sekolah gajah”, yang menggambarkan bagaimana sistem pendidikan kadang menyeragamkan potensi individu. Dalam analogi tersebut, berbagai jenis hewan diminta melakukan hal yang sama, seperti memanjat pohon, padahal setiap individu memiliki keunikan kemampuan. Beliau menilai bahwa pendidikan idealnya tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjaga karakter, identitas, serta kreativitas mahasiswa.


Dalam perspektif pembangunan, beliau menjelaskan bahwa investasi umumnya dilihat dari tiga aspek utama: teknologi, manajemen, dan keuangan. Namun sering kali pendekatan birokrat atau investor berbeda dengan perspektif masyarakat lokal. Program pembangunan kerap memanfaatkan sumber daya lokal tanpa melibatkan komunitas setempat secara optimal. Padahal, pemberdayaan masyarakat mensyaratkan keterlibatan aktif komunitas sejak awal. Beliau juga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi seharusnya dipandang sebagai alat, bukan tujuan akhir. Tujuan utama pembangunan adalah kesejahteraan yang merata dan berkeadilan.


Dalam sesi interaktif menggunakan Mentimeter, mayoritas peserta PK-270 juga berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi lebih tepat diposisikan sebagai alat pembangunan. Hal ini sejalan dengan pandangan beliau bahwa fokus pembangunan seharusnya pada kualitas hidup masyarakat, bukan semata angka pertumbuhan ekonomi. Untuk mencapai hal tersebut, generasi muda perlu menumbuhkan empati sosial, membangun kesetaraan, memberdayakan kelompok rentan, serta mendorong praktik demokrasi yang inklusif.


Beliau kemudian menekankan pentingnya pola pikir pejuang, yakni kemampuan berpikir dan bertindak untuk kemandirian bangsa. Paradigma perubahan membutuhkan cara berpikir yang terbuka, kritis, mendalam, serta berpihak pada kepentingan rakyat. Hal ini perlu diimbangi dengan kesadaran diri, pemahaman potensi pribadi, serta keseimbangan antara pengetahuan rasional dan kepekaan emosional.


Dalam konteks LPDP, beliau juga mengingatkan bahwa dana pendidikan berasal dari kontribusi publik, termasuk pajak masyarakat. Dengan besarnya biaya pendidikan yang ditanggung negara untuk setiap awardee, terdapat tanggung jawab moral agar ilmu yang diperoleh nantinya benar-benar memberi manfaat luas.


Sebagai penutup, Ibu Tri Mumpuni menyampaikan pesan sederhana namun reflektif: hidup hanya sekali, sehingga penting menjalani kehidupan yang bermakna. Dalam sesi diskusi, beliau juga menanggapi beberapa pertanyaan peserta, antara lain mengenai prioritas pembangunan daerah, peran akademisi dalam perubahan sosial, serta keberlanjutan inovasi bisnis. Inti jawabannya menekankan pentingnya memulai dari potensi lokal, melakukan langkah nyata meskipun kecil tetapi konsisten, serta menjaga keseimbangan antara rasionalitas dan kepekaan hati dalam proses perubahan. Menurut beliau, niat tulus untuk memberi manfaat kepada masyarakat sering kali menjadi energi utama yang menggerakkan perubahan.







Selasa, 3 Februari 2026 pukul 10.00–12.00 WIB, sesi Pembukaan dan Materi “What, Why, and How to LPDP” menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) penerima beasiswa LPDP angkatan 270 yang berlangsung di Hotel Acacia Jakarta. 


Materi ini disampaikan oleh Sudarto, Presiden Direktur Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa LPDP tidak semata-mata merupakan program beasiswa, melainkan instrumen investasi jangka panjang negara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Melalui pengelolaan dana abadi pendidikan, pemerintah berupaya mengarahkan investasi tidak hanya pada aset fisik dan finansial, tetapi juga pada pembangunan kapasitas manusia yang diharapkan mampu mendorong kemajuan bangsa serta memperkuat daya saing global. Dalam kerangka tersebut, LPDP juga mendorong awardee untuk menempuh pendidikan di berbagai universitas unggulan dunia, termasuk perguruan tinggi bereputasi tinggi di Amerika Serikat, Eropa, maupun kawasan Asia.


Beliau menekankan bahwa kesempatan memperoleh beasiswa LPDP memiliki dimensi tanggung jawab moral yang besar. Di tengah kondisi masih banyaknya anak Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan namun belum memiliki akses yang memadai, para awardee dipandang sebagai individu yang memperoleh kepercayaan dari negara. Oleh sebab itu, status penerima beasiswa tidak hanya dimaknai sebagai capaian personal, tetapi juga amanah untuk kembali berkontribusi bagi pembangunan Indonesia. Pendidikan disebut sebagai salah satu faktor kunci kemajuan bangsa, dan proses perjuangan dalam menempuh pendidikan justru membentuk karakter tangguh, sejalan dengan prinsip bahwa tantangan sering kali melahirkan kekuatan.


Pak Sudarto juga menyoroti potensi intelektual mahasiswa Indonesia yang sebenarnya tidak kalah dibandingkan bangsa lain. Banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri mampu berprestasi, bahkan terlibat aktif dalam kegiatan akademik seperti menjadi tutor atau asisten pengajar. Namun demikian, beliau menilai bahwa tantangan Indonesia tidak hanya pada aspek teknologi, melainkan juga pada ekosistem pendukung yang belum sepenuhnya optimal. Sebagai ilustrasi, beliau menyinggung perkembangan industri kendaraan listrik di Vietnam melalui perusahaan VinFast yang produknya telah digunakan luas, termasuk di Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi sangat dipengaruhi oleh dukungan kebijakan, kesiapan industri, serta penerimaan pasar.


Di sisi lain, beliau mengingatkan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam, keberagaman budaya, serta jumlah penduduk produktif yang tinggi. Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan apabila dikelola secara tepat. Namun beliau menilai industrialisasi nasional masih cenderung berorientasi pada ekstraksi sumber daya dan belum sepenuhnya menghasilkan nilai tambah jangka panjang, terutama bagi masyarakat sekitar. Contoh yang disampaikan adalah aktivitas pertambangan di Papua yang dinilai masih perlu integrasi lebih kuat dengan pembangunan sosial dan ekonomi lokal.


Selain itu, beliau menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor di sektor strategis, seperti bahan baku obat dan alat kesehatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kapasitas riset terapan, inovasi teknologi, dan penguatan industri nasional masih perlu terus dikembangkan secara lebih sistematis, meskipun Indonesia memiliki banyak SDM unggul.


Dalam arah kebijakan ke depan, mulai tahun 2026 LPDP akan mendorong diversifikasi tujuan studi. Awardee tidak hanya diarahkan ke negara tujuan populer, tetapi juga ke negara dengan kekuatan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan Indonesia, seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, serta beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Prancis. Selain itu, LPDP juga akan memperluas skema pendanaan bersama (co-funding) dengan berbagai mitra internasional guna meningkatkan jumlah penerima beasiswa tanpa mengganggu keberlanjutan dana abadi pendidikan.


Di luar pembahasan kebijakan, Pak Sudarto turut menekankan nilai-nilai kemanusiaan dalam kepemimpinan. Beliau mengingatkan bahwa setiap individu memiliki tantangan hidup masing-masing, sehingga penting untuk tidak mudah menilai seseorang hanya dari tampilan luar. Sikap saling memahami, empati, kesabaran, dan keadilan menjadi fondasi penting dalam membangun kolaborasi yang sehat.


Sebagai penutup, beliau menegaskan bahwa menjadi awardee LPDP merupakan sebuah kesempatan sekaligus tanggung jawab besar. Beasiswa ini tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai fasilitas pendidikan, melainkan sebagai amanah yang harus dikelola dengan baik agar memberi dampak nyata bagi bangsa. Dalam perspektif beliau, LPDP merupakan bentuk kontrak sosial antara negara dan penerimanya: negara memberikan dukungan pendidikan, sementara awardee diharapkan mengembalikan nilai tersebut melalui kontribusi nyata, baik dalam pengembangan teknologi, penguatan industri, maupun upaya memajukan Indonesia secara berkelanjutan.






 

Selasa, 3 Februari 2026, sesi materi Leadership dan Entrepreneurship menjadi salah satu agenda pembuka dalam kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) penerima beasiswa LPDP angkatan 270 yang diselenggarakan di Hotel Acacia Jakarta. Materi ini disampaikan oleh Ir. Dwi Larso, MSIE., Ph.D., Direktur Beasiswa LPDP sejak tahun 2020. 


Beliau dikenal memiliki rekam jejak akademik yang kuat sebagai dosen dan akademisi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pendidikan sarjana beliau tempuh di Teknik Industri, kemudian melanjutkan studi Master of Science in Industrial Engineering (MSIE) serta Ph.D. di Oregon State University, Amerika Serikat. Sebelum menjabat sebagai Direktur Beasiswa LPDP, beliau aktif dalam dunia pendidikan dan manajemen akademik, termasuk pernah memimpin Program MBA SBM ITB. Di bawah kepemimpinannya, LPDP terus memperluas akses beasiswa, memperkuat kualitas seleksi, serta menekankan bahwa awardee tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki komitmen untuk kembali dan berkontribusi bagi Indonesia.


Pada awal sesi, beliau tidak langsung membahas kebijakan atau program LPDP. Sebagai pengantar, beliau menampilkan video aktivitas pribadi seperti bermain sepak bola, berlari, mendaki gunung, hingga kunjungan ke daerah terpencil. Pembukaan ini menegaskan bahwa kepemimpinan dan ketangguhan tidak terbentuk secara instan di ruang formal, melainkan melalui pengalaman hidup yang nyata.


Sejak beliau menjabat, perkembangan LPDP cukup signifikan. Dana abadi yang pada 2019 berada di kisaran Rp51 triliun meningkat menjadi sekitar Rp181 triliun pada 2026. Peningkatan ini menunjukkan pengelolaan dana yang semakin baik sekaligus meningkatnya kepercayaan negara terhadap LPDP sebagai investasi jangka panjang di bidang pendidikan. Jumlah penerima beasiswa pun terus bertambah, baik program degree maupun non-degree, disertai inovasi kebijakan yang menyesuaikan kebutuhan pembangunan nasional.


Dalam paparannya, beliau juga banyak berbagi pengalaman pribadi. Beliau tumbuh di lingkungan sekitar Stasiun Tawang Semarang yang memiliki dinamika sosial cukup keras. Dari situ beliau belajar tentang pentingnya integritas — tetap menjaga nilai dan prinsip meskipun berada dalam kondisi yang tidak ideal. Menurut beliau, integritas justru ditempa ketika seseorang menghadapi tantangan, bukan saat situasi sudah nyaman.


Dari sisi akademik, beliau dikenal konsisten berprestasi sejak sekolah. Saat SMA, beliau sempat diterima di sekolah negeri dan swasta, namun memilih sekolah swasta karena peluang beasiswa lebih besar. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan juga berkaitan dengan kemampuan membaca situasi dan mengambil pilihan rasional. Pada masa itu pula beliau mulai menargetkan kuliah di ITB. Disiplin menjadi kunci, dengan pembagian waktu antara olahraga, belajar, dan ibadah. Beliau menekankan bahwa usaha dan doa perlu berjalan beriringan, serta keyakinan bahwa peluang selalu terbuka jika orang lain bisa mencapainya.


Beliau juga mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan bersifat sementara. Saat berada di puncak, seseorang sebaiknya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberi kontribusi terbaik. Namun ketika fase itu berakhir, tidak perlu larut dalam kekecewaan karena masih banyak ruang lain untuk berkontribusi. Menurut beliau, menikmati proses perjalanan jauh lebih penting daripada sekadar menikmati puncak keberhasilan, termasuk ketika menjadi awardee LPDP.


Beliau menilai kebahagiaan atau kesedihan sering kali ditentukan oleh cara seseorang memaknai situasi. Kita selalu memiliki pilihan untuk bersikap optimis atau pesimis. Selain itu, menjaga relasi dan silaturahmi juga penting. Dalam ilustrasinya, ketika seseorang berada di gunung tanpa sinyal telepon, kekayaan dan jabatan tidak lagi berarti; yang dibutuhkan justru bantuan sesama. Ini menunjukkan pentingnya hubungan sosial dan networking, termasuk dalam dunia kewirausahaan.


Dalam konteks kepemimpinan, beliau menekankan bahwa leadership tidak bisa dilepaskan dari nilai (values). Kepemimpinan perlu dimulai dari pemahaman kondisi aktual, dilanjutkan dengan perumusan visi-misi, rencana konkret, dan aksi nyata yang didukung integritas, kejujuran, serta konsistensi. Kepemimpinan sejati adalah perpaduan antara kompetensi teknis dan kekuatan karakter.


Terkait entrepreneurship, beliau menyebut tiga unsur penting: opportunity, real, dan value. Opportunity berarti kemampuan melihat peluang dari permasalahan yang ada. Real menekankan bahwa ide harus realistis dan dapat dijalankan. Sementara value berarti usaha harus memberi nilai tambah, baik ekonomi maupun sosial. Beliau juga menyinggung entrepreneurial mindset menurut Thornberry (2006), seperti memiliki internal locus of control, toleransi terhadap ketidakpastian, keberanian bekerja dengan orang yang lebih kompeten, serta konsistensi dalam proses. Memimpin dengan semangat entrepreneur berarti siap mengambil risiko terukur, adaptif, dan fokus pada solusi.


Beliau menegaskan bahwa kemajuan Indonesia sangat berkaitan dengan kekuatan industri. Karena itu, pengembangan SDM terutama di bidang STEM menjadi penting, meskipun bidang non-STEM tetap memiliki peran strategis dan perlu bersinergi. Tantangan yang masih dihadapi adalah belum sepenuhnya selarasnya kebijakan pembangunan dengan kesiapan kualitas SDM.


Setiap tahun sekitar 3,5 juta siswa SMA lulus, namun hanya sekitar 1 juta yang melanjutkan kuliah. Sisanya langsung memasuki dunia kerja. Menurut beliau, Indonesia perlu mendorong lebih banyak entrepreneur, baik dari lulusan perguruan tinggi maupun lulusan SMA, agar pertumbuhan industri dan ekonomi nasional lebih cepat.


Dalam kebijakan nasional, LPDP diposisikan sebagai instrumen strategis pembangunan SDM unggul. Hingga 2025, LPDP telah mendukung ratusan ribu penerima beasiswa dan ribuan program kolaborasi lintas sektor. Fokus kebijakan periode 2021–2026 semakin diarahkan pada STEM dan sektor strategis seperti energi, kesehatan, pangan, pertahanan, maritim, digitalisasi, manufaktur maju, serta hilirisasi industri. Dukungan pada bidang sosial-humaniora tetap dijaga melalui skema SHARE agar pembangunan manusia berjalan seimbang.


Paparan tersebut juga menyinggung tantangan menuju Indonesia Emas 2045, khususnya masih rendahnya jumlah lulusan S2 dan S3 dibandingkan negara lain. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang kuat, diperlukan industrialisasi, riset, pendidikan berkualitas, serta penciptaan lapangan kerja berbasis pengetahuan. Dalam hal ini, LPDP dipandang sebagai investasi jangka panjang negara.


Sebagai penutup, beliau menyampaikan refleksi “I am the center of universe”, yang menekankan tanggung jawab individu atas arah hidupnya sendiri. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan hidup melalui olahraga, istirahat cukup, pola makan sehat, serta silaturahmi. Pesan akhirnya sederhana namun kuat: terus mencintai Indonesia dan berkontribusi sesuai peran masing-masing.