Dr. Desi Hasbiyah 

Sejauh apapun kalian melangkah, pulanglah kedalam negeri karena mencintai negeri adalah bagian dari iman. Hubbul wathon minal iman

#NUScholarship2024





Mempersiapkan diri secara baik dapat berupa pembuatan jejak dan informasi perjalanan diri dalam bentuk curriculum vittae (CV). Prof Khoirul, guru besar Universitas Trunojoyo, memberikan materi tentang bagaimana cara menulis CV yang efektif melalui ruang zoom. 

Beliau menjelaskan bahwa untuk menjadi efektif maka penulis harus memahami bagaimana struktur dan format yang baik dan jelas. 

Isi dalam CV : 

1. Informasi pribadi : nama, alamat, akun profesional (linkedin dst)

2. Pendidikan : daftar pendiidkan mulain dari yang terbaru, nama institusi, gelar, tahun lulus, prestasi akademik

3. Pengalaman kerja ; daftar pengalaman kerja mulai dari yang terbaru. nama perusahaan, jabatan, periode kerja, tugas dan tanggung jawab utama, prestasi dan kontribusi yang signifikan

4. Keterampilan ; teknis dan lunak (bahasa, pemrograman, komunikasi), sertifikasi dan pelatihan yang relevan

5. Prestasi dan penghargaan 

6. Kegiatan ekstrakulikuler dan volunteer ; kegiatan organisasi, relawan dan proyek sosial

7. Referensi ; nama dan kontak dari orang yang dapat memberikan rekomendasi profesional (optional)


Tips menulis CV :

1. Konsisten dalam menuliskan format : menggunakan format yang rapi dan konsisten, font yang mudah dibaca (Arial atau Times New Roman, ukuran 10-12), menggunakan bullet point untuk memudahkan pembaca

2. Gunakan kata kunci : sesuaikan CV dengan kata kunci yang diminta oleh pemberi beasiswa (misalnya)

3. Fokus pada pencapaian : soroti pencapaian degan angka atau data konkrit

4. Singkat dan relevan : pastikan tidak lebih dari 2 halaman, fokus hanya pada informasi yang nyambung/relevan


#NUScholarship2024



Jakarta, 26/06

Dr. Subur Wijaya, M.Pd.I, Ketua Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran Depok, menyampaikan prinsip dan nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Tidak lain tujuan dan upaya hari ini secara lahiriyah dan bathiniyah akan menghasilkan generasi yang Ulul Albab. 


Ahlussunnah wal jamaah:

  1. Ummatan wasthon/ummat yang moderat (al baqarah:143)

  2. Firqah Najiyah/Golongan selamat 

  3. Sawad A’dham/kelompok mayoritas

Keyakinan


Sembrono

Moderat

Berlebihan

Perbuatan manusia

Qadariyah: meyakini manusia punya kendali penuh, dan Allah tidak ada peran apapun

Ahlussunnah: memiliki usaha atas tindakannya, dan Allah punya peran sebagai bayang-bayang kehendak-Nya

Jabariyah: manusia tidak punya daya, semua sudah diatur Tuhan

Sifat Allah

Jahmiyah: Allah tidak memiliki nama dan sifat karena hal itu menyerupai makhluk

Ahlussunnah: Sifat dan nama Allah sebagaimana di Alquran namun hal tersebut tetap dibedakan dengan makhluk

Mujassimah: meyakini Allah memiliki Jisim atau bentuk fisik dan sifat Allah seperti makhluknya

Iman dan Amal

Jahmiyah: Iman tidak memiliki keterkaitan denagn amalnya

Iman dan amal saling terkait, yang melakukan dosa besar imannya berkurang namun tidak sampai kafir

Haruriyah: pelaku dosa besar kafir


Liberalisme: Apa saja boleh dilakukan asalkan merupakan kebaikan

Substansi islam adalah melakukan apa yang dilakukan nabi sesuai kemampuan dan meninggalkan yang dilarang nabi sekuat tenaga.

Puritanisme:
Islam sudah sempurna maka apa saja yang dilakukan rasul adalah boleh


Madzhab dalam Nahdlatul Ulama : 

Hanafiyah - mengikuti Imam Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit (80-148 M)
Malikiyah - mengikuti Imam Malik bin Anas (714-800 M)
Syafi'iyah - mengikuti Imam Muhammad bin Idris al-Syafi'i (767-819 M)
Hanabilah - mengikuti Imam Ahmad bin Hambal (781-855 M)

Madzhab tersebut dipilih disebabkan karena adanya penisbatan pada pendirinya dapat dipertanggungjawabkan dan pemikiran dan idenya terkodifikasian dengan baik. 
_____________________________________

FIKRAH AN NAHDLIYAH

  1. Moderasi: Tawasuth

  2. Proporsional: Tawazun

  3. Toleransi: Tasamuh

  4. Konsistensi: I’tidal

  5. Amar maruf nahi munkar


dalam hal ini Fikrah An Nahdliyah ini dapat diimplementasikan dalam berbagai hal; berbangsa, berpolitik, berbudaya, dalam hal ukhwah bayna al adyan (ukhwah antara umat beragama)

FIKRAH AN NAHDLIYAH PERSPEKTIF KH.AHMAD HASYIM MUZADI

  1. Tawasuth

  2. Tasamuh

  3. Tawazun

  4. I’tidal

  5. Kontekstualisasi dalam berdakwah


#NUScholarship2024


Jakarta, 26/06


M. Najih Arromadloni, biasa disebut Gus Najih, berbagi dengan para penerima beasiswa NU Scholarship (NUS) dari Lakpesdam PBNU tentang bagaimana hidup sebagai kaum minoritas di Negara lain.


Berawal dari belajar di Damaskus, kota terbesar di Syuriyah, yang kemudian berjalan beberapa tahun hingga beliau bertemu dengan kondisi perang disana. Sehingga menjadikan hal tersebut sebagai titik awal konsern beliau dalam mempelajari dan meneliti tentang kaum minoritas dan ekstrimisme.


Wawasan beliau tentang negara minoritas sangat luas. Dan setelah pulang ke Indonesia pun beliau masih tetap sama mengunjungi Poso, Sulawesi. Tempat tersebut berada di ujung Sulawesi yang masih banyak pembunuhan, mutilasi dsb. Sehingga hati beliau tergerak untuk membantu atau berkontribusi dengan keilmuan yang telah dimilikinya untuk mengurangi hal-hal ekstrim disana. Beliau juga membangun kantor berbasis NU dan bahkan Pondok Pesantren NU disana. 


Ekstrimisme merupakan isu masyarakat gelobal di banyak negara, dan bukan tentang Islam tetapi di semua agama. Kaum esktrimisme ini melakukan kejahatan dengan tanpa rasa bersalah, bahkan merasa bangga dengan apa yang telah dikerjakan.


Beliau menceritakan berbagai contoh terorisme atau ekstrimisme di berbagai negara, seperti yang sedang dunia ketahui di Palestina, Thailand Selatan, India, Jepang, dan beberapa negara yang lain. 


Meskipun secara konstitusional banyak negara menjamin kebebasan setiap warga yang berada di negara yang ditempati untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Namun tidak sedikit juga negara yang masih mengakarkan rasisme yang membedakan cara pandang dan perlakuan kepada warga yang berbeda dengan mayoritas agama disana. 


Sebagai intelektual, harusnya kita mengkaji ekstrimisme sampai kepada kajian geolistik. bahwa terorisme dan sebagainya itu bukan hanya berdiri dari negara yang berbasis agama saja, tetapi juga ada campur tangan negara barat. 


Bahkan di Indonesia banyak kelompok besar terorisme yang masih merajalela. Diantaranya adalah Jamaah Islamiyah (JI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Mereka masih menggebu-nggebu mendirikan Negara Islam di Asia Tenggara. Sebagian besar mereka menggunakan landasan Jihad. Sangat disayangkan, padahal makna Jihad sebenarnya sangat baik, yakni bekerja keras. Jadi Jihad sebenarnya dapat dimaknai pada berbagai bidang, tidak hanya isu tentang perang. 


Gus Najih menyebutkan salah satu kisah pada zaman Nabi Muhammad SAW. Terdapat seseorang yang hendak mengikuti perang pada zaman itu, kemudian Ia meminta izin kepada Nabi, dan beliau bertanya "apakah kamu memiliki orang tua yang harus dirawat?", pemuda tersebut menjawab "ya, saya memiliki orang tua yang setiap hari saya rawat". Maka Rosul menjawab "menjaga kedua orang tuamu merupakan salah satu bentuk jihad, jadi kamu sudah tidak perlu ikut berperang"


Artinya banyak faktor yang dapat dimaknai sebagai jihad.


Hidup dan belajar di negara lain tentu tidak akan jauh dan terlepas dari hal-hal minoritas. Jika tidak dibekali dengan ideologis dan landasan yang kuat, maka akan sangat rawan jika nanti tidak dapat menyelesaikan pendidikan, atau bahkan tidak dapat kembali ke Tanah Air Indonesia. 


Jika banyak kisah bahwa hidup di tempat minortas nanti akan menemukan beberapa kesulitan, termasuk beribadah, bersosial dan lain sebagainya. Dari hal tersebut, Gus Najih mengatakan bahwa kita sebagai kader NU dan juga santri harus dapat memposisikan dan menyesuaikan diri dimana kita berada. Tentu budaya, tradisi dan aturan hukum setempat harus tetap dihargai. 


Teringat dawuh Gus Ulil dalam beberapa kesempatan yang lalu, bahwa jika kita menemukan kesulitan yang sedikit tidak sesuai dengan apa yang menjadi kebiasaan kita, kemudian dapat berlaku kaidah fiqhiyyah: al-'aadatu muhakkamatun, bahwa tradisi yang berlaku dapat dijadikan ketentuan hukum dalam bersosial dan menjalankan kehidupan dengan nyaman. Artinya, agar tidak selalu kaku dan saklek dengan kotak pemikiran-pemikiran yang berbeda, maka harus berfikir secara luwes dan rendah diri tapi tetap dalam spektrum atau bingkai aturan yang benar sesuai dengan yang pendahulu-pendahulu jamiyyah Nahdlatul Ulama rumuskan dan tetapkan. 


#NUScholarship2024


Jakarta, 26/06

Hari kedua karantina NU Scholarship diisi dengan materi tentang bagaimana membuat CV dan Essay yang diperlukan untuk pendaftar beasiswa dan kampus tujuan. 


Di ruang perpustakaan Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Ir. Drs. Abdul Rahman Ma'mun, MIP membuka kelas siang dengan pemahaman apa arti dari CV dan Essay. Beliau menyampaikan bahwa CV atau curriculum vitae merupakan perjalanan penting kehidupan penulis. Sehingga sangat penting memahami bagaimana cara membuat cerita perjalanan kita menjadi sangat menarik. 


"Nama kita adalah suara paling merdu dari suara apapun"


Kalimat pembuka yang paling kami ingat pada saat itu. Mas Aman, nama yang familiar beliau, mengibaratkan pada saat perjalanan di dalam bandara, stasiun atau tempat umum. Ketika saat itu kami fokus dengan ponsel masing-masing sembari menunggu jadwal keberangkatan atau penjemputan, semua informasi yang muncul dari mikrofon informan pasti tidak akan terdengar. Tetapi jika nama kita disebut atau dipanggil, secara otomatis kita akan spontan merasa terpanggil dan mencari sumber suara tersebut. 


Sehingga sebenarnya menulis CV itu penting, karena bagaimana kita akan menceritakan siapa kita dengan segala pengalaman di masa lalu. 

CV sebaiknya berisi tentang latar belakang akademis, pengalaman kerja, keterampilan, dan prestasi. Sedangkan konteks dari CV sendiri itu adalah melihat kualifikasi dan potensi akademisi. Jika itu membuat CV dengan tujuan akademisi. 

Sedangkan essay sebagian berisi tentang inspirasi, aspirasi dan mungkin tentang cita-cita tentang apa yang ingin kita lakukan di dunia yang sebagian besar untuk masa depan. 


Isi dari essay biasanya berupa sejarah masa depan. Mas Aman menyampaikan bahwa Essay diciptakan untuk menunjukkan motivasi, tujuan karier, dan program studi yang dipilih yang akan membantu mereka mencapai tujuan tersebut. 


"Essay yang baik adalah essay yang mampu menghubungkan latar belakang pelamar dengan tujuan masa depan mereka, serta menunjukkan komitmen dan kesiapan untuk berkontribusi di bidang studi yang dipilih", sambung beliau. 


Jadi pembuatan CV dan essay ini merupakan bagian dari persiapan diri untuk tujuan jangka panjang di masa depan. Sehingga beliau berkali-kali menyampaikan agar kita selalu fokus dan serius dalam menuangkan segala prestasi dan hal yang dapat menjual nama kita dalam masing-masing tujuan yang ingin dicapai. 


#NUScholarship2024


 


Jakarta, 24 Juni 2024

Berlokasi di Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, sebanyak 20 penerima beasiswa NU Scholarship (NUS) menghadiri pembukaan karantina yang diadakan oleh Lakpesdam PBNU. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda besar dari serangkaian kegiatan yang diberikan oleh Lakpesdam kepada penerima beasiswa setelah menjalani proses persiapan Bahasa Inggris selama 3-4 bulan. 


Dihadiri oleh Dr. Syauqillah, M.Si selaku Direktur NUS dan Prof. Dr. KH. Arif Zamhari, M.Ag., Ph.D selaku Ketua Yayasan Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, serta seluruh tim internal dan panitia ikut serta pada kegiatan pada pagi hari itu. Acara ini mendapat apresiasi penuh dari Prof. Arif karena menjadi momentum bagi para penerima beasiswa untuk mempersiapkan studi di luar negeri yang sebagian besar difokuskan pada bidang Sains, Technology, Engineering dan Mathematics (STEM). Karena pada dasarnya saat ini kader NU sebagian besar telah tersebar di luar negeri dengan bidang Islamic Studies. Beliau merasa bangga menjadi bagian yang ikut andil dalam menyukseskan kegiatan karantina tersebut. 


Prof. Arif juga berkesempatan menceritakan pengalaman belajar di Zona Australia dan menjadi Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand (ANZ) pertama pada tahun 80-an. Dimana pada saat itu beliau merasa jika ternyata banyak kader-kader NU yang tersebar di banyak penjuru dunia, tetapi belum ada data yang mendokumentasikan hal itu secara baik. Dengan adanya PCINU-ANZ ini sangat diharapkan dapat mengumpulkan keluarga NU disana, sehingga meskipun jauh dari keluarga tetapi para mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri tetap menemukan rumah untuk berbagi dan kembali. 


Sebagai pembuka sesi pada pagi hari itu, beliau sangat bersemangat berbagi pengalaman dalam mencari ilmu di luar negeri, termasuk cross culture, adaptasi dengan lingkungan yang baru, dan menghadapi segala kesulitan disana. 


Di kesempatan yang sama, Direktur NUS juga menyampaikan bahwa memang benar jika para kader-kader NU yang berada di luar negeri harus memiliki wadah seperti PCINU tersebut. Sehingga melalui NU Scholarship ini akan mempersiapkan banyak kader yang kemudian dikirim ke segala penjuru dunia. Saat ini NUS menjadi platform besar yang mengakomodir beberapa segmentasi beasiswa yang ada di PBNU, seperti beasiswa santri RMI NU, LP Ma'arif, peradaban, vokasi dan pendampingan S2-S3 Luar Negeri. Harapannya semua data pendaftar beasiswa dari kader NU akan terdokumentasi dengan baik di dalam website NUS. 


Setelah kegiatan dibuka oleh pak Direktur, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan pemaparan terkait agenda dan ketentuan yang akan dilakukan selama satu bulan karantina. Seluruh rangkaian kegiatan ini memiliki harapan kepada para penerima beasiswa NUS untuk terus fokus pada persiapan mendaftar beasiswa dan kampus tujuan. Sehingga setelah kegiatan selesai dilaksanakan semua peserta dapat melengkapi persyaratan administrasi dan mulai mendaftar pada kampus bahkan supervisor masing-masing. 


#NUScholarship2024

Lima belas tahun yang lalu, pertama kita bertemu


Mungkin pada saat itu aku masih memikirkan bagaimana agar tidak canggung berinteraksi denganmu. Logat Tambakboyo Tuban yang sangat khas membuatku dengan mudah mendeteksi suaramu yang yaah agak keras juga sih kalo ngobrol atau bahkan tertawa dari dalam kamar. Ternyata kedekatanku dan kamu pada saat itu tidak hanya sebatas teman sekolah, tetapi lebih jauh dari itu, malah jadi keluarga versi jarak jauh yang dulu mungkin selalu ingin saling tau. 


Dan akhirnya jeda membuat aku dan kamu tidak saling khawatir, karena memang sudah ada keluarga masing-masing. Wajar sih, fase tumbuh dan hidup ala orang dewasa membuat aktifitasku dan kamu menjadi sangat penuh dan tidak ada ruang untuk berbagi seperti dulu. Meskipun kadang aku dan mungkin juga kamu sempatkan untuk intip dan scroll halaman sosial media masing-masing, yang berlanjut dengan balas story dan hanya berubah status menjadi "seen" tanpa ada satu dua kata balasan yang terketik kembali. Yah biasanya emang gitu sih, anak muda jaman sekarang suka ilang-ilangan. 


Mungkin itu hanya sedikit pengantar klise, yang semua orang juga pasti alamin kalo lagi iseng dan mungkin kangen sama siapapun itu.


Yang jelas, setelah aku membaca ulang pesan kita berdua, ternyata dibalik semua itu selalu kita sempatkan untuk mendoakan satu sama lain, meskipun doanya juga itu itu aja sih. 

"Semoga bisa segera ketemu ya mak.. 

"Semoga nanti ketemu ya nyan.. 

"Sehat selalu yaaa..

Ah bosan sekali.


----------------------------------


Mak, hari ini, sekitar jam 10 pagi aku mendengar kabar yang rasanya tidak ingin aku dengarkan. Maaf kalo aku langsung spontan share ke grup dan kontak yang memungkinkan untuk memberi kejelasan. Tanpa aku konfirmasi langsung ke nomor Whatsappmu. Tadinya aku mau langsung pencet tombol tilpun di nomormu, tapi aku takut.. takut kalau kabar itu ternyata memang benar adanya.


Dan satu jam setelahnya, melalui kabar Mas Dhana, ternyata mamak sudah tenang bahagia.


Mak aku pastikan semua yang pernah berinteraksi denganmu meyakini bahwa kebaikan dan ketulusanmu akan menjadi jalan terbaikmu. 


Mak, aku kehilangan.. benar-benar kehilangan 


Sudah, aku tak sanggup melanjutkan bercerita, tadinya mau mengenang semua jejak cerita kita berdua yang mungkin tidak begitu menarik ya mak. Tapi ternyata aku lebih memilih untuk mendoakanmu dalam diam dan menyimpan semua kisah bersama dalam keabadian.

Bertemu lagi nanti di Surga ya Mak.. 

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ


Nur Indriyani Dhita Hapsari, 

Wafat di Tuban, 14 Mei 2024